Rabu, 11 Januari 2012

metodologi penelitian






















KUMPULAN MAKALAH
METODOLOGI PENELITIAN
DOSEN PENGAMPU : MAMIK ROSITA, M.Pd.I







OLEH
SEMESTER  V



PROGAM SARJANA (S1), JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
AL URWATUL WUTSQO
JOMBANG 2011/ 2012
EPENELITIAN KUANTITATIF
BAB I
PENDAHULUAN

1.1                Latar Belakang
Penggunaan pendekatan dalam sebuah penelitian didasarkan pada tujuan dari itu sendiri, namu belakangan ini sebuah metode penelitian kwalitatif yang mulai diperkenalkan pada tahun 1990 mulai banyak dilirik sebagai metode yang modern apabila dibnading dengan metode penelitian kuantitatif yang dianggap sebagai metode tradisional, tentu saja kita harus memilih metode yang sesuai dengan tujuan penelitian kita.[1]
Metode penelitian kuantitatif memiliki cakupan yang sangat luas. Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen kuasi, subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey, ex post facto, histories dsb.

1.2                Berdasarkan latar belakandi atas, maka muncullah beberapa masalah ang menyangkut dengan jenis jenis penelitian diantaranya:
1.       Apasaja jenispenelitian dilihat dari pendekatan analisisnya?
3.       Apa saja jenis pendekatan dalam pendekatan dalam penelitian kuantitatif?
4.       BAgaimana tahapan penelitian kuantitatif
1.3                Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, setelah membahas makalah tentag jenis-jenis penelitian diharapkan mahasiswa mampu :
1.       Mahasiswa mengetahui tentang jenis penelitian dilihat dari pendekatan analisisnya.
2.       Mahasiwa mengetahui paradigma penelitian kuantitatif.
3.       Mahasiswa mengerti tentang  jenis pendekatan dalam pendekatan dalam penelitian kuantitatif.
4.       Mahasiwa mengerti tahapan penelitian kuantitatif.
5.        
BAB II
PEMBAHASAN
2.1          Jenis-jenis Penelitian dilihat dari Pendekatan analisnya
                Macam penelitian dapat pula dibedakan dari “bentuk” datanya, dalam arti data berupa data kuantitatif atau data kualitatif. Data kuantitatif diartikan sebagai data yang berupa angka yang dapat diolah dengan matematika atau statistik, sedangkan data kualitatif adalah sebaliknya (yaitu: datanya bukan berupa angka yang dapat diolah dengan matematika atau [2]statistik). Meskipun demikian, kadang dilakukan upaya kuantifikasi terhadap data kualitatif menjadi data kuantitatif. Misal, persepsi dapat diukur dengan membubuhkan angka dari 1 sampai 5.[3]
Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivism. Metode ini sebagai metode ilmiah karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu kongkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut sebagai metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistic.2
Penelitian yang datanya berupa data kuantitatif disebut penelitian kuantitatif. Dalam penelitian seperti itu, sering dipakai statistik atau pemodelan matematik. Sebaliknya, penelitian yang mengolah data kualitatif disebut sebagai penelitian kualitatif. Berkaitan dengan macam paradigma (positivisme, rasionalisme, fnomenologi) yang dibahas di bagian berikut, macam penelitian dapat dikombinasikan, misal: penelitian rasionalisme kuantitatif, penelitian rasionalisme kualitatif (misal: penelitian yang mengkait pola kota atau pola desain bangunan).4  Penelitian kuantitatif memiliki ciri-ciri yang menonjol, yaitu :
1.       Adanay Hipotesis
2.       Adanya pengunaan alat ukur yang jelas
3.       Adanya rumusan normatif matematis
4.       Adanya pengujian hipotesis
5.       Adanya analisis stastitiska
6.       Adanya roses generalisasi[4]

2.2          Paradigma penelitian Kuantitatif
                Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115). Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab
pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut. Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigm mempunyai keunggulan-keunggulan. Penggabungan kedua pendekatan diharapkan dapat meminimalkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dikedua paradigma.
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan
2.3          Jenis pendekatan dalam penelitian kuantitatif
                Dalam penelitian kuantitatif juga menggunkan berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam penelitian, pendekatan atau metode yang digunakan dalam penelitian dipilih sesuai dengan tujuan dari penelitian tersebut, diantara pendekatan-pendekan yang akan dikupas dalm makalah ini adalah diantaranya pendekatan Deskriptif, komparatif, Asosiatif, Penelitian eksperiment, Penelitian Expost Facto ( kausilitas) dan Penelitian survey.

2.3.1       Deskriptif
                Penelitian Deskriptif adalah sesuatu penelitian yang diupayakan untuk mencandra atau mengamati permasalahan secara sistematis dann akurat mengenai fakta dan objek tertentu.  Penelitian deskriptif ditujukan untuk memaparkan dan menggambarkan dan memetakann fakta-fakta berdasarkan cara pandang atau kerangkaa berfikir tertentu deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merpakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist).  Jenis penelitian yang termasuk dalam paradigma penelitian kuantitatif dibedakan berdasarkan tujuan penelitian dan karakteristik masalah.
Penelitian deskriptif  bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

2.3.2.      Komparatif
                Penelitian komparatif adalahpenelitian yang dilakukan untuk menggambarkan dua atau lebih fakta dan sifat objek yang diteliti. Penelitiaan dilakukan dengan membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta tersebut berdasarkan kerangka berfikir tertentu. Penelitian ini ditujukan untuk membuat generalisasi tingkat perbandingan berdasarkan cara pandang atau kerangka berfikir tertentu. Hal ini[5] karena tujuan dan sifatnya, penelitian komparaif dilakukan terhadap dua atau lebih variable penelitian.
Penelitian Kausal-Komparatif,merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa sebab akibat antara 2 variabel atau lebih. Penelitian ini merupakan tipe penelitian ex post facto.
2.3.3       Asosiatif ( korelatif)
                Penelitian korelasi berkaitan dengan pengumpulan data untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan anntara dua variabel atau lebih dan tingkat hubungannya. Setelah dat dihimpun dan disusun secar sistemaatis, study korelasional berupaya mencari hubungan di antara variable-variabel yang diteliti. Study korelasional ditujukan untuk meneliti sejauh mana variable pada satu factor berkaitan dengan variable pada factor lainnya. Jika hanya dua variable yang dihubungkan, Study korelasi tersebut disebut korelasisederhana. Adapaun jika lebih dari dua buah variable yang dihubungkan disebut korelasi berganda ( Mulpiple correlation)( M. Iqbal Hasan, 2002: 23)
2.3.4       Penelitian Eksperiment
                Metode eksperiment adalah satu-satunya metode penelitian yang dianggappaling tepat untuk menguji hipotesis mengenai hubungan sebab akibat. Secara sistematis dan logis, metode ini menjawab pertanyaan, “Jika penylidikan dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, apakah yang akan terjadi?” (Sumanto, 1995: 113). Metode eksperimental merupakan metode penelitian yang mmungkinkan peneliti memanipulasikan variable dan meneliti akibat-akibatnya. Pada metode ini, variable-variabel dikontrol sedemikian rupa sehingga variable luar yang mungkin mempengaruhi dapat dihilangkan.
                Inti penelitian eksperimen adalah upaya mengamati dan mengukur hasil manipulasi peneliti terhadap situasi dan objek  tertentu. Penelitian eksperiment ditandai oleh tiga hal penting, yaitu: 1. Adanya manipulasi terhadap objek penelitian untuk mengubah keadaan tertentu scara sistematis; 2. Adanya observasi untuk mengamati dan mengukur hasil manipulasi; 3. Adanya control yang mengendalikan kondisi –kondisi penelitian ketika berlangsungnya manipulasi (M. Iqbal Hasan, 2002: 24)
Penelitian Eksperimen,merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah yang sama dengan penelitian kausal komparatif, tetapi dalam penelitian eksperimen peneliti melakukan manipulasi atau pengendalian (control) terhadap setidaknya satu variable independen.
2.3.5       Penelitian Expost Facto ( kausilitas)
Penelitian dengan rancangan ex post facto sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi karena perkembangan suatu kejadian secara alami.
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang variabel-variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.1
Penelitian eksposfakto merupakan penelitian dengan cara mencari penyebab atas akibat yang sekarang terjadi atau mencari akibat lanjut dari peristiwa yang telah terjadi.
2.3.6       Penelitian Survey
Penelitian survey digunakan untuk melakukan penarikan kesimpulan secara umum (generalisasi) dan sampel yang ditentukan. Dalam penelitian ini, sampel berfungsi sebagai penduga terhadap populasi penelitian. Pada mumnya penelitian survey menggunakan data yang relative banyak dan besar, walaupun bukan keharusan (cik Hasan Bisri, 1999:55). Penelitian survey merupakan penelidikan dengan gerak kearah meluas dan merata.  Karena sampel besar yang dihadapi dalam satu masa tertentu, penelitian ini menghasilkan data kuantitatif yang menggambarkan secara umum keadaan sampel yang diselidiki. Contohnya adalah penelitian tentang sebaran Lulusan IAIN Sunan Gunung Jati Dalam lapangan Kerja.        Penelitian survei merupakan penelitian yang datanya dihimpun dengan cara self report, artinya pihak yang diteliti diminta untuk melaporkan data tentang hal-hal yang diteliti yang ada pada diri mereka. Oleh karena itu dalam penelitian survey, pihak yang diteliti disebut dengan istilah responden. Pelaporan data dari responden dihimpun dengan wawancara (interview) atau dengan cara mengisi angket (questionnaire).
2.4          Tahapan Penelitian Kuantitatif
                Seperti yang telah diketahui bahwa prinsip dari penelitian adalah memecahkan masalah.
                Berdasrkan gambar diatas, Setiap penelitian selalu diawali dengan adanya masalah, namun masalah yang dibawa peneliti kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam penelitian kuantitatif masalah yang dibawa harus jelas, sedangkan masalah yang dibawa penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan.
                Setelah masalah diidentifikasikan, dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumussan masalah pada umuumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan. Dengan pertanyaan ini malka akn dapat memandu penelti untuk kegiatan penelitian selanjutnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menggunakan berbagai teori untuk menjawabnya. Jadi teori dalam penelitian kantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah tersebut. Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru menggunakan teori tersebut dinamakan hipotesis, maka hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Hipotesis yang masih merupakan jawaban sementara tersebut, selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris/ nyata. Untuk itu peneliti melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkanoleh peneliti. Bila populasi terlalu luas, sedangkan peneliti memiliki keterbatasn waktu, danadan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil darin populasi tersebut.
Data setelah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang telah diajukan. Dalam penelitian kuantitatif data analis data menggunakan statistic.
Setelah data dianalisis maka akan didapatkan dat yang berupa kesimpulan, kesimpulan tersebut akan dicocokan kembali dengan tujuan dari penelitian itu sendiri dan apakah hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut telah sesuai dengan hipotesa hipotesa yang telah diajukan.5
Atau tahapan secara umum penelitian secara lebih sederhana adalah sebagai berikut.
1.       Tahapan perencanaan meliputi
a.       Memilih masalah yang layak diteliti
b.       Studi eksplorasi (merumuskan latar belakang masalah)
c.        Merumuskan dan membatasi masalah, yang mencakup judul dan pertanyaan penelitian
d.       Merumuskan tujuan dan manfaat penelitian
e.        Mengadakan study kepustakaann dan merumuskan anggapan dasar
f.        Merumuskan hipotesis
g.        Merumuskan metode penelitian atau pengumpulan data yang mencakup.
1)       Jenis data
2)       Sumber data (lokasi, populasi, dan sampel)
3)       Metode dan teknik pengumpulan data
4)       Alat analisis data
2.       Tahap pelaksanaan meliputi
a.       Pengumpulan data
b.       Analisis data (teknik-teknik analisis data, dan pengujian hipotesis)
c.        Penarikan kesimpulan
3.       Tahap pelaporan dan publikasi
a.       Pembuatan laporan
b.       Publikasi. [6]



BAB III
PENUTUP
3.1          Kesimpulan
                Macam penelitian dapat pula dibedakan dari “bentuk” datanya, dalam arti data berupa data kuantitatif atau data kualitatif. Metode kuantitatif  merupakan penelitian yang menggunakan data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistic.
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan.
Dalam penelitian kuantitatif juga menggunkan berbagai macam metode yang dapt digunakan dlam penelitian, pendekatan atau metode yang digunakan dalam penelitian dipilih sesuai dengan tujuan dari penelitian tersebut, diantara pendekatan-pendekan yang akan dikupas dalm makalah ini adalah diantaranya pendekatan Deskriptif, komparatif, Asosiatif, Penelitian eksperiment, dan Penelitian Expost Facto ( kausilitas).
                Pelaksanaan melakukan penelitian kunantitatif tidak sama dengan prosedur penelitiab kualitatif, pelaksanaan penelitian kuantitatif diantaranya, Merusmuskan masalah, Mengumpulkan sumber sumber yang relevan yang digunakan untuk menyusun hipotesa-hipotesa, dan kemudian hipotesa tersebut diuuji kebenarannya dengan melaksanakan penelitian, setelah penelitian dilaksanakan maka dapat ditarik kesimpulkan untuk mencari hasil dari penelitian kuantitatif.










DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. PROSEDUR PENELITIAN, Rineka Cipta: jakarta2002.
Sugiyono, METODE PENELITIAN KUANTITATIF KUALITATIF DAN R & D, ALFABETA: Bandung, 2010
Kusnandar, LANGKAH MUDAH PENELITIAN TIDAKAN KELAS, PT. Rajawali Pers: Jakarta, 2010
Subali , Bambang, METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI (e-book), Universitas Negeri Jogjakarta, 2010
Fahurrahman, Pupuh, METODE PENELITIAN. Pustaka Setia: Bandung, 2011





prosedur penelitian
BAB I
PENDAHULUAN

A.              LATAR BELAKANG

Tanpa adanya penelitian, pengetahuan tidak akan bertambah maju. Padahal pengetahuan
adalah dasar semua tindakan dan usaha, jadi penelitian sebagai dasar untuk meningkatkan
pengetahuan , harus diadakan agar meningkat pula pencapaian usaha – usaha manusia.
Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan kegiatan penelitian yaitu : sistematis,
berencana, dan mengikuti konsep ilmiah. Dan untuk memenuhi persyaratan – persyaratan
tersebut ada prosedur yang harus dijalani oleh peneliti. Dan ini yang akan berusaha dibahas
oleh sang penulis dalam makalah ini, semoga apa yang dibahas bisa memberikan pemahaman
kepada para mahasiswa sebagai calon peneliti agar dapat menjalankan penelitian dengan baik
sehingga mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan yang signifikan dan berguna bagi diri dan
orang lain.

B.             RUMUSAN MASALAH
A.             Bagaimana Perencanaan dan Prosedur Penelitian yang mencakup poin – poin berikut?
a.       Mengidentifikasi masalah
b.       Penelaah kepustakaan
c.        Penyusunan hipotesis
d.       Variable
e.        Alat pengambilan data
f.        Sampel
g.        Pengumpulan dan pengolahan data
h.       Penyusunan laporan


C.              TUJUAN PEMBAHASAN
A. Mahasiswa memahami rencana dan prosedur penelitian yang meliputi :
a.       Identifikasi masalah
b.       Penelaah kepustakaan
c.        Penyusunan hipotesis
d.       Variable
e.        Alat pengambilan data
f.        Sampel
g.        Pengumpulan dan pengolahan data
h.       Penyusunan laporan


BAB II
PEMBAHASAN


A.      PERENCANAAN DAN PROSEDUR PENELITIAN

1.       IDENTIFIKASI MASALAH
Sebelum kita menelaah lebih lanjut terlebih dahulu kita cermati pengertian dari masalah itu sendiri. Masalah adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya ada (das sollen) dengan kenyataan yang ada (das sein).
Untuk meningkatkan kemampuan melihat dan menetapkan suatu masalah yang perlu diteliti, maka seorang peneliti harus giat mencari masalah dari sumber sumbernya[7]
Adapun yang menjadi sumber utama permasalahan ialah:
a)       Bacaan
Seseorang peneliti harus rajin membaca, terutama jurnal – jurnal penelitian atau laporan penelitian. Karena pada umumnya penelitian ilmiah jarang menjawab permasalahan dengan tuntas. Bahkan suatu penlitian itu member rekomendasi tertentu untuk diteliti lebih lanjut.
b)       Seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah
Peserta – peserta seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah membawa makalah – makalah yang memecahkan permasalahan menurut bidangnya masing – masing. Mungkin saja masalah itu perlu diteliti pula dari segi ilmu yang lain.
c)       Pernyataan dari orang yang memiliki otoritas
Sering dalam ceramah atau pernyataan seorang pejabat tinggi, misalnya seorang menteri bahwa ada suatu masalah yang harus dipecahkan. Atau pernyataan ahli – ahli tertentu yang disiarkan melalui media massa mengenai suatu pemasalahan. Sehingga seorang peneliti tergugah untuk menelitinya.
d)       Pengamatan sekilas
Mungkin seorang ahli ketika melakukan perjalanan dinas melihat suatu gejala yang tidak sehat yang perlu dipecahkan. Untuk pemecahannya harus diadakan penelitian terlebih dahulu[8].
e)       Pengalaman pribadi
Dari pengalaman pribadi seorang yang berminat dalam penelitian mungkin muncul suatu pernyataan yang mendorong ia melakukan penelitian.


f)        Perasaan dan ilham
Dalam benak seorang peneliti yang sudah berpengalaman, mungkin tiba – tiba muncul suatu pertanyaan yang mendorong melakukan penelitian. Mungkin saja pertanyaan itu tiba – tiba ia rasakan ketika ia sedang santai dengan anggota keluarganya[9].

2.       PENELAAH KEPUSTAKAAN
Pencarian dan penelusuran kepustakaan atau literature yang berhubungan dengan masalah  penelitian sangat diperlukan. Penelitian tidak dilakukan di ruang kosong dan tidak pula dapat dikerjakan dengan baik, tanpa basis teoritis yang jelas. Penelitian kekinian sesungguhnya menelusuri atau meeneruskan peta jalan yang telah dirintis oleh peneliti terdahulu (Danim Sudarwan, 2001:105)[10]
Dengan membaca dan mengenal pengalaman orang lain, berarti mencari teori – teori, konsep – konsep, dan generalisasi – generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan itu.
Dalam usaha mengenal pustaka, ada patokan – patokan yang kiranya dapat dijadikan pedoman:
a)       Pelajari hasil apa yang telah atau pernah didapat oleh orang lain dalam bidang penelitian yang bersangkutan
b)       Pelajari metode penelitian apa yang telah dipergunakan, termasuk metode pengambilan contoh, metode pengumpulan data, metode pengolahan data , sumber data, satuan – satuan, ukuran dan kriteria – kriteria.
c)       Kumpulkan data dari sumber lain yang ada, yang bersangkut paut dengan proyek penelitian yang akan dikerjakan.
d)       Pelajari faktor – faktor deskriptif dan historis yang ada, yang akan merupakan latar belakang dari problema yang akan dating.
e)       Pelajari analisis dedukatif dari problema yang teah dilakukan oleh orang lain[11].
Terdapat banyak sumber literature yang dapat digunakan dalam penelitian social dan pendidikan. Adapun jenis – jenis sumber literature / kepustakaan, sebagai berikut:
1)       Buku teks (text book) Dan Tesis, Desertasi.
2)       Jurnal
3)       Abstrak dan indeks
4)       Media cetak (Majalah, Surat Kabar Harian)
5)       Media elektronik (TV, Radio, Internet)[12].
3.       PENYUSUNAN HIPOTESIS
Setelah peneliti mengadakan penelaahan yang mendalam terhadap berbagai sumber untuk menetukan anggapan dasar, maka langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis.
Secara etimologi hipotesis berasal dari 2 kata yakni hypo yang artinya dibawah dan thesa yang artinya kebenaran, sedangkan secara terminologi Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam penelitian. Oleh karena itulah maka dari peneliti dituntut kemampuannya untuk dapat merumuskan hipotesis ini dengan jelas. Seorang ahli bernama borg yang dibantu oleh temannya Gall (1979:61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut:
1.       Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas
2.       Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel
3.       Hipotesis harus didukung oleh teori – teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan[13]
Ada 3 macam bentuk rumusan masalah da hipotesis penelitian yaitu :
1)       Hipotesis deskriptif (variabel tunggal, mandiri)
Merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yang berkenaan dengan variable mandiri.
2)       Hipotesis variabel komparatif (variabel  perbandingan)
Ada tiga medel hipotesis yaitu: hipotesis nol, hipotesis alternative dan hipotesis statistik.
3)       Hipotesis variabel asosiatif (variabel hubungan)
Terdapat hipotesis kerja dan hipotesis nul, dan dinyatakan dalam kalimat positif dan kalimat negatif.
Ho: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan
komitmen organisasi.
Ha: terdapat hubungan signifikan antara kecerdasan emosi dengan komitmen
organisasi[14].

4.       VARIABEL
Istilah variabel merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalan setiap jenis penelitian.
Variabel dapat dibedakan atas yang kuantitatif dan kualitatif. Contoh variabel kuantitatif misalnya: luas kota, umur, banyaknya jam dalam sehari, dan sebagainya. Sedangkan contoh variabel kualitatif misalnya: kemakmuran, kepandaian, dll[15]
menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam – macam variabel dalam pnelitian dapat dibedakan menjadi:
a.       Variable Independen (bebas) : adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen .
b.       variabel Dependen (terikat) :  Adalah variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variable bebas.
c.        Variable Moderator : adalah variable yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variable independen dengan dependen.
d.       Variable intervening: adalah variable yang secara  teoritis mempengaruhi hubungan hubungan antara variable independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
e.        Variable Kontrol : adalah variable yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variable independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti[16].

5.       ALAT PENGAMBILAN DATA
Secara umum ada empat macam instrumen pengambilan data data yaitu:
Ø  Tes
Adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Ø  Observasi[17]
Di dalam menggunakan teknik observasi cara yang peling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item – item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Adapun mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kedalam suatu skala bertingkat.
Ø  Wawancara
Esterberg mendefinisikan interview sebagai berikut “Wawancar adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu[18].
Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara:
a)         Terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Jenis interview ini cocok untuk penelitian kasus
b)         Terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list[19].
c)          Semiterstruktur, yaitu wawancara yang pelaksanaanya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur, tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang dimintai wawancara diminta pendapat dan idenya[20].
Ø  Dokumentasi
Yaitu mencari data mengenai hal – hal atau variabel yang berupa transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dll.
Dibandingkan dengan yang lain, maka metode ini agak mudah, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetapi belum berubah[21].
Ø  Kuesioner atau angket
Adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal – hal yang ia ketahui

6.       SAMPEL
Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, populasi misalnya penduduk di wilayah tertentu, jumlah guru dan murid di sekolah tertentu dll
Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut ini:
a.  Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi
b.  Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil – hasil kepenelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan – kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas (Sutrisno Hadi, 1980: 70)[22]
Pada prinsipnya ada dua macam teknik persampelan yang lazim digunakan dalam penelitian yaitu:
1.       Probability Sampling
Probability adalah pengambilan sampel secara acak (random) dengan memberikan peluang yang sama seluruh populasi untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Untuk mendapat sampel secara random biasa dilakukan dengan undian atau menggunakan table bilangan random. Adapun teknik sampling ini meliputi, sebagai berikut:
Ø  Pengambilan Sampel acak / Random Sederhana (Simple Random Sampling)
Pengambilan sampel ini memungkinkan setiap individu berpeluang untuk menjadi sampel penelitian, dengan cara rendomisasi atau undian.
Ø  Pengambilan sampel acak berstrata (Stratified Random Sampling)
Teknik pengambilan sampel yaitu sampel penelitian atau responden ditentukan menggunakan strata keluarga (Mallo dalam sartika, 1985:123)
Ø  Pengambilan Sampel Menurut Area/Daerah Sederhana (Simple Cluster Sampling)
Untuk melakukan teknik sampel dengan Simple Cluster Sampling, peneliti mempunyai dua langkah yaitu: menentukan sampel wilayah kemudian menentukan sampel orang yang mewakili populasi penelitian.
2.       Nonprobability Sampling
Merupakan pengambilan sampel yang tidak member peluang yang sama bagi mewakili populasi untuk dipilih menjadi sampel penelitian, atau pengambilan sampel yang dipilih dengan non random, biasanya disebut dengan sampel tetap (fixed).
Adapun teknik persampelan yang selalu digunakan adalah sebagai berikut:
Ø  Pengambilan Sampel Sistematis (systematis sampling)
Dilakukan dengan sistematis berdasarkan nomor urutan populasi
Ø  Pengambilan sampel tujuan (Purposive Sampling)
Dilakukan berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya dengan pertimbangan tertentu.
Ø  Pengambilan Sampel Quota (Quota Sampling)
Pengambilan sampel dari populasi sekedar memenuhi jumlah quota yang telah ditentukan dan diinginkan oleh penelitii sesuai kebutuhan penelitian[23].

7.       PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Setelah data – data diambil kemudian data tersebut dikumpulkan dan disusun untuk diolah, dan didalam menyusun data ada hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a)       Hanya memasukkan data yang penting dan benar – benar dibutuhkan
b)       Hanya memasukkan data yang persifat objektif
c)       Hanya memasukkan data yang autentik
d)       Perlu dibedakan antara data informasi dengan kesan pribadi responden.
Dalam pengolahan data kegiatan yang dilakukan adalah:
a)       Pengklasifikasian data, yaitu menggolongkan aneka ragam jawaban itu kedalam kategori – kategori yang jumlahnya lebih terbatas
b)       Koding, yaitu usaha mengklasifikasikan jawaban – jawaban responden dengan jalan menandai masing – masing kode tertentu.
c)       Tabulasi, yaitu usaha penyajian data, terutama pengolahan data yang akan menjurus ke analisis kuantitatif.

8.       PENYUSUNAN LAPORAN
Di dalam menulis laporan penelitian, kita seperti sedang bercerita. Agar apa yang kita ceritakan dapat dipahami oleh pembaca, maka harus diperhatikan persyaratan – persyaratan tertentu.
Penelitian adalah suatu kerja ilmiah, maka laporan yang dibuat harus mengikuti aturan – aturan penulisan karya ilmiah.
a)       Penulis laporan harus tahu betul kepada siapa laporan itu ditujukan.
b)       Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti kegiatan proses penelitian. Oleh karena itu langkah demi langkah harus dikemukakan secara jelas termasuk alasan – alasan mengapa hal itu ia lakukan.
c)       Peulis laporan harus mengemukakan dengan jelas letak dan kedudukan hasil penelitiannya dalam konteks pengetahuan secara umum.
d)       Dalam menulis laporan, yang dipentingkan adalah jelas dan meyakinkan.
Contoh format laporan:
1.       Halaman judul
2.       Pengantar kata
3.       Daftar isi
4.       Daftar table
5.       Daftar gambar / ilustrasi atau diagram – diagram
Gambar laporan 
Bab I.                     Pendahuluan
A.        Permasalahan
B.        Rumusan permasalahan
C.        Tujuan penelitian
Bab II.                   Penelaah Kepustakaan/kajian pustaka
A.      Penemuan yang lalu
B.      Teori yang mendasari
C.      Ringkasan dan kerangka piker peneliti
D.      Hipotesis
Bab III. Metodologi
A.      Pemilihan subjek, (populasi, sampel (cuplikan) dan teknik sampling (teknik pencuplikan)
B.      Desain dan pendekatan penelitian
C.      Pengumpulan data
Bab IV.  Pelaksanaan Penelitian
A.    Validasi instrument
B.    Analisis data
C.    Hasil analisis
Bab V.                   Hasil Penelitian Dan Pembahasan
A.    Hasil penelitian
B.    Pembahasan
C.    Diskusi
Bahan penunjang
A.    Kepustakaan
B.    Indeks

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
A. IDENTIFIKASI MASALAH
Adapun yang menjadi sumber utama permasalahan ialah:
g)       Bacaan
h)       Seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah
i)         Pernyataan dari orang yang memiliki otoritas
j)        Pengamatan sekilas
k)       Pengalaman pribadi
l)         Perasaan dan ilham

B. PENELAAH KEPUSTAKAAN
Adapun jenis – jenis sumber literature / kepustakaan, sebagai berikut:
1)   Buku teks (text book) Dan Tesis, Desertasi.
2)   Jurnal
3)   Abstrak dan indeks
4)   Media cetak (Majalah, Surat Kabar Harian)
5)   Media elektronik (TV, Radio, Internet) .
C. PENYUSUNAN HIPOTESIS
Seorang ahli bernama borg yang dibantu oleh temannya Gall (1979:61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut:
1.       Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas
2.       Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel
Hipotesis harus didukung oleh teori – teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan
D. VARIABEL
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam – macam variabel dalam pnelitian dapat dibedakan menjadi:
f.        Variable Independen (bebas)
g.       variabel Dependen (terikat)
h.       Variable Moderator Variable intervening
i.         Variable Kontrol
E. ALAT PENGAMBILAN DATA
Ø  Tes
Ø  Observasi
Ø  Wawancara
Ø  Dokumentasi
Ø  Kuesioner atau angket
F. SAMPEL
Pada prinsipnya ada dua macam teknik persampelan yang lazim digunakan dalam penelitian yaitu:
3.       Probability Sampling
meliputi, sebagai berikut:
Ø  Pengambilan Sampel acak / Random Sederhana (Simple Random Sampling)
Ø  Pengambilan sampel acak berstrata (Stratified Random Sampling)
Ø  Pengambilan Sampel Menurut Area/Daerah Sederhana (Simple Cluster Sampling)
4.       Nonprobability Sampling
teknik persampelan yang selalu digunakan adalah sebagai berikut:
Ø  Pengambilan Sampel Sistematis (systematis sampling)
Ø  Pengambilan sampel tujuan (Purposive Sampling)
Ø  Pengambilan Sampel Quota (Quota Sampling)

G. PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Dalam pengolahan data kegiatan yang dilakukan adalah:
d)       Pengklasifikasian data
e)       Koding
f)        Tabulasi
H. PENYUSUNAN LAPORAN
Penelitian adalah suatu kerja ilmiah, maka laporan yang dibuat harus mengikuti aturan – aturan penulisan karya ilmiah.
e)       Penulis laporan harus tahu betul kepada siapa laporan itu ditujukan.
f)        Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti kegiatan proses penelitian. Oleh karena itu langkah demi langkah harus dikemukakan secara jelas termasuk alasan – alasan mengapa hal itu ia lakukan.
g)       Peulis laporan harus mengemukakan dengan jelas letak dan kedudukan hasil penelitiannya dalam konteks pengetahuan secara umum.
h)       Dalam menulis laporan, yang dipentingkan adalah jelas dan meyakinka






DAFTAR PUSTAKA



Margono. S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta,2009
Iskandar, Metodologi penelitian pendidikan dan social (kuantitatif dan kualitatif),
Jakarta: GP Press, 2009
Arikunto Suharsimi, prosedur penelitian (suatu pendekatan praktik, Jakarta: Rineka
Cipta, 2006                                  
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan
R&D, Bandung: Alfabeta






VARIABLE
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Variabel  adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi fokus di dalam suatu penelitian. Menurut F.N. Kerlinger variabel sebagai sebuah konsep. Variabel merupakan konsep yang mempunyai nilai yang bermacam-macam.
Variable merupakan inti problematika dalam penelitian, sebab ia merupakan gejala yang menjadi titik perhatian penelitian untuk diamati. Oleh sebab itu pemahaman secara komplek tentang variable ini amatlah diperlukan bagi peneliti. Lebih jauh lagi, Arikunto mengatakan bahwa memahami variable dan kemampuan menganalisis setiap variable adalah merupakan syarat mutlak bagi setiap peneliti.
Dalam makalah ini akan sedikit membahas mengenai pengertian variable itu sendiri serta beberapa pembagiannya.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa itu Variabel?
2.      Ada berapa macam/jenis variabel?










BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI VARIABEL
Secara bahasa variabel berasal dari bahasa Inggris ”variable” dengan arti ”ubahan”,”faktor tak tetap”, atau “gejala yang dapat diubah-ubah”. Secara teoritis, variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain.[24] Misalkan kepemimpinan antara satu orang dengan orang lain memiliki variasi yang berbeda, baik itu dalam menerapkan kedisiplinan kerja ataupun dalam penerapan kebijaka-kebijakannya. Kesemuanya memiliki variasi yang berbeda.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel adalah suatu nilai atau sifat yang dimiliki oleh setiap obyek penelitian yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti, dimana dari variasi-variasi tersebut dapat diambil suatu pelajaran yang nantinya dapat diambil suatu kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh sang peneliti.
Arikunto menyatakan bahwa, variabel adalah sebuah konsep seperti halnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin, serta kedisiplinan dalam konsep kesadaran. Di abagian lain Sugiyono berpendapat bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari seseorang atau kegiatan yang mempunyi variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil suatu kesimpulan.
Dalam versi lain ada pendapat seorang pakar yang mendefinisikan variable. Menurutnya variabel adalah setiap karakteristik yang bisa memberikan sekurang-kurangnya dua hasil pengukuran / perhitungan yang berbeda, serta bisa diklasifikasikan ke dalam sekurang-kurangnya dua klasifikasi yang berbeda.
Dinamakan variabel karena memiliki suatu variasi seperti yang telah dicontohkan di atas. Setiap obyek penelitian memiliki variasi sendiri-sendiri. Jadi, kalau akan memilih variabel penelitian, baik yang dimiliki obyek maupun lembaga/organisai tertentu, maka harus bervariasi. Variabel yang tidak memiliki variasi, maka tidak bisa dikatakan sebagai suatu variabel. Untuk dapat bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada kelompok sumber data atau obyek yang bervariasi.[25]

B.     PEMBAGIAN VARIABEL
Mengenai pembagian variabel sendiri, para pakar mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Sehingga pembagiannya dapat dibedakan sebagai berikut:
a.       Berdasarkan Hubungan Sebab Akibat Antar Variabel
Menurut hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain dapat digolongkan sebagai berikut[26]:
1.      Variabel Independen
Atau sering disebut variabel bebas. Metode ini didefinisikan sebagai variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
2.      Variabel dependen
Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel terikat. Yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Dari pengertian kedua variabel di atas dapat dicontohkan sebagai berikut:
Pengaruh Komitmen Kerja terhadap Produktifitas Kerja.
-          Komitmen Kerja => Variabel Independen
-          Produktifits Kerja => Variabel dependen
3.      Variabel moderator
Adalah variabel yang mempengaruhi, bisa memperkuat ataupun memperlemah variabel Independen dengan variabel Dependen. Variabel ini sering disebut variabel kedua. Berdasarkan contoh di atas, Pengaruh Komitmen Kerja akan lebih baik terhadap Produktifitas Kerja kalau mempunyai pemimpin yang berkompetensi, dan begitu pula sebaliknya. Dari contoh tersebut maka Pemimpin adalah contoh variabel moderator.
4.      Variabel intervening
Variabel intervenning adalah variabel yang secara teoretis mempengaruhi hubungan variabe independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung yang tidak dapat diamati serta diukur. Variabel ini adalah variabel penyela (terletak diantara variabel independen dengan variabel dependen). Sehingga variabel tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen. Contoh: Pengaruh Komitmen Kerja => Kepemimpinan => Hubungan Antar Karyawan => Produktifitas Kerja.
Pada contoh di atas hubungan antara karyawan kurang baik/kurang baik, tetap akan menghasilkan produktifitas tetap akan menghasilkan produktifitas kerja yang tinggi jika komitmen kerja tinggi.             
5.      Variabel kontrol
Adalah variabel yang dikendalikan atau yang dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan peneliti bila aklan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan (komparatif). Contoh: Studi Komparatif antara Komitmen Kerja perusahaan A dengan perusahaan B. Dari studi ini variabel kontrol yang digunakan sama, misalnya fasilitas, gaji pegawai dan lain-lain. Dengan adanya variabel kontrol tersebut maka besarnya pengaruh komitmen kerja terhadap produktifitas kerja dapat diketahhui lebih pasti.
b.      Berdasarkan Obyek Penelitian
Berdasarkan obyek penelitiannya, Arikunto membagi variabel menjadi dua yatu:
1.      Variabel Kualitatif
Bentuk variabel kualitatif :
1.  Tanpa Peringkat
Contoh : a. Etnik : Sunda, Jawa, Batak,
b. Gender : Laki-laki, Perempuan
2.  Berperingkat
Contoh : a. Kelas 1, kelas 2, kelas 3,dst.
b. Ranking 1, ranking 2, ranking 3
2.      Variabel Kuantitatif
Variabel kuantitatif dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
1.      Variabel Diskrit
Atau disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik kiarena hanya hanya dapat dikategorikan ke dalam kedua kutub yang berlawanan yakni “Ya” atau “Tidak’. Angka-angka dalam variabel ini digunakan untuk menghitung serta mengkategorikan  “Ya” atau “Tidak’ nya.
2.      Variabel Kontinu
Variabel ini dipisah menjadi variabel kecil, yaitu:
a.       Variabel Ordinal
Yaitu variabel yang menunjukkan tingkatan-tingkatan. Variabel ini biasa disebut variabel “lebih kurang” karena yang satu mempunyai kelebihan dibanding yang lain. Misalnya: panjang, kurang panjang, pendek dan lain-lain.
b.      Variabel Interval
Yaitu variabel yang jarak, jika dibanding dengan variabel lain sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti. Misalkan: Suhu udara di luar 310 C, sedang suhu tubuh obyek peneliti 370 C, maka selisih suhu adalah 60 C.
c.       Variabel Ratio
Yaitu Variabel perbandingan. Variabel ini dalam hubungan antar sesamanya merupakan sekian kali.
Contoh: berat pak Karto 70 kg, sedangkan anaknya 35 kg, jadi, berat pak Karto 2 kali berat anaknya.[27]
c.       Berdasarkan sifatnya
Ditinjau dari sifat yang dimiliki, variabel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.      Variabel Statis
Adalah variabel yang tidak dapat dirubah keberadaanya. Misalnya: Jenis kelamin. Andaikata hasil penelitian menunjukkan sesuatu yang merupakan akibat dari variabel-variabel tersebut, maka peneliti tidak bisa mengubah atau mengusulkan untuk mengubah variabel yang dimaksud. Contoh: pebedaan keberhasilan berdagang antara laki-laki dengan perempuan. Dari penelitioan tersebut, maka diketahui bahwa pedagang laki-laki lebih berhasil dibanding dengan pedagang perempuan. Kesimpulan akhir ini tidak dapat dirubah dengan cara merubah jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki agar kesimpulan dapat berubah.
2.      Variabel Dinamis
Adalah variabel yang dapat diubah keberadaannya berupa pengubahan, peningkatan atau penurunan.
Contoh: dari judul penelitian “Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar”. Kesimpulan dari penelitian tersebut misalkan “motivasi belajar yang tinggi akan meningkatkan prestasui belajar, sebaliknya motivasi bel;ajar yang rendah akan menurunkan prestasi belajar”. Dalm hal ini variabel dependen dan variabel independennya dapat diubah. Agar prestasi belajar tinggi/ tidak rendah, maka prestasi belajar harus ditingkatkan dan sebaliknya.



BAB III
KESIMPULAN

1.       Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat ataub nilai dari seorang atau obyek penelitian yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
2.      Variabel dapat dikelompokkan dalam, beberapa jenis:
a.       Berdasarkan hubungan antar variabel, dikelompokkan menjadi 5, yaitu:
Ø  Variabel Independen
Ø  Variabel Dependen
Ø  Variabel Moderator
Ø  Variabel Intervening
Ø  Variabel Kontrol
b.      Berdasarkan obyek penelitian, dibagi menjadi 2, yaitu:
Ø  Variabel kualitatif
Ø  Variabel kuantitatif, variabel ini dibagi lagi menjadi 2 yaitu:
1.      Variabel Distrit
2.      Variabel Kontinuen, variabel ini dibagi lagi menjadi 3, yaitu:
1.      Variabel Ordinal
2.      Variabel Interval
3.      Variabel Ratio
c.       Berdasarkan sifatnya, variabel dibagi menjadi 2, yaitu:
Ø  Variabel Statis
Ø  Variabel Dinamis



DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.            Cet.13.

Sugiyono. 2005.Metode penelitian kuntitatif, kualitatif dan R & D. Bandung:           ALFABETA.

Tanzeh, Ahmad. 2009. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta. Teras.




































POPULASI DAN SAMPEL
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Penggunaan metode ilmiah yang bersifat formatif dan sistematis untuk mempelajari suatu masalah merupakan pengertian dari penelitian (Riset). Pada dasarnya ada tiga fungsi dan  peran penelitian adalah menentukan manusia memperoleh pengetahuan  baru, memperoleh jawaban atas suau pertanyaan atau memberi pertanyaan atau pemecahan atas suatu masalah. Oleh karena itu diperlukan metode agar mempermudah penelitian.
Suatu penelitian dapat bersifat penelitian populasi jika seorang peneliti meneliti seluruh subjek diluar wilayah sedangkan penelitian sampel jika peneliti hanya meneliti sebagian dari subjek peneliti. Pertimbangan yang diambil untuk tidak meneliti seluruh subjek atau penelitian populasi karena terbatasnya biaya, waktu dan tenaga atau mungkin memang tidak perlu demikian karena dengan mengambil sebagian dari populasi sudah dapat mencerminkan sifat populasinya.
B.   Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari populasi dan sampel ?
2.    Bagaimana tempat penelitian populasi dan sampel ?
3.    Apakah yang dimaksud dengan penelitian populasi dan penelitian sampel ?
4.    Bagaimana cara menentukan jumlah subjek ?
5.    Sebutkan macam-macam teknik sampling ?
C.   Tujuan Pembahasan
1.       Mengetahui pengertian populasi dan sampel.
2.       Mengetahui tempat penelitian populasi dan sampel.
3.       Memahami maksud penelitian populasi dan populasi sampel.
4.       Mengetahui cara menentukan jumlah subjek.
5.       Menyebutkan macam-macam teknik sampling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Populasi dan Sampel
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/ subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki oleh subjek atau objek itu.[28]
Misalkan akan melakukan penelitian di sekolah X, maka sekolah X merupakan populasi. Sekolah X mempunyai sejumlah orang atau subjek dan objek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah atau kuantitatif. Satu orang pun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disipllin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y maka kepemimpinannya itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y.
Sedangkan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberikan untuk populasi. untuk itu sampel yang akan diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili).
Bila sampel tidak representatif, maka ibarat orang buta disuruh menyimpulkan karakteristik gajah. Satu orang memegang telinga gajah maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kipas. Orang yang kedua memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar. Satu orang lagi memegang ekornya, maka ia menyimpulkan gajah itu kecil seperti seutas tali. Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representative, maka ibarat 3 orang buta itu yang membuat kesimpulan salah tentang gajah.
B.Tempat Penelitian
Yang dimaksud dengan tempat penelitian adalah tempat dimana proses studi yang digunakan untuk memperoleh pemecahan masalah penelitian berlangsung. Hal ini yang selalu muncul dalam kaitannya dengan metodologi penelitian yaitu tempat penelitian. Ada beberapa macam tempat penelitian, tergantung bidang ilmu yang melatarbelakangi studi tersebut. Untuk bidang ilmu pendidikan maka tempat penelitian tersebut dapat berupa kelas, sekolah, lembaga pendidkan dalam satu kawasan. Sedangkan untuk bidang ilmu teknik, alam, kedokteran, kimia, pertanian, peternakan, dan sebagainya tempat penelitian bisa dalam laboratorium yang kondisi dan situasi seperti : suhu, waktu, dan variable yang diperlukan, dikendalikan dengan standar tertentu misalnya 20 derajat Celsius. Bidang-bidang tersebut biasanya erat kaitannya dengan penelitian eksperimen yang tempatnya mungkin dalam bentuk tabung, bengkel, petak-petak sawah dan sebagainya.[29]
Untuk ilmu social, ekonomi, dan politik, tempat penelitian dapat berupa tempat dimana kegiatan manusia berlangsung, daerah provinsi, atau dalam satu negara, pertokoan, persahaan, tempat perdagangan, dan masinh banyak lagi yang lain. Contoh penelitian yang menunjukkan secara jelas tempat penelitian dapat dilihat seperti berikut ini. Tempat penelitian adalah industry yang terletak dikawasan industry Makasar, Kota Madya Makasar.
C.Penelitian Populasi dan Penelitian Sampel
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.[30] Batasan penelitian yang mesti ada dan ditemui dalam setiap penelitian adalah penelitian populasi. Populasi menurut Isaac (1985) tidak lain adalah elemen penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoritis menjadi target hasil penelitian.
Jadi, populasi pada prinsipnya adalah semua anggota kelompok manusia, peristiwa atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara menjadi target kesimpulan hasil akhir suatu penelitian.
Sebagian dari jumlah populasi yang diteliti kemudiaan diambil datanya. Data yang terkumpul kemudian dianalisis. Sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data tersebut disebut sampel.Sedangkan penelitian Sampel adalah jika kita ingin meneliti sebagian dari populasi.
D.Menentukan Jumlah Subjek
Jika jumlah populasi terlalu besar, maka diambil sebagian dari jumlah total populasi. Sedangkan untuk populasi kecil, sebaiknya seluruh populasi digunakan sebagai sumber pengambilan data. Sebagian dari populasi yang terpilih untuk penelitian ini jumlahnya harus memenuhi syarat mewakili populasi yang ada.[31]
Seorang peneliti muda umumnya akan bertanya mengenai berapa jumlah sampel dalam suatu penelitian ? ada hukum statistika dalam menentukan jumlah subjek penelitian. Hokum tersebut adalah semakin besar jumlah sampel yang digunakan dalam studi semakin kuat dan merefleksikan keadaan populasi yang ada. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian juga tergantug dari keadaan populasi. Jika keadaan populasi homogen atau mempunyai karakteristik sama maka jumlah sampel dapat lebih kecil. Sebagai contoh dalam penelitian eksperimen, seorang mahasiswa teknik mengambil beberapa contoh bahan : kuningan, alumunium, atau besi lunak sebagai sampel penelitian.
Walaupun pemakaian jumlah subjek yang besar itu sangat dianjurkan, ada kemungkinan bahwa seorang peneliti mempunyai tiga factor keterbatasan, yaitu waktu yang sempit, kemampuan menganalisis terbatas, dan keterbatasan biaya guna menyelesaikan proses penelitian secara komprehensif. Kondisi yang demikian cenderung memotivasi peneliti untuk mencari alternative lain, sehingga penelitian tetap dapat dipenuhi. Berikut adalah beberapa cara untuk menentukan jumlah subjek penelitian sekecil mungkin dan masih dalam kerangka statistika yang diizinkan.
1.       Menggunakan Formulatif Empirik.
Yang dianjurkan oleh (Isaac dan Michael, 1981-1982) dan dapat ditulis sebagai berikut :
        x 2.N.P.(1-P)
S =     d2(N-1)+ x2P(1-P)
Keterangan:
S = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
P = Proporsi dalam populasi
d = Ketelitian (eror)
x2 =  harga tabel chi-kuadrat untuk ∞ tertentu.
2.       Menggunakan Perhitungan Uji Daya.
Uji daya dapat dipergunakan untuk menentukan besarnya jumlah sampel. Menurut sujana (1984: 250), formula tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor seperti:
a. Parameter yang digunakan.
b. Cara pengujian yang dilakukan menggunakan satu ekor atau dua ekor.
c.  Besarnya kekeliruan yang diizinkan.
d. Besarnya simpangan baku yang diterima.
E. Macam-Macam Teknik Sampling
Teknik Sampling merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menentukan sampel. Macam-Macam teknik sampling diantaranya sebagai berikut:[32]


 



Folded Corner: 1. Sampling Sistematis.
2. Sampling Kuota.
3. Sampling Incidental.
4. Purposive Sampling.
5. Sampling Jenuh.
6. Snowball Sampling.Folded Corner: 1. Simple random sampling
2. Proportionte stratified random sampling
3. Disproportionate stratified random sampling
4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)   








Dengan penjelassan sebagai berikut :
1. Probability Sampling
            Merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi. Teknik ini meliputi:
a. Simple random sampling
    Cara pemilihan sample random adalah cara pengambilan sampel yang besarnya n dari suatu populasi terbatas yang besarnya N sedemikian hingga tiap unit sampel ini memiliki peluang yang sama untuk dipilih.[33]
    Pemilihan sample random merupakan proses pemilihan sample sedemikian rupa sehingga semua orang dalam populasi mempunyai kesempatan dan kebebasan yang sama untuk terpilih sebagai sample. Misalnya seseorang Kepala Kantor Dinas Pendidikan dan kebudayaan akanmemilih sample dari guru-guru untuk mengetahui sikap guru-guru tersebut terhadap pelaksanaan program “supervise kelas” di lingkungan kantor wilayah yang bersangkutan ia akan dibantu oleh peneliti , peneliti yang ditugaskan akan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut memilih sample:[34]
1. Menentukan populasi, jumlah populasi guru pada Dinas Pendidikan tersebut adalah misalnya 5.000.
2. Menentukan besar sample, misal jumlah sample yang dikehendaki adalah 10  % dari 5.000 atau 500 guru.
3. Kepala kantor wilayah memberikan daftar guru-guru tersebut pada peneliti.
4. Denga menggunakan daftar tersebut, masing-masing guru diberi nomor 0000 sampai 4999.
5. Nomor random permulaan ditentukan dengan memilih nomor sembarangan (nomor yang digarisbawahi) seperti berikut ini 59058; 11859; 53634; 48078; 71710; 83942; 33278.
6. Karena populasi 5.0000 anggota peneliti hanya memperhatikan empat digit terakhir dari nomor tersebut, jadi dalam hal ini angka tersebut adalah 3634.
7. Pada guru yang diberi nomor 3634. Oleh karena itu guru itu termasuk terpilih sebagai sampel.
8. Nomor selanjutnya adalah 48708. Empat digit terakhir adalah 8708. Karena hanya ada 5000 guru, tidak ada guru yang diberi nomor 8708. Oleh karena itu nomor tersebut tidak termasuk sampel.
9. Dengan menggunakan langkah-langkah tersebut nomor-omor sisanya 1710, 3942, 3278 terpilih sebagai sampel. Langkah ini akan dipakai untuk nomor-nomor selanjutnya hingga 500 guru terpilih.
b.  Proportionate stratified random sampling
 Pemilihan sampel strata adalah proses pemilihan sampel sedemikian rupa sehingga semua subkelompok pada populasi diwakili pada sampel dengan perbandingan sesuai dengan jumlah yang ada dalam populasi. Pemilihan sampel strata menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Tentukan dan sebutkan populasinya.
2.    Tentukan besarnya sampel yang dikehendaki.
3.    Identifikasikan variabel-variabel  dan subkelompok (strata) yang dianggap menjamin perwakilan yang tepat (dengan perbandingan atau sama)
4.    Klasifikasikan semua anggota populasi.
5.    Pilihan dengan cara random sejumlah individu yang dikehendaki dari masing-masing subkelompok.
c.  Disproportionate stratified random
        Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.
d. Sampling area (cluster) sampling (sampling menurut daerah).
          Pemilihan sampel cluster adalah pemilihan sampel dimana yang dipilih secara random bukan individual, tetapi kelompok-kelompok. Semua anggota(kelompok) mempunyai karakteristik yang sama. tetapi setiap kelompok lengkap dari karakteristik sama disebut cluster. Pemilihan sampel secara cluster menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tentukan dan definisikan populasi.
2. Tentikan jumlah sampel-sampel yang dikehendaki.
3. Tentukan dan definisikan cluster secara logis.
4. Sebutkan cluster-cluster tersebut yang terkandung dalam populasi.
5. Taksirkan jumlah rata-rata anggota populasi setiap cluster.
6. Tentukan jumlah cluster yang diperlukan dengan membagi besarnya sampel dengan ukuran cluster yang ditaksir.
7. Pilih secara random jumlah cluster yang dibutuhkan.
8. Masukkan pada penyelidikan itu semua anggota populasi pada tiap-tiap cluster yang dipilih.
2. Non Probability Sampling
Teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi :[35]
a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan 5. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.
b. Sampling Kuota
          Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan ijin mendirikan bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau mengumpulkan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, kareana belum memenuhi kuota yang ditentukan.
          Bila pengumpulan data dilsakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, mala setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
c.  Sampling Insidental
            Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetylan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipanddang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d. Sampling Purposive
            Sampling purposive adalah teknik penentuan sampeldengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik.
e.  Sampling Jenuh
            Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering digunakan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f.  Snowball Sampling
              Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang  mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
    Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Sedangkan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
    Tempat penelitian dimana proses studi yang digunakan untuk memperoleh pemecahan masalah penelitian berlangsung. Dalam ilmu pendidikan maka dapat berupa kelas, sekolah, lembaga pendidkan dalam satu kawasan. Untuk ilmu teknik, alam, kedokteran, kimia, pertanian, peternakan, dan sebagainya bisa dalam laboratorium yang kondisi dan situasi seperti : suhu, waktu, dan variable yang diperlukan, dikendalikan dengan standar tertentu.
Penelitian populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian. Sedangkan penelitian Sampel adalah jika kita ingin meneliti sebagian dari populasi.
Beberapa cara untuk menentukan jumlah subjek penelitian sekecil mungkin dan masih dalam kerangka statistika yang diizinkan diantaranya: Menggunakan Formulatif Empirik dan Menggunakan Perhitungan Uji Daya.
Macam-macam teknik sampling dibagi menjadi dua yaitu: Probability Sampling yang meliputi Simple random sampling, Proportionte stratified random sampling, Disproportionate stratified random sampling dan Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah). Untuk Non Probability Sampling meliputi Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Incidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh dan Snowball Sampling.
b. Saran

DAFTAR PUSTAKA        
Ahmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alvabeta, cv.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Subana; Sudrajat. 2003. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV Pustaka Setia
Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alvabeta, cv.





KONSEP DASAR TENTANG SUMBER DATA, TEKNIK PENGUMPULAN DATA, INSTRUMENT PENELITIAN DAN VALIDITAS SERTA RELIABILITAS INSTRUMENT PENELITIAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Seseorang peneliti harus segera memikirkan tindak lanjut setelah dia berhasil merumuskan konsep variabel-variabel dalam penelitiannya. Variabel-variabel tersebut merupakan titik tolak tindakan selanjutnya yang harus dilakukan. Dalam tinjauan literature misalnya, peneliti berusaha mencari informasi untuk mendukung konsep variabel-variabel dan hubungan antara variabel sesuai dengan tujuan dan desain penelitiannya. Langkah berikutnya adalah menentukan alat ukur yang hendak dipakai dalam pengumpulan data

B.      Rumusan Masalah
·         Bagaimana konsep dasar tentang sumber data?
·         Bagaimana macam-macam teknik pengumpulan data?
·         Bagaimana teknik merancang instrument penelitian?
·         Bagaimana konsep validitas & reliabilitas instrument?


C.      Tujuan
·         Agar mahasiswa memahami konsep dasar  tentang sumber data.
·         Agar mahasiswa memahami macam-macam teknik pengumpulan data.
·         Agar mahasiswa memahami teknik merancang instrument penilitian.
·         Memberikan pemahaman konsep validitas & reliabilitas instrument.
·          
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Konsep Dasar Tentang Sumber Data

Data merupakan unit transformasi yang direkam media yang dapat dibedakan dengan data lain, dapat dianalisis dan relevan dengan problem tertentu. Data haruslah merupakan keterkaitan antara informasi dalam arti bahwa data harus mengungkapkan kaitan antara sumber informasi dan bentuk simbolik asli pada satu sisi. Di sisi lain data harus sesuai dengan teori dan pengetahuan (Krippondorf: 1991).[36]
                Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh. Apabila penelitian menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya , maka sumber data disebut responden, apabila penelitian menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak, atau proses sesuatu. Apabila penelitian menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data.
B.      Macam-macam Teknik Pengumpulan Data
                Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen, dirumah dengan berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer,dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.[37]
                Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik  pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dokumentasi.
A.      Interview (wawancara)
Metode wawancara adalah pengumpulan data dengan jalan atau cara berdialog langsung dengan para responden secara lisan.  Jadi metode wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan kepada responden dan  dalam kegiatan wawancara berlangsung pewawancara harus dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lokasi wawancara.
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif)
Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
  1. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo, dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
  2. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.
B.      Kuesioner
Angket / kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya.
Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
  1. Prinsip Penulisan angket menyangkut beberapa faktor antara lain :
  • Isi dan tujuan pertanyaan artinya jika isi pertanyaan ditujukan untuk mengukur maka harus ada skala yang jelas dalam pilihan jawaban.
  • Bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan responden. Tidak mungkin menggunakan bahasa yang penuh istilah-istilah bahasa Inggris pada responden yang tidak mengerti bahasa Inggris, dsb.
  • Tipe dan bentuk pertanyaan apakah terbuka atau terturup. Jika terbuka artinya jawaban yang diberikan adalah bebas, sedangkan jika pernyataan tertutup maka responden hanya diminta untuk memilih jawaban yang disediakan.
  • Pertanyaan tidak mendua artinya pertanyaan tidak mengandung dua arti yang akan menyulitkan responden.
  •  Tidak menanyakan yang sudah lupa atau tidak menggunakan pertanyaan yang menyebabkan responden berpikir keras.
  • Pertanyaan tidak menggiring responden.
  • Pertanyaan tidak boleh tertalu panjang atau terlalu banyak. Kalo terlalu panjang atau tertalu banyak akan menyebabkan responden merasa jenuh untuk mengisinya.
  • Urutan pertanyaan dimulai dari yang umum sampai ke spesifik, atau dari yang mudah menuju ke yang sulit, atau di acak.
  1. Prinsip Pengukuran memuat seperangkat ujicoba instrumen. Artinya, sebelum menyebarkan angket, perlu dilakukan beberapa percobaan sehingga selain diketahui validitas dan reliabilitasnya, juga akan diperoleh estimasi waktu pengerjaan, tingkat kesulitan dan berbagai hal lainnya.
  2. Penampilan Fisik merupakan salah satu daya tarik dan keseriusan responden dalam mengisi angket. Namun tentu saja, angket yang bagus, terkesan resmi tentunya memerlukan biaya yang lebih besar dibanding angket yang di cetak di atas kertas seadanya.[38]
C.      Observasi
Teknik observasi yaitu pengamatan dan pencatatan sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Margono, 2003:158). Observasi adalah kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto, 2002:133). Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian yang dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung (Riyanto, 2001:96). Observasi sebagai alat pengumpulan data ini banyak digunakan untuk mengukuir tingkah laku ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. [39]
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
Participant Observation
Dalam observasi ini, peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatam sehari-hari orang atau situasi yang diamati sebagai sumber data.
Misalnya seorang guru dapat melakukan observasi mengenai bagaimana perilaku siswa, semangat siswa, kemampuan manajerial kepala sekolah, hubungan antar guru, dsb.
Non participant Observation
Berlawanan dengan participant Observation, Non Participant merupakan observasi yang penelitinya tidak ikut secara langsung dalam kegiatan atau proses yang sedang diamati.
Misalnya penelitian tentang pola pembinaan olahraga, seorang peneliti yang menempatkan dirinya sebagai pengamat dan mencatat berbagai peristiwa yang dianggap perlu sebagai data penelitian.
Kelemahan dari metode ini adalah peneliti tidak akan memperoleh data yang mendalam karena hanya bertindak sebagai pengamat dari luar tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalam peristiwa.
Alat yang digunakan dalam teknik observasi ini antara lain : lembar cek list, buku catatan, kamera photo, dan lain-lain.[40]

D.      Dokumentasi
Yang dimaksud dengan metode dokumentasi adalah sekumpulan berkas yakni mencari data mengenai hal-hal berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda, dan sebagainya.
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa metode dokumentasi dapat diartikan sebagai suatu cara pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya.
                Alasan dokumentasi dijadikan data untuk membuktikan penelitian karena dokumen merupakan sumber yang stabil, dapat berguna sebagai bukti untuk pengujian, mempunyai sifat yang alamiah, tidak reaktif, sehingga mudah ditemukan dengan teknik kajian isi, disamping itu hasil kajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.[41]


C.      Teknik Merancang Instrumen Penelitian
                Semua penelitian melibatkan pengumpulan data untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Umumnya peneliti menggunakan semacam instrument untuk mengumpulkan data, sering digunakan instrument yang sudah diterbitkan “standardized instrument” (instrument yang distandardisasikan). Sebenernya ada tiga cara yang pokok untuk menguimpulkan data:
1.       Mengadministrasikan suatu instrument yang distandardisasikan,
2.       Mengadministrasikan instrument yang diciptakan sendiri,
3.       Mencatat data yang ada dengan cara biasa (missal indeks prestasi).
Membuat instrument untuk suatu penelitian memerlukan usaha dan keterampilan khusus. Seain dari pada itu, waktu penelitian kita akan  banyak tersita dengan pemb uatan instrument tersebut. Instrument yang distandardisasikan diciptakan oleh ahli yang sudah mempunyai keterampilan khusus. Dengan instrument yang distandardisasikan, kita dapat membandingkan hasil penelitian-penelitian lain dengan instrument yang sama.[42]
D.      Konsep Validitas dan Reliabilitas Instrument
1.       Validitas
Validitas adalah  suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.
Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrument dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti
secara tepat. Tinggi rendahnya validitasinstrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.[43]
Bahasa sederhananya "alat evalusi atau instrumen-instrumen yang digunakan bertujuan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur."
Macam-macam Validitas:
a.       Validitas Isi
 adalah tingkat dimana suatu tes mengukur lingkup isi yang dimaksudkan.  Validitas item bertitik tolak pada pertanyaan apakah item-item tes itu mewakili ukuran ruang lingkup isi yang dikehendaki, validitas sampling bertitik tolak pada seberapa bagus tes itu mewakili lingkup isi keseluruhan.
b.       Validitas Konsepsi
Adalah tingkat  dimana suatu tes menguji suatu tes hipotesis yang dimaksudkan. Suatu konsepsi adalah sifat yang tidak dapat diamati, misalnya kecerdasan.
c.        Vailiditas Bersamaan
Adalah untuk tingkat pada mana nilai-nilai pada suatu tes dihubungkan dengan nilai-nilai ada pada tes yang lain, tes yang sudah “established” diadministrasikan pada waktu yang bersamaan atau dihubungkan dengan beberapa criteria valid lain yang ada pada waktu yang bersamaan.
d.       Validitas Prediktif
Adalah tingkat pada mana suiatu tes dapat membuat prakiraan seberapa bagus suatu individu akan mengerjakan suatu pekerjaan pada suatu situasi mendatang. Validitas prediktif dari suatu tes ditentukan dengan menciptakan hubungan antara nilai-nilai pada suatu tes itu dan beberapa ukuran keberhasilan pada situasi tertentu.[44]


2.       Reliabilitas
                Instrument yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrument yang sudah dapat dipercaya, yang direliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka beberapa kali pun diambil, tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliable artinya, dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan.
a.       Reliabilitas Eksternal
Ada dua cara untuk menguji reliabilitas eksternal suatu instrument yakni dengan teknik paralel dan teknik ulang. Apabila penelitian ingin menggunakan teknik pertama yakni teknik paralel, peneliti mau tidak mau harus menyusun dua stel instrument. Kedua instrument tersebut sama-sama diujicobakan kepada sekelompok responden saja (responden mengerjakan dua kali) kemudian hasil dari dua kali tes uji coba tersebut dikorelasikan, dengan teknik korelasi product-moment atau korelasi pearson. Dari data dua kali uji coba dari dua instrument yang satu dipandang sebagai nilai X, yang satu Y. Tinggi rendahnya indeks korelasi inilah yang menunjukkan tinggi rendahnya reliabilitas instrument. Oleh karena dalam menggunakan teknik ini peneliti mempunyai dua instrument dan melakukan dua kali tes, maka disebut teknik double test double trial.
Teknik reliabilitas eksternal ke dua adalah teknik ulang. Dengan menggunakan teknik ini peneliti hanya menyusun satu perangkat instrument. Instrument tersebut diujicobakan kepada sekelompok responden, hasilnya semula untuk dikerjakan lagi, dan hasil yang kedua juga dicatat. Kemudian kedua hasil tersebut dikorelasikan. Dengan teknik ini peneliti hanya menggunakan satu tes tetapi dilaksanakan dua kali uji coba. Maka teknik ini juga disebut sebagai teknik single test double trial.
b.       Reliabilitas internal
Reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan. Ada bermacam-macam cara untuk mengetahui reliabilitas internal. Pemilihan sesuatu teknim didasarkan atas bentuk instrument maupun selera peneliti. Kadang-kadang penggunaan teknik yang berbeda menghasilkan indeks reliabilitas yang berbeda pula.  Hal ini wajar saja karena kadang-kadang dipengaruhi oleh sifat atau karakteristik datanya sehingga dalam penghitungan diperoleh angka berbeda sebagai akibat pembulatan angka. Namun demikian untuk beberapa teknik, diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu sehingga peneliti tidak begitu saja memilih teknik-teknik tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
Ø  Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh
Ø  Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dokumentasi.
Ø  Tiga cara yang pokok untuk menguimpulkan data:
1.       Mengadministrasikan suatu instrument yang distandardisasikan,
2.       Mengadministrasikan instrument yang diciptakan sendiri,
3.       Mencatat data yang ada dengan cara biasa (missal indeks prestasi).
Ø  Syarat instrument penelitian yang memenuhi syarat adalah Valid dan Reliabel
Ø  Validitas adalah  suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument.
Ø  Reliable artinya, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan.




DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.2002. prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Asdi Mahasatya
Darmadi, Hamid.2011. metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sugiyono.2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D.Bandung: Alfabeta
Tanzeh, Ahmad.2009. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Teras




PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).

Namun dalam realitasnya saat ini tidak sedikit permasalah yang terjadi dalam proses pembelajaran dalam kelas.dari sisw yang sulit dikendalikan, tidak memperhatikan, tidak bisa menangkap pelajaran hingga akhirnya nilai akhir yang tidak memuaskan Hal ini jika tidak segera diatasi maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik.

Dengan adanya kasus semacam ini maka diperlukan bagi para guru untuk bisa melakukan penelitian tindakan kelas. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan segala sesuatu yang terjadi dalam kelas bisa segera evaluasi dan diberikan tindakan yang tepat. Oleh karenanya dalam makalah ini kami sampaikan beberapa hal berkenan dengan penelitian tindakan dalam kelas.

B.      Rumusan Masalah
a.     Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
b.     Karakter Penelitian Tindakan Kelas
c.     Tujuan dan manfaat Penelitian Tindakan Kelas
d.     Model Penelitian Tindakan Kelas




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Kata penelitian terjemahan dari bahasa Inggris, Research. Penelitian tindakan kelas mempunyai berbagai aturan dan langkah. Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Research, yaitu satu action research yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi menjadi meningkat.
Ada beberapa definini  tenntang Penelitian Tindakan kelas ini. Suharsimi mendefinisikan penelitian tindakan kelas melelui pemaparan gabungan definisi dari kata “Penelitian”, “tindakan” dan “kelas”. Penelitian adalah kegiatan pengamatan terhadap suatu obyek dengan sebuah methode tertentu untuk memperoleh informasi  atau data  yang bermafaat bagi peningkatan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan  dengan tujuan tertentu, yang biasanya berbentuk rangkaian siklus kegiatan.sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru.Jadi menurut Suharsimi, PTK adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sebgaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas  secara bersama yang diberikan oleh seorang guru dan dilakukan oleh siswa.
Menurut Suhardjono mendefinisikan PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan dikelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktek pembelajar. Sedangkan Rustam dan Mundilarto mendefinifikan PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri dengan jalan merancang , melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kalaboratuf  an partisipatif dengan tujuan  memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat.
Komponen-komponen dalam kelas yang dapat dikaji melalui penelitian tindakan  kelas meliputi :
a.       Siswa,sebagai peserta didik dalam proses belajar
b.       Guru, sebagai pengajar dalam kelas
c.        Materi Pelajaran
d.       Peralatan atau sarana pendidikan
e.        Hasil belajar
f.        Lingkungan sekolah
g.        Pengelolaan

B.       Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
                Suharjono mengajukan beberapa kateristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut :
a.       Adanya tindakan (Action) yang dilakukan secara alami dan ditujukan untuk memecahkan masalah praktis.
b.       Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang tidak hanya berupaya memcahkan masalah tapi sekaligus mencari dukungan ilmiah.
c.        Hal yang dihasilkan bukan hasil dari kajian teoritik saja tapi berasal dari dari permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam kelas
d.       Penelitian dimulai dari hal-hal yang dari permasalahan yang sederhana, nyata jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi dalam kelas.
e.        Adanya kalaborasi antara praktisi dalam hal ini guru, murid dan pihak sekolah dengan peneliti shingga bisa menghasilkan keputusan tindakan  yang tepat
C.      Tujuan dan manfaat Penelitian Tindakan Kelas
                Secara umum tujuan Penelitian tindkan kelas menurut Suhardjono sebagai berikut :
a.       Meningkatkan mutu, masukan, proses, serta hasil pembelajaran dikelas
b.       Membantu guru dan para pendidik mengatasi maslah dpendidikan dalam kelas
c.        Meninhkatkan sikap profesionalitas pendidik dan tenaga pendidik
d.       Menumbuh kembangkan budaya akademik dilinkugan sekolah
Dengan dilaksanakan penelitian tindakan dalam kelas maka, ada bebarapa manfaat yang bisa diambil.diantaranya :
a.       Inovasi pembelajaran
Seoarang guru perlu memiliki keinginan untk selalu mengubah, mengembangkan dan meningkatkan gaya mengajarnya agar menghasikan meodel pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya sebab dihadapan para guru pasti ada siswa-siswa yang terus berganti setiap tahunnya
b.       Mengembangkan kurikulum
Guru mempunyai tanggungjawab terhadap pengembangan kurikulum dalam setiap tingkat sekolah atau kelas. Ii sangat relevan dengan dengan kurikulumm yang dikembangkan dalam  disekolah saat ini yaitu KTSP ”Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”
c.        Peningkatan profisionalisme guru
Sudah seharusny aguru yang profesional dapat melihat dn menlai sendiri secara kritis terhadap praktek mengajarnya di kelas. Dengan melihat, mengkaji dan mengevaluasi kinerjanya sendiri kemudian direfleksinkan dan diperbaiki, pada akhirnya guru akan memperoleh kemandirian secara profesional.
D.      Model Penelitian Tindakan Kelas
Setidaknya ada 4 model penelitian Tindakan dalam kelas
1.       Model guru sebagai peneliti
Model ini Guru sebagai peneliti yang bertindak penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. tujuan utama penelitian adalah untuk meningkatkan praktek-praktek pembelajaran dikelas.
2.       Model Kalaborasi
Model ini melibatkan bebrapa pihak, baik guru, kepala sekolah, dan peneliti dari perguruan tinggi yang berkerja secara simultan dan serempak.tujuannya adlah untuk meningkatkan kualitas praktek pembelajaran, memberikan sumbangan teori pembelajaran dan meningkatkan karier guru.
3.       Model simultan terinegrasi
Model ini melibatkan guru dan peneliti dari perguruan tinggi. Tujuannya ada dua, pertama memecahkan persoalan-persoalan praktis dalam pembelajaran, dan kedua menghasilkan pengetahuan dalam bidang pembelajaran di kelas.
4.       Model administrasi sosial ekspremental             
Model ini lebih menekankan pada dampak dari kebijakan dan praktik pembelajaran. Guru juga tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi terhadap praktek pembelajarannya di kelas. Peneliti  berasal dari luar sekolah tanpa melibatkan guru walau yang diteliti ada didalam kelas.
Selain model-model diatas ada beberapa model lain dalam penelitian tindakan dalam kelas, yaitu :
1.       Model Diagnosis
Model ini dirancang untuk menuntun kearah yang lebih spisifik, sistematis, terencana dan tajam terhadap satu persoalan saja.
2.       Model Partisipan
Orang yang hendak melakukan penelitian harus sejak awal sudah terlibat dalam prosos penelitian. Sejak dari penemuan maslah,perumusan masalah,rencana tindakan, pelaksanaan observasi,refleksi hasil, analisis dan pemaknaan hasil juga kesimpulan.
3.       Model empiris
Dasar pemikiran model ini adalah melakukan sesuatu serta mencatat dan membukukan apa yang dlakukan dan apa yang terjadi. Secara ideal model ini dilakukan oleh satu kelompok atau beberapa kelompok.
4.       Model eksperimental
Penelitian model ini merupakan penelitian yang memiliki nilai sangat potensial bagi kemajuan pengetahuan ilmiah. Namun demikian model ini juga menjadi model yan paling sulit dilaksanakan sebab harus dilakukan berulang-ulang disamping adanya kekurangan atau keterbatasan peneliti.


BAB III
Penutup
Kesimpulan
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Kata penelitian terjemahan dari bahasa Inggris, Research. Penelitian tindakan kelas mempunyai berbagai aturan dan langkah. Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari Classroom Research, yaitu satu action research yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi menjadi meningkat.
Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
a.       Adanya tindakan (Action) yang dilakukan secara alami dan ditujukan untuk memecahkan masalah praktis.
b.       Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang tidak hanya berupaya memcahkan masalah tapi sekaligus mencari dukungan ilmiah.
c.        Hal yang dihasilkan bukan hasil dari kajian teoritik saja tapi berasal dari dari permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam kelas
d.       Penelitian dimulai dari hal-hal yang dari permasalahan yang sederhana, nyata jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi dalam kelas.
e.        Adanya kalaborasi antara praktisi dalam hal ini guru, murid dan pihak sekolah dengan peneliti shingga bisa menghasilkan keputusan tindakan  yang tepat
Tujuan dan manfaat Penelitian Tindakan Kelas
1.       Meningkatkan mutu, masukan, proses, serta hasil pembelajaran dikelas
2.       Membantu guru dan para pendidik mengatasi maslah dpendidikan dalam kelas
3.       Meninhkatkan sikap profesionalitas pendidik dan tenaga pendidik
4         Menumbuh kembangkan budaya akademik dilinkugan sekolah
Manfaat yang bisa diambil dari PTK
1.       Inovasi pembelajaran
2.       Mengembangkan kurikulum
3.       Peningkatan profisionalisme guru
Model Penelitian Tindakan Kelas
     i.      Model guru sebagai peneliti
    ii.      Model Kalaborasi
  iii.      Model simultan terinegrasi
  iv.      Model administrasi sosial ekspremental               


Daftar Pustaka
Suryo Subroto. B. Drs. Managemen Pendidikan Sekolah.2004 Jakarta. PT.Rineka Cipta
Asrori Mohammad, H. Prof. Dr. Penelitian Tindakan Kelas,2007.Bandung. CV. Wacana Prima








































Hambatan
 
 


[1]prosedur penelitian, suharsini arikunto, rinekacipta, 2002, Jakarta,hlm 9


[3]Subali , Bambang, METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN BIOLOGI (e-book), Universitas Negeri Jogjakarta, 2010, hal 3
[4]Fahurrahman, Pupuh, METODE PENELITIAN. Pustaka Setia: Bandung, 2011, hal 81



[7] Drs. S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta,2009, hlm 54
[8] Ibid, hlm 55
[9] Ibid, hlm 56
[10] Dr. iskandar, M.Pd, Metodologi penelitian pendidikan dan social (kuantitatif dan kualitatif), jakarta: GP Press,
   2009, hlm 200
[11] Drs. S. Margono, Op.Cit, hlm 79
[12] Dr. iskandar, M.Pd, Op.Cit, hlm 201
[13] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian (suatu pendekatan praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006, hlm 73
[14] Dr. iskandar, M.Pd, Op.Cit, hlm 59
[15] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Op.Cit, Hlm 116
[16] Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2008 hlm 63
[17] Prof. Dr. Sugiyono, Op.Cit, hlm 308
[18] Prof. Dr. Sugiyono, Op.Cit, 317
[19] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Op.Cit, hlm 227
[20] Prof. Dr. Sugiyono, Op.Cit hlm 320
[21] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Op.Cit hlm 231
[22] Drs. S. Margono, Op.Cit, hlm 121
[23] Dr. iskandar, M.Pd, Op.Cit, hlm 74
[24] Sugiyono. Metode penelitian kuntitatif, kualitatif dan R & D. Hal 38
[25] Ibid.
[26] Ahmad Tanzeh. Pengantar Metodologi Penelitian.hlm 37
[27] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian. Hal 116-117
[28] Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alvabeta cv. 2010) h, 117
[29] Hamid, Ahmadi. Metode Penelitian Pendidikan ,(Bandung: Alvabeta cv. 2011)h, 52
[30] Suharsimi, arikunto. prosedur Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2002)h, 108
[31] Hamid, op.cit. h, 54
[32] Sugiono, op cit.h, 119
[33] Subana dan sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah.(Bandung: CV Pustaka Setia. 2003) h, 117
[34]  Hamid, op.cit. h, 47
[35] Sugiono, op.cit. h, 122
[36] Ahmad Tanzeh, 2009 pengantar metode penelitian, Yogyakarta: Teras hal 53
[37] Prof. dr. Sugiyono,2010 Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta hal 193
[38] Prof. dr. Sugiyono,2010 Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta hal 199
[39] Ahmad Tanzeh, 2009 pengantar metode penelitian, Yogyakarta: Teras hal 58
[41] Ahmad Tanzeh, 2009 pengantar metode penelitian, Yogyakarta: Teras hal 67
[42] Prof. Dr. Hamid Darmadi , M.Pd. 2011 Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta hal 68
[43][43]Suharsimi Arikunto, 2002 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,Jakarta: PT Asdi Mahasatya hal145
[44] Ibid hal 154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar