Rabu, 11 Januari 2012

makalah jadi sejarah peradaban islam






















KUMPULAN MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
DOSEN PENGAMPU : MUKANI, M.Pd.I







OLEH
SEMESTER  V



PROGAM SARJANA (S1), JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
AL URWATUL WUTSQO
JOMBANG 2011/ 2012
MADINAH
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Madinah Al Munawarah, awalnya kota ini bernama Yasrib. Kota Madinah menjadi pusat kebudayaan Islam setelah Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah ke Yasrib. Setelah Nabi berhijrah ke Yasrib, maka kota tersebut dijadikan pusat jamaah kaum muslimin, dan selanjutnya menjadi ibu kota negara Islam yang segera didirikan oleh Nabi dengan diubah namanya menjadi Madinah.
Dari Madinah inilah Nabi meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam. Di Madinah selama 13 tahun kenabian dan mengembangkan masyarakat Islam. Bahkan di Madinah ini, Nabi membangun sistem kehidupan bermasyarakat Islam yang bercita-cita.
Di tengah-tengah kota Madinah, segera Nabi membangun masjid yang menjadi pusat ibadah dan kebudayaan, bahkan dijadikan markas besar negara Islam. Bagi negara yang baru di bangun itu, nabi telah meletakkan dasar-dasar yang kuat, diantaranya yaitu Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan Islam.
Nabi mempersaudarakan antara kaum muslimin yang berdeda-beda suku dan bangsa, yang  berlain-lainan warna kulit dan rupa; Al Wahdatul Islamiyah menggantikan Al Wahdatul Qoumiyah, sehingga dengan demikian mereka menjadi bersaudara dan sederajat.[1]
Dari sinilah kami mencoba membahas tentang Membangun Masyarakat di Madinah, dengan tujuan menambah pengetahuan kita tentang keadaan kota Madinah yang dibangun oleh Nabi.
B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana keadaan Madinah sebelum Islam?
  2. Bagaimana Hijrah Nabi?
  3. Bagaimana pembentukan kota Madinah?
C. Tujuan Pembahasan
  1. Pembaca dapat memahami bagaimana keadaan Madinah sebelum Islam
  2. Pembaca dapat mengetahui peristwa Hijrah Nabi
  3. Pembaca dapat memahami bagaimana pembentukan kota Madinah


BAB II
PEMBAHASAN
MEMBANGUN MASYARAKAT DI MADINAH
1. Keadaan Madinah Sebelum Islam
a). Kepercayaan Masyarakat Madinah
Sebelum kedatangan Islam di kota Yasrib, masyarakatnya telah memiliki agama atau kepercayaan. Agama yang dianut sebagaian besar masyarakat kota ini adalah agama Yahudi dan Nasrani, selain agama pagan. Agama pagan yaitu kepercayaan kepada benda-benda, dan kekuatan-kekuatan alam, sepeti matahari, bintang-bintang, bulan dan sebagainya.
b). Kondisi Sosial Masyarakat Madinah Sebelum Islam
                Sebelum datang Islam, Madinah bernama Yasrib, kota ini merupakan salah satu kota terbesar di Hijaz. Kota ini merupakan kota yang setrategis dalam jalur perdagangan yang menghubungkan antara Yaman di selatan dan Syiria di utara, selain itu Yasrib merupakan daerah subur yang dijadikan sebagai pusat pertanian. Sebagain besar kehidupan masyarakat kota ini hidup dari bercocok tanam, selain berdagang dan berternak.
                Karena letaknya yang strategis dan berlahan subur, maka tak heran kalau banyak penduduknya yang berasal bukan dari wilayah itu. Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian dari mereka adalah para pendatang yang bermigrasi dari wilayah utara atau selatan. Pada umumnya mereka berpindah karena persoalan politik, ekonomi, atau persoalan kehidupan lainnya, misalnya bangsa Yahudi dan bangsa Arab Yaman. Kedua bangsa inilah yang mendominasi kehidupan sosial ekonomi dan politik.
c). Suku-suku Terkemuka di Madinah
                Masyarakat Yasrib terdiri dari dua kelompok besar yaitu kelompok masyarakat Yahudi dan masyarakat Arab, msyarakat Yahudi juga terdiri dari berbagai suku, ada suku besar dan ada suku kecil. Diantara suku Yahudi yang besar adalah Bani Qoiniqa, Bani Quraidlah, Bani Nadhir, dan Bani Gathfan.
                Selain itu terdapat suku kecil, misalnya Bani Ikhrimah, Bani Mahmar, Bani Zaura, Bani Syazliyah, Bani Juzsyam, Bani Buhdal, Bani Auf, dan Bani Tsa’labah.
Sementara masyarakat Arab terdiri dari dua suku besar, yaitu Bani Aus dan Bani Khajraj.[2]

2. Hijrah ke Madinah
                Kota Makkah, tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah sebuah lembah yang tandus. Kondisi alam (geografis) negeri ini berpengaruh besar dalam membentuk sikap dan masyarakatnya. Pada umumnya masyarakat Makkah berwatak buruk dan tidak mampu berfikir jernih. Sementara itu, Yasrib merupakan wilayah pertanian subur yang menghasilkan hasil-hasil pertanian melimpah. Suhu udaranya tidak sepanas Makkah. Sebaliknya masyarakat Yasrib berhati lembut, penuh pertimbangan dan cerdas. Jadi dakwah Isam lebih mudah diterima dalam masyarakat yang seperti itu dari pada masyarakat kota Makkah.
                Dalam perjalanan sejarah umat Islam, hampir semua Nabi yang diutus tidak berkembang di negaranya sendiri bahkan masyarakatnya sendiri tidak menghormatinya. Demikian juga dengan perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Di kota Makkah masyarakat mencaci maki dan memusuhinya, sebaliknya masyarakat Madinah sangat menanti kedatangan Nabi Muhammad SAW.
                Para pemuka dan kalangan bangsawan Quraisy Makkah merupakan penentang Islam yang paling gigih. Menurut mereka kebangkitan Islam identik dengan kehancuran posisi sosial politik mereka. Karena itu para pembesar Quraisy secara terang-terangan menentang Islam sejak pertama kali agama itu didakwahkan Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, di Madinah tidak terdapat sistem kepemimpinan bangsawan. Maka dalam lingkungan sosial seperti itu penyebaran Islam lebih sukses dibandingkan di kota Makkah. Dari kenyatan seperti itu Nabi memilih Yasrib sebagai tempat tujuan hijrah.
                Alasan lain Nabi  Muhammad dan umat Islam hijrah ke Yasrib karena tekanan dan gangguan bahkan ancaman masyarakat Quraisy terhada dirinya dan umat Islam semakin menjadi. Beliau memerintahkan para sahabatnya lebih dahulu untuk pergi ke Yasrib. Ketika kaum musyrikin Makkah mendengar rencana tersebut mereka sangat marah dan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi. Berita itu segera di dengar Nabi, lalu beliau bersama Abu Bakar dan Ali menunggu perintah Alloh. Ketika suasana semakin kritis, turunlah perintah Alloh yang memerintahkan Nabi-Nya hijrah ke Yasrib.[3]
3. Pembentukan Kota Madinah
Nabi telah meletakkan dasar-dasar Islam di Makkah dengan penuh tantangan dari kaum kafir Quraisy. Dalam periode Makkah Rosulloh belum berhasil membentuk komunitas Islam karena jumlahnya yang sedikit dibawa tekanan musuh-musuhnya. Dengan hijrah ke Yasrib yang diganti dengan Madinah Al Munawarah beliau meletakkan dasar-dasar Islam.[4]
                Setelah tiba dan diterima penduduk Yasrib, Nabi resmi menjadi pemimpin kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Makkah, pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi mempunyai kedudukan bukan hanya sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain dam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis sebagai kepala negara.[5]
                Dalam periode ini pengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan Islam dan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakan dasar-dasar masyarakat Madinah sebagai berikut :
Pertama, mendirikan masjid
                Tujuan Rasululloh mendirikan masjid adalah untuk mempersatukan umat Islam dalam satu majlis, sehingga dalam majlis ini semua umat Islam bisa bersama-sama melaksanakan sholat jama’ah secara teratur, mengadili perkara-perkara dan musyawarah. Masjid ini memegang peran penting untuk mempersatukan kaum mauslimin dan mempererat tali silaturrahmi.
Kedua, mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Anshor dan Muhajirin
                Rasululloh mempersatukan keluarga-keluarga Islam yang terdiri dari Anshor dan Muhajirin. Dengan cara mempersaudarakan antara kedua golongan ini, Rasululloh telah menciptakan suatu pertalian yang berdasarkan agama pengganti persaudaraan kesukuan seperti sebelumnya.
Ketiga, perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin.
                Nabi menciptakan toleransi antar golongan yang ada di Madinah, oleh karena itu nabi membuat perjanjian antara muslim dan non muslim.
Isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut :
a.        Pengakuan antara hak pribadi dan politik
b.       Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat
c.        Adalah kewajiban penduduk Madinah, baik muslim maupun nonmuslim, dalam hal moril maupun materiil. Mereka harus bahu-membahu menangkis semua serangan terhadap kota mereka.
d.       Rasululloh adalah pemimpin umum bagi penduduk Madinah. Kepada beliau dibawa segala perkara dan perselisihan yang besar untuk diselesaikan.
Keempat, meletakan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru.
                Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat yang diturunkan dalam periode ini terutama ditujukan pada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Nabi, baik dengan lisan maupun dengan perbuatan beliau sehingga terdapat dua sumber hukum dalam Islam yaitu Al Qur’an dan Hadits. Dari kedua sumber hukum tersebut didapat suatu sistem untuk bidang politik, yaitu sistem musyawarah. Dan untuk bidang ekonomi dititik beratkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang kemasyaraatan, diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia, dengan penekanan bahwa yang menentikan derajat manusia adalah ketakwaan.[6]
Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslim dan Non Muslim
Di Madinah terdapat tiga golongan masyarakat yaitu kaum muslimin, orang Arab,serta kaum non muslim, dan orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Qurizhah, Bani Qoinuqa’). Rasulloh melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah keamanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan suasana saling membantu dan toleransi diantara golongan tersebut.[7]
Pertentangan antara Kaum Yahudi dan Muslim
Sikap ingkar janji yang dilakukan orang Yahudi mulai terlihat, ketika terjadinya perang pertama dalam Islam yang dikenal dengan perang badar, yakni perang antara kaum muslimin dengan musyrik Quraisy pada tanggal 8 Ramadlon tahun ke dua hijriyah di daerah badar, kurang lebih 120 km dari Madinah. Dalam peperangan ini kaum muslimin menang atas musyrikin. Namun orang-orang Mekah memerangi Nabi. Bukti penyelewengan kaum Yahudi yang lain adalah pada waktu terjadi perang uhud, dimana kaum Yahudi berjumlah 300 orang dengan pimpinan Abdulloh bin Ubay, seorang yang munafik yang bersedia membantu kaum muslimin, namun tiba-tiba membelok ke Madinah, yang mengakibatkan kaum muslimin mengalami kekalahan Sehingga Nabi pun dengan tegas Bani Nadir, yaitu salah satu dari dua suku Yahudi di madinah yang berkomplot Abdulloh bin Ubay keluar kota. Sebagaian besar mereka mengungsi ke Khoibar. Sedang suku Yahudi lainnya yaitu Bani Quraizah, masih tetap berada di Madinah.
                Penghinatan bangsa Yahudi lainnya adalah dengan bergabungnya kaum Yahudi dengan orang-orang kafir untuk menyerang Madinah, dengan cara mengepung Madinah (perang Ahzab atau perang Khandaq). Dalam suasana kritis ini, orang Yahudi Bani Quraizah dibawah pimpinan Ka’ab bin Asad berkhianat. Namun usaha pengepungan tidak berhasil, yang pada akhirnya dihentikan. Sementara itu, penghianatan-penghianatan Yahudi Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 Hijriyah, ketika ibadah haji telah disyariatkan, Nabi Muhammad SAW dengan sekitar seribu kaum muslim berangkat ke Makkah bukan untuk berperang, tetapi untuk melaksanakan ibadah umrah, namun penduduk Makkah tidak mengizinkn mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian Hudaidiayah yang isinya antara lain sebagai berikut:
  1. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun ini, tetapi ditangguhkan tahun depan.
  2. Lama kunjungan hanya dibatasi tiga hari.
  3. Kaum muslim wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah, namun sebaliknya, pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Makkah.
  4. Selama sepuluh tahun diadakan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Makkah.
  5. Tiap kabilah yang ingin masuk kedalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum Muslim, bebas melakukan tanpa mendapat rintangan.
Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil alih Ka’bah dan menguasai Makkah semakin terbuka. Ada dua faktor pokok yang mendorong kebijaksanaan ini: pertama, Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam , Islam bisa tersebar keluar. Kedua, Apabila suku Quraisy dapat diIslamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.
Fathul Makkah
Setelah dua tahun perjanjian Hudaidayah berlangsung, dakwah Islam sudah menjangkau seluruh Jazirah Arab. Hal itu membuat orang-oarang kafir Makkah khawatir dan merasa terpojok, oleh karena itu, orang-orang kafir Quraisy secara sepihak melanggar perjanjian Hudaibiyah. Melihat hal ini, nabi kemudian bersama sepuluh tentara bertolak ke Makkah untuk menghadapi kaum kafir. Dan tanpa perlawanan berarti nabi pun dapat menguasai Makkah. Meski demikian masih ada dua suku Arab yang masih menentang, yaiti Bani Tsaqif dan Bani Hawazin. Kedua suku ini kemudian bersatu memerangi Islam. Mereka ingin menuntut atas penghancuran berhala-berhala yang dihancurkan nabi Muhammad dan umat Islam pada waktu penyerbuan Makkah. Akan tetapi, mereka dapat dengan mudah ditaklukan.
                Melihat kenyatan bahwa kekuasaan Islam mulai mengancam Romawi, Heraclius menyusun pasukan untuk mengantisipasinya. Namun, setelah melihat kekuatan pasukan Islam, akhirnya mereka mengundurkan diri.[8]
PENUTUP
Kesimpulan
Sebelum kedatangan Islam di kota Yasrib, masyarakatnya telah memiliki agama atau kepercayaan. Agama yang dianut sebagaian besar masyarakat kota ini adalah agama Yahudi dan Nasrani, selain agama pagan.Kota ini merupakan kota yang setrategis dalam jalur perdagangan yang menghubungkan antara Yaman di selatan dan Syiria di utara, selain itu Yasrib merupakan daerah subur yang dijadikan sebagai pusat pertanian. Masyarakat Yasrib terdiri dari dua kelompok besar yaitu kelompok masyarakat Yahudi dan masyarakat Arab.
Alasan Nabi  Muhammad dan umat Islam hijrah ke Yasrib karena tekanan dan gangguan bahkan ancaman masyarakat Quraisy terhadap dirinya dan umat Islam semakin menjadi.
Setelah tiba dan diterima penduduk Yasrib, Nabi resmi menjadi pemimpin kota itu. Babak baru dalam sejarah Islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Makkah, pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah. Nabi mempunyai kedudukan bukan hanya sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara otomatis sebagai kepala negara.

DAFTAR PUSTAKA

Aen Nurul, MA. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia
Yatim Badri,MA.1993. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
                Mufrodi Ali, 1997, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos
                Murodi, MA, 2002, Sejarah Kebudayaan Islam,Semarang:Toha Putra
                Samsul Munir Amin Amzah, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:




UMAYAH
PEMBUKAAN
1.1   Latar Belakang
Kajian tentang peradaban Islam sekarang ini memang sudah menganut pendapat bahwa kebudayaan Islam tidak lagi satu, tetapi sudah terdapat beberapa peradaban Islam. Akan tetapi, tampaknya peradaban-peradaban Islam yang disorot dalam kajian-kajian Islam sampai waktu belum lama ini hanya terbatas empat peradaban Islam yang dominan. Semuanya sangat berkaitan dengan empat kawasan, yaitu kawasan pengaruh kebudayaan Arab (Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Spanyol Islam), kawasan pengaruh kebudayaan Persia (Iran dan Negara-negara Islam Asia Tengah), kawasan pengaruh kebudayaan Turki, dan kawasan pengaruh kebudayaan India-Islam. Hal ini, tampaknya sangat ditentukan oleh perkembangan politik Islam sampai Periode Pertengahan. Kalau ada Periode Klasik, peran Arab sangat menonjol karena memang Islam hadir disana, maka pada Periode Pertengahan muncul tiga kerajaan besar Islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan Mughal di India. Kerajaan-kerajaan Islam yang lain, meski juga ada yang cukup besar, tetapi jauh lebih lemah bila dibandingkan dengan tiga kerajaan ini, bahkan berada dalam pengaruh salah satu diantaranya. Kajian politik rupanya masih sangat besar mempengaruhi kajian kebudayaan dan peradaban. Studi Islam seperti ini, maksudnya kajian Islam yang masih membatasi empat kawasan itu, masih terlihat dalam tulisan-tulisan ilmuwan kontemporer yang mengkaji persoalan keislaman.
Pembahasan sejarah perkembangan peradaban Islam yang sangat panjang dan luas itu tidak bisa dilepaskan dari pembahasan sejarah perkembangan politiknya. Bukan saja karena persoalan-persoalan politik sangat menentukan perkembangan aspek-aspek peradaban tertentu seperti akan terlihat dalam pembahasan makalah ini, tetapi terutama karena system politik dan pemerintahan itu sendiri merupakan salah satu aspek penting dari peradaban, sebagaimana disebutkan di atas. Karena itulah, uraian sejarah politik Islam dalam makalah ini sangat dominant, sementara aspek-aspek lain tampak hanya terikat didalamnya, seperti system pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan seni bangunan.
Sejarah politik dunia Islam dibagi menjadi tiga periode: Pertama, periode klasik (650-1250M), kedua, periode pertengahan (1250-1800M), dan periode modern (1800 sampai sekarang). Salah satu periode politik dunia Islam adalah Dinasti Umayyah.
Dinasti Umayyah dibangun oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan setelah keberhasilannya memenangkan perselisihan dengan Ali. Kemenangannya karena kecakapan dalam diplomasi ketika terjadi perdamaian dalan perang Shiffin, padahal saat itu dia sudah terdesak. Munculnya Mu’awiyah sebagai khalifah telah merubah system social politik masyarakat Islam. Ini dapat dilihat dari system suksesi atau perpindahan kekuasaan dari Ali melalui jalan kekerasan dan cara-cara curang melanggar prinsip demokrasi yang telah berlaku selama itu diajarkan Islam dan dipraktikkan ketika Abu Bakar, Umar, dan Usman maupun Ali diangkat menjadi khalifah. Apalagi Dia mewariskan kekuasaan kekhalifahan secara turun temurun kepada anaknya Yazid. Sukses ini dilakukan dengan pewajiban seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya. Oleh karena itu penulis membuat makalah ini membahas tentang Dinasti Umayyah.
1.2   Rumusan Masalah
  1. Bagaimana kelahiran Dinasti Umayyah?
  2. Sebutkan khalifah-khalifah Dinasti Umayyah!
  3. Sebutkan daerah-daerah Dinasti Umayyah!
  4. Sebutkan kemajuan-kemajuan dan kemunduran-kemunduran Dinasti Umayyah!
1.3   Tujuan Masalah
  1. Mahasiswa memahami kelahiran Dinasti Umayyah
  2. Mahasiswa mengetahui khalifah-khalifah Dinasti Umayyah
  3. Mahasiswa mengetahui daerah-daerah Dinasti Umayyah
  4. Mahasiswa memahami kemajuan-kemajuan dan kemunduran-kemunduran Dinasti Umayyah

PEMBAHASAN
2.1 Kelahiran Dinasti Umayyah
Dinasti Umayyah dibangun oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan setelah keberhasilannya memenangkan perselisihan denagn Ali. Kemenangannya karena kecakapan dalam diplomasi ketika terjadi perdamaian dalam perang Shiffin, padahal saat itu dia sudan terdesak. Munculnya Mu’wiyah sebagai khalifah telah merubah system social politik masyarakat Islam. Ini dapat dilihat dari system suksesi atau perpindahan kekuasaan dari Ali melalui jalan kekerasan dan cara-cara curang melanggar prinsip demokrasi yang telah berlaku selama itu diajarkan Islam dan dipraktikkan ketika Abu Bakar, Umar, Usman maupun Ali diangkat menjadi khalifah. Cara-cara curang yang dilakukan Mu’wiyah yaitu menolak membai’at Ali, berperang melawan Ali dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali yang sangat menguntungkan Mu’awiyah.
Keberuntungan Mu’awiyah berikutnya adalah keberhasilan pihak khawarij membunuh khalifah Ali r.a. Jabatan khalifah setelah Ali r.a. wafat, dipegang oleh putranya, Hasan ibn Ali selama beberapa bulan. Akan tetapi, karena tidak didukung oleh pasukan yang kuat, sedangkan pihak Mu’awiyah semakin kuat, akhirnya Mu’awiyah melakukan perjanjian dengan Hasan ibn Ali. Isi perjanjian itu adalah bahwa penggantian pemimpin akan diserahkan kepada umat Islam setelah masa Mu’awiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat pada tahun 661 M (41 H) dan tahun tersebut am jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan umat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik, yaitu Mu’awiyah dan Mu’awiyah mengubah system khilafah menjadi kerajaan (pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis/kerajaan turun temurun).
Pada masa itu, Umat Islam telah bersentuhan dengan peradaban Persia dan Bizantium. Oleh Karena itu, Mu’awiyah juga bermaksud meniru cara suksesi kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu monarki (kerajaan). Akan tetapi, gelar pemimpin pusat tidak disebut raja (malik). Mu’awiyah tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang diperbaharui. Jika pada zaman khalifah empat, khalifah (pengganti) yang dimaksudkan adalah Khalifah Rasul SAW. (Khalifat Al-Rasul) adalah pemimpin masyarakat, sedangkan pada zaman Bani Umayyah, yang dimaksud dengan khalifah adalah Khalifah Allah (Khalifat Allah) adalah pemimpin atau penguasa yang diangkat oleh Allah. Langkah awal dalam rangka memperlancar pengangkatan Yazid sebagai penggantinya adalah menjadikan Yazid Ibn Mu’awiyah sebagai putra mahkota (tahun 53 H). Sukses ini dilakukan dengan pewajiban seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya.   
2.2 Para Khalifah Dinasti Umayyah
Kekhilafan Umayyah terbagi dua kelompok sub Bani yaitu sub Bani Harb dan sub Bani Abu Al Ash. Dari Harb muncul tiga khalifah pertama : Mu’awiyah Ibn Abi Sofyan, Yazid ibn Mu’awiyah, dan Mu’awiyah Ibn Yazid. Sedang dari Abu Al Ash muncul khalifah-khalifah selanjutnya sampai keruntuhannya, bahkan dari sana pula lahir dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol). Khalifah dinasti Umayyah tersebut adalah  Marwan ibn Al Hakam, Abd Malik Ibn Marwan, Wahid ibn Abd Al Malik, Silaiman, Ibn Abd Al Malik, Umar Ibn Abd Al Aziz, Yazid Ibn Abdul Al Malik, Hisyam Ibn Abd Al M alik, Walid Ibn Yazid, Yazid Ibn Walid, Ibrahim Ibnu Walid dan Marwan Ibn Muhammad. Namun diantara keempat belas khalifah tersebut yang terbesar adalah Muawiyah ibn Abi Shufyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan  (685-705 M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M), Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M).
  1. Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan
Mu’awyah adlah pendiri dan peletak dasar dinasti Umayyah. Ia masuk Islam ketika berumur 23 tahun sewaktu terjadi fathu makkah bersamaan dengan Abbas paman Nabi. Semasa Nabi, Mu’awiyah diangkat sebagai salah satu penulis wahyu karena kepandaiannya dalam menulis dan berhitung. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Mu’awiyah ikut memimpin pasukan bersama Yazid Ibnu Abi Sufyan melawan tentara Romawi di Frout Barat. Pada masa Umar, Mu’awiyah diangkat sebagai gubernur di Ardan. Namun karena kecerdikan, teguh pendirian, dan banyaknya pengetahuan ia diangkat menjadi gubernur di Damascus. Usman kemudian mengangkatnya menjadi penguasa seluruh wilayah Suriah dan diangkat sebagai ketuanseluruh gubernur. Karena mempunyai kekuasaan yang begitu besar dengan dukungan militer dari rakyat Suriah, akhirnya memproklamirkan diri menjadi Khalifah setelah ada usaha dari Ali untuk mencopotnya dari posisi penguasa, bahkan setelah terjadi pembunuhan terhadap Ali, dan diserahkannya kendali khalifah dari Hasan kepada dirinya pada tahun persatuan (Am al Jama’ah) maka sejak itu ia dinobatkan menjadi Khalifah.
Kekuasaam Mu’awiyah berlangsung sangat panjang selam 19 tahun dari 41 H-60 H (661 M-680 M). Keberhasilannya memimpin Negara yang diakui dan diterima masyarakat Islam saat itu terletak beberapa hal, antara lain :
·         Mu’awiyah adalah keturunan Quraisy yang sangat terhormat dimata bangsa Arab, apalagi lahir dalam strata masyarakat Makkah dari kelas ningrat, mempunyai otoritas politik dan ekonomi.
·         Pandangan masyarakat Arab saat itu yang menyatakan bahwa kemimpinan adalah hak mutlak suku Quraisy.
·         Pandangan masyarakat kebanyakan yang menilai bahwa lebih baik ada penguasa meskipun mempunyai sikap licik.
·         Mu’awiyah mempunyai pendukung real dari rakyat Suriah yang sudah lama diperintah olehnya semasa menjadi gubernur, mempunyai pasukan tentara yang tangguh terlatih dan disiplin tinggi.
·         Mu’awiyah adalah negarawan dan administrator yang handal.  
  1. Abd Al Malik Ibn Marwan
Sebelum Abd Al Malik Ibn Marwan menjadi Khalifah terjadi situasi rusuh dan ketidakstabilan social politik akibat pemberontakan pertentangan dan kerusuhan di wilayah kekuasaan dinasti Umayyah, maka selam sekitar lima tahun mulai Yazid sampai Marwan tidak terjadi perkembangan dan kemajuan ditambah dengan masa yang pendek khalifah memerintah. Pemerintah Yazid selama empat tahun dihabiskan untuk memerangi pemberontak. Kemudian anaknya Mu’awiyah memerintah hanya 40 hari dan Marwan sekitar satu tahun. Baru ketika Abd al Malik dinobatkan menjadi khalifah suasana kacau dan tidak stabil dapat diperbaiki. Abd al Malik dikenal sebagai ilmuan agama terutama dalam Fiqih. Selam 21 tahun mulai dari 65-86 H (685-705 M) pemerintahannya ia mampu mengkonsolidasikan seluruh potensi masyarakat Arab Islam dan dapt mempersatukan mereka kembali untu dipakai sebagai alat Negara guna mencapai kemajuannya serta untuk memperbaiki dinasti Umayyah dari kehancurannya, mengembalikan integritas wilayah dan wibawa kekuasaan dinasti Umayyah.
Kebijakan politik yang dilakukan Abd Al Malik Ibn Marwan adalah memadamkan pemberontak-pemberontak, memperbaiki kinerja pemerintahan, perubahan bahasa administrasi, mencetak mata uang sendiri bertuliskan Arab dari emas dan perak, memajukan perdagangan, membuat irigasi, menyempurnakan tulisan Mushaf al-Qur’an dan sebagainya.
  1. Umar Ibn Abd Al Aziz
Kemampuan Abd Al Malik untuk menata kembali pemerintahannya dan mengamankan kekuasaan wilayah berakibat pada meningkatnya sumber pendapatan Negara. Dengan sumber pendapatan yang meningkat inilah, pada masa pemerintahan, Walid Ibn Abd Al Malik dinasti Umayyah, mencapai kekayaan yang berlimpahruah dan kemakmuran. Kekayaan tersebut dipergunakan membangun masjid-masjid, gedung-gedung, pabrik, jalan yang dilengkapi tempai istirahat untuk kafilah. Juga digunakan untuk kegiatan social menyantuni fakir miskin, yatim piatu, penderita kusta lumpuh, buta dan cacat. Bahkan ia mampu menaklukkan Spanyol dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad yang menjadikan Afrika Utara sebagai pusat penyerangannya. Walid juga mencoba menyerang Konstantinopel ibukota Romawi, meskipun gagal namun dapat menggeser batas kekuasaannya lebih maju lagi dengan menguasai Mar’asy dan Amuriah. Namun kondisi kemakmuran dan kekayaan tidak berlangsung lama. Setelah meninggalnya khalifah Walid, bahaya latenpun kembali pada saat kekhalifahan dipegang oleh Sulaiman Ibn Abd Al Malik yang kurang bijaksana, rakus terhadap harta dan suka berfoya-foya. Dalam kondisi seperti inilah Umar Ibn Abd Al Aziz ditunjuk untuk menjadi Khalifah. Umar Ibn Abd Al Aziz memerintah selama sekitar dua tahu dari 99-101 H (717-720 M) setelah ditunjuk Sulaiman karena pengalamannya sebagai pejabat, kaya ilmu, tapi zahid, sederhana, suka bekerja keras.
Kebijakan politik yang dilakukan Umar Ibn Abd Al Aziz lebih berorientasi kedalam dengan memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan tidak melakukan politik dan ekspansi. Untuk membangun kembali persatuan Umat, Umar menjalankan politik kesetaraan dan persamaan seluruh penduduk, dominasi sebuah etis atau kelompok dan apapun itu namanya adalah sesuatu yang anakronistik.
Kebijakan Umar, dengan politik kesetaraan seluruh warga muslim dalam semua aspek kehidupan kemudian orientasi politik Islam yang diterangkan bukan Arabisme telah menjadikan Umar menjadi bintang dalam kegelapan dinasti Umayyah.
Setelah kematian Umar pada tahun 10 H, kondisi pemerintah dinasti Umayyah terus mengalami kemunduran. Yazid Ibn Abd Al Malik menggantikannya, terlalu gandrung kepada kemewahan dan tidak memperhatikan kehidupan masyarakat. Hisyam ibn Abd al Malik yang menjadi khalifah setelah Yazid meskipun memerintah selama 20 tahun 105-125 H (724-743 M) dan termasuk khalifah yang sukses dan mempunyai pribadi yang bersih, pemurah, teliti dalam social keuangan mewmpunyai akhlak pribadi yang baik dan mewarisi kekayaan Negara namun karena besarnya gerakan oposisi dan pemberontakan dari kaum Syi’ah yang berkoalisi dengan kaum Abbasiyah, tidak mampu mengeluarkan dinasti Umayyah dari kondisi krisis. Bahkan setelah kematian Hisyam empat khalifah yang memerintah selam 7 tahun yaitu Walid Ibn Yazid, Yazid Ibn Walid, Ibrahim Ibn Walid dan Marwan Ibn Muhammad, tidak berdaya menjadi khalifah yang efektif. Dan dengan terbunuhnya Marwan 132 H (750 M) dinasti Umayyah berakhir.
2.3 Daerah Kekuasaan Dinasti Umayyah
                Daerah-daerah kekuasaan Dinasti Umayyah, antara lain:
  1. Daerah selatan : Sudan (Ethiopia)
  2. Daerah utara          : Rusia (Danau Oral)
  3. Daerah timur         : India
  4. Daerah barat          : Spanyol (Prancis)
Ekspansi Islam pada masa inilah yang membuat Islam menjadi Negara besar dan persatuan antar brebagai bangsapun dibawah naungan Islam menjadi terjalin erat.

2.4 Kemajuan-Kemajuan dan Kemunduran Kemunduran Dinasti Umayyah
        Kemajuan-kemajuan Dinasti Umayyah dibidang kenegaraan, ekonomi, ilmu pengetahuan. Seperti di bidang kenegaraan, dibentuk organisasi-organisasi meliputi :
a.        An-Nizham Asy-Siyasi, yaitu organisasi politik yang diubah dari system demokrasi menjadi system monarki, terdiri atas Al-Kitabah (sekretaris) dan Al-Hijabah (pengawal khalifah).
b.       An-Nizham Al-Idariy, yaitu organisasi yang mengurus bidang tata usaha kenegaraan, seperti organisasi pos dan giro, organisasi kepolisian, organisasi yang mengurusi daerah-daerah provinsi (kegubernuran), dan lain sebagainya.
c.        An-Nizham Al-Maliy, yaitu organisasi yang mengurusi bidang keuangan Negara, seperti pemungutan pajak, donatur, pengeluaran untuk gaji para pegawai, perlengkapan perang, hadiah, dan lain sebagainya.
d.       An-Nizham Al-Harbiy, yaitu organisasi pertahanan dengan tugas mempertahankan Negara atau wilayah dan mengadakan ekspansi daerah kekuasaan Islam.
e.       An-Nizham Al-Qadhiy, yaitu organisasi yang bergerak di bidang kehakiman dan pengadilan.
Perubahan bahasa dari bahasa yunani dan Pahlawi menjadi bahasa Arab, sehingga orang-orang bukan Arab yang masuk Islam untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang keislaman, dituntut untuk pandai bahasa Arab.
Selain mengubah bahasa administrasi, Abdul Malik juga mengubah mata uang yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Sebelumnya mata uang yang berlaku adalah mata uang Bizantium dan Persia, seperti Denarius menjadi Dinar dan Diram atau Drachma menjadi Dirham. Sebagai pengganti mata uang asing ini, pada tahun 659 M, Abdul Malik mencetak mata uang sendiri dengan memakai tulisan Arab. Dinar dibuat dari emas dan dirham dibuat dari perak.
Di bidang pembangunan, masjid-masjid pertama di luar semenanjung Arabia didirikan. Katedral St. John di Damaskus diubah menjadi masjid. Di Al-Qudsi (Jerusalem), Abdul Malik membangun masjid Al-Aqsha dan monument terbaik yang bernama Qubbah As-Sakhr (Dome of  the Rock). Kemudian Masjid Cordova saat itu dibangun, juga masjid di Mekah dan Madinah diperbaiki dan diperbesar. Selain pembangunan masjid-masjid, juga Dinasti Bani Umayyah mendirikan istana-istana untuk tempat beristirahat, seperti istana Qusayr Amrah dan Al-Mushatta yang bekas-bekasnya masih ada sampai sekarang.
Perhatian terhadap ilmu-ilmu pengetahuan keislaman pada masa ini juga telah mulai, seperti ilmu tafsir, hadis, tasawuf, fiqih, ilmu kalam, dan lain sebagainya. Bersamaan dengan itu lahir pula ulam-ulamanya, seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Shihab Az-Zuhri dan Washil ibn Atha’. Kegiatan-kegiatan ini seluruhnya dipusatkan di Kufah dan Bashrah (Irak).
Sebab-sebab jatuhnya Dinasti Umayyah :
1.       Sistem penggantian khalifah melalui garis keturunan
2.       Latar belakang yang diikuti dengan konflik-konflik
3.       Pertentangan antara etnis suku Arab Utara dan suku Arab Selatan semakin meruncing
4.       Kehidupan yang serba mewah di Istana
5.       Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Khalifah-khalifah besar dinasti Umayyah antara lain Muawiyah ibn Abi Shufyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan  (685-705 M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M), Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M).
Daerah-daerah kekuasaan Dinasti Umayyah, antara lain:
  1. Daerah selatan : Sudan (Ethiopia)
  2. Daerah utara          : Rusia (Danau Oral)
  3. Daerah timur         : India
  4. Daerah barat          : Spanyol (Prancis)
Kemajuan-kemajuan Dinasti Umayyah dibidang kenegaraan, ekonomi, ilmu pengetahuan. Sedangkan kemunduran-kemunduran dinasti Umayyah antara lain :
  1. Sistem penggantian khalifah melalui garis keturunan
  2. Latar belakang yang diikuti dengan konflik-konflik
  3. Pertentangan antara etnis suku Arab Utara dan suku Arab Selatan semakin meruncing
  4. Kehidupan yang serba mewah di Istana
  5. Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Yusuf Anwar Ali. Studi Agama Islam. Pustaka Setia. Bandung: 2003
  2. Supriyadi Deni. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia. Bandung: 2008
  3. Taufiqurrahman. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam. Pustaka Islamika Press. Surabaya: 2003
  4. Yatim Badri. Sejarah Peradaban Islam. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta: 1995




DINASTI FATIMIYAH, UMAYAHII, SALJUQ, AYUBBIYAH
A.    SEJARAH AWAL DINASTI FATHIMIYYAH
Dinasti Fathimiyyah merupakan penguasa negara yang besar berpusat di lembah Nil, Kairo. Kekhalifahan ini berkuasa selama lebih kurang 203 tahun yaitu sejak tahun 909 sampai tahun 1171 M. Cikal bakal dari keKhalifahan Fathimiyyah ini adalah Gerakan Bani Fathimiyyah yang berasal dari kelompok Syi’ah Ismailiyah, mereka mengasingkan diri ke kota Salamah guna menyelamatkan diri dari pengejaran Bani Abbasiyah di bawah pimpinan Khalifah Al-Ma'mun.
Kelompok ini tidak gegabah memperebutkan kursi keKhalifahan. Tetapi mereka terlebih dahulu merebut hati masyarakat dengan gerakan da'wahnya di berbagai daerah sehingga mereka benar-benar dapat menguasai situasi dan mengerti apa yang diinginkan rakyat. Ketidak puasan rakyat kepada Khalifah Abbasiah al-Muktafi merupakan angin segar bagi pemuka Fathimiyyah dalam merebut hati rakyat di Mesir, hingga akhirnya Mesir dapat di kuasai.

B.     PEMBENTUKAN KHALIFAH FATHIMIYYAH
Dinasti atau Khalifah Fathimiyyah ini mengaku sebagai keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah Muhammad SAW. atas dasar inilah mereka menisbatkan diri dengan nama Fathimiyyah.
Khalifah pertama mereka adalah ‘Ubaydillah al-Mahdi di samping itu Khalifah Fathimiyyah ini mempunyai pemimpin lain yaitu Ali Ibn Fadhi al-Yamani, Abi Qasyim Khatam Ibn Husain Ibn Hausah al-Kufi, AI-Halawani dan Abu Sofyan. ‘Ubaydillah al-Mahdi; yang telah memulai aktivitas di tahun 909 M. dia datang dari Syuruah ke Afrika Utara, menyamar sebagai pedagang, lalu tertangkap oleh Amir Dinasti Aghlabi ziadallah III dibantu oleh gebernurnya al-Yasa, 'ubaydillah dipenjarakan di Sijilmasah.[1] Kelompok yang dipimpin Abdullah Asy-syi'i ingin membebaskan 'Ubaydillah dari penjara Sijilmasah, melihat kelompok Asy-syi’i ini al-Yasa merasa takut lalu melarikan diri meninggalkan kediamannya. Dengan demikian Asy-syi'i dapat melepaskan 'Ubaydillah dan anaknya pada waktu itu pula Asy-Syi'i mengangkat ‘Ubaydillah menjadi Khalifah tepatnya di tahun 297/ 909 M.[2] Daulah Fathimiyyah ini berdiri di Afrika dengan ibu kotanya Raqadah di pinggiran kota Kairawan.
Dengan kejadian seperti ini dapatlah dikatakan bahwa 'Ubaydillah dan pendukungnya telah dapat merebut kekuasaan Bani Ahglab secara Defacto. Daerah pusat pemerintahan Ahglab ini dijadikan tempat pemusatan dakwah Syi'ah. 'Ubaydillah memulai aksi politiknya dengan menghilangkan nama Khalifah Bani Abbasiah yang selalu disebut dalam khutbah. Di kota Kairawan 'ubaydillah disambut oleh masyarakat, mereka membai'at dan menyatakan keta'atan terhadap 'Ubaydillah, namanya disebut di dalam khutbah dengan gelar "al-Mahdi Amir al- Mukminin", maka saat itu Daulah Fathimiyyah telah diakui dan resmi berdiri.
Obsesi yang tersirat dalam pendirian Bani Fathimiyyah yang terpenting adalah mencoba menguasai pusat dunia Islam; yaitu Mesir. Hal yang mendorong mereka untuk menguasai Mesir tersebut adalah faktor "Ekomomi" dan "Politik". Ditinjau dari faktor ekonomi Mesir yang terletak di daerah Bulan Sabit yang alamnya sangat subur dan menjajadi daerah lintas perdagangan yang strategis; perdagangan ke Hindia melalui laut Merah, ke Italia dan Laut Tengah Barat, ke kerajaan Bizantium.[3]
Dari segi faktor politik, Mesir terletak di wilayah yang strategis menurut peta politik, daerah ini dekat dengan Syam, Falestina dan Hijaz yang juga merupakan wilayah Mesir sejak Dinasti Tulun. Bila Fathimiyyah dapat menaklukkan Mesir berarti akan mudah baginya untuk menguasai Madinah sebagai pusat Islam masa lampau, serta kota Damaskus dan Bahgdad dua ibu kota ternama di zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiah. Dengan demikian maka nantinya Dinasti Fathimiyah ini akan cepat termasyhur dan di kenal Dunia.
Untuk mencapai hal yang telah dicanangkannya ini 'Ubaydillah al-Mahdi memerintahkan anaknya Qal-Qasim, melakukan ekspedisi ke Mesir, perjalanan ini dilakukan berturut -turut pada tahun 913, 919 dan 925 H, akan tetapi ekspedisi ini tidak berhasil. AI- Muiz, Khalifah keempat dari Dinasti Fathimiyyah melanjutkan rencana penaklukan yang dicita-citakan oleh Khalifah pertama Bani Fathimiyyah ('Ubaydillah al- Mahdi), dia memulai seterategi baru yakni merangkul kelompok Beber yang ingin melekukan pemberontakan terhadap Fathimiyyah, semua kelompok itu dapat ditundukkannya. Setelah itu orang Fathimiyyah mengadakan persiapan yang cermat, disamping itu mereka mengadakan propaganda politik di saat Mesir dilanda bencana kelaparan yang hebat. Jauhar menerobos Kairo lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan dia dapat menguasai negeri itu. Seorang pangeran Ikhsidiyah yang bernama Ahmad masih berkuasa pada waktu itu, tetapi rezim Ikhsidiah sudah tidak berfungsi lagi dan tidak memberikan perlawanan kepada tentera Jauhar.[4] Jauhar memasuki Mesir bersama 100.000 tentera.[5] Jauhar mulai membangun kota baru yang diberinya nama al-Qahirah berarti kemenangan di kota ini dia menempatkan bala tenteranya. Serangan ke Mesir ini dilakukan pada tahun 358 H atau 969 M.
Setelah al-Qahirah (Kairo) dibangun; pada tahun 973 M pusat pemerintahan Dinasti Fathimiyyah dipindahkan ke Kairo dan bertahan sampai tahun 1171 M.[6] Kota Kairo juga sebagai tempat kediaman para Khalifah Fathimiyyah. Maka pembentukan kekuasaan (Khilafah) Fathimiyyah ini, tercatat di masa pemerintahan al-Muizz. Persiapan awal yang dijalankan pertama sekali olehnya adalah:
·         merangkul kelompok yang ingin memberontak
·         mempersiapkan tentera untuk melakukan penyerangan
·         membangun jalan raya menuju ke Mesir
·         menggali sumur-sumur di pinggiran jalan raya menuju ke Mesir
·         membangun rumah tempat peristirahatan (tentera)
·         mempersiapkan dana (keuangan guna perbekalan bagi pasukan Fathimiyah.[7] Sebagai Panglima yang dipercayakan memimpin tentera pada penaklukan Mesir itu, Jauhar menjalankan aksi politik Fathimiyah bagi penduduk Mesir yaitu dengan :
·         memberikan keyakinan kepada penduduk tentang kebebasan mereka menjalankan ibadah menurut agama dan mazhab mereka masing-masing
·         berjanji akan melaksanakan pembangunan di negeri itu dan akan menegakkan keadilan
·         mempertahankan Mesir dari serangan musuh.[8]
·         menghapuskan nama-nama khalifah bani Abbasiah yang disebut-sebut dalam do’a ketika shalat jumat dan digantikan dengan nama Khalifah Fathimiyah.
·         menata pemerintahan Penataan pemerintahan yang dilakukan Jauhar adalah menetapkan kedudukan Ja'afar ibn al-Fadl ibn al-Furat di Mesir, sebagai wazir di Mesir.
Pegawai dari golongan Sunni tetap pada posisi semula ditambah dengan seorang pegawai dari Syi'ah Mahgribi disetiap bagian. Masyarakat Mesir terdiri dari tiga golongan yakni Golongan Sunni, golongan Kristen Koptic dan golongan Syi'ah. Semuanya dibebaskan menjalankan ajaran agamanya masing- masing. Dari setiap mazhab yang ada diangkat seorang kadhi. Dengan demikian masyarakat Mesir yang beraliran Sunni itu tidak merasa khawatir dan tidak menentang pemerintahan yang beraliran Syi’ah IsmaiIiyah ini, rakyat menaruh simpati kepada pemerintahan Fathimiyyah, propaganda Syi'ah yang dijalankan oleh Jauhar ini berhasil.

C.    POLA PEMERINTAHAN
Pola pemerintahan yang dijalankan Fathimiyyah mengikuti pola pemerintahan bani Abbasiah di Bahgdad. Kepemimpinan dikonsentrasikan kepada Khalifah dan dibai'ah lewat seremoni yang megah.
Setelah memerintah selama 22 tahun, al-Mu'iz telah dapat memimpin Negara dengan baik, dapat dikatakan khilafah Fathimiyyah berdiri kokoh, sesudah beliau wafat kepemimpinan Dinasti Fathimiyyah berturut -turut dipimpin Khalifah, al-'Aziz (anak al- Mu'iz), al-Hakim (996M), al-azh-Zahir (1021 M), al-Mustansir (103 M), al-Musta'ali (1094 M , al-Amir (1101 M), al-Hafiz (1131M ), azh-Zhafir (1154 M), al- Fa'iz (1154 M), al-'Adhid (1171 M). Lamanya Dinasti Fathimiyyah berdiri 208 tahun.

D.    POLITIK DAULAH FATIMIAH
Pemahaman syiah pada masa Daulah Fatimiah sangatlah kental terlihat dalam kebijakan politik kenegaraannya, mereka menguatkan pendapat yang sesuia dengan mazhab syiah dan mendahulukan pengamalan agama dengan mengikut pendapat para imamnya dari pendapat para imam sunni, walaupun kebanyakan penduduk Mesir Saat itu bermazhab sunnah.
Ya'qub bin Kalas seorang wazir pada pemerintahan Fatimiah menyusun sebuah kitab fiqh yang disusun berdasarkan mazhab Syiah Isma'iliyah dengan arahan langsung khalifah Al Mu'iz Lidinillah yang berkuasa saat itu. Kitab ini dijadikan sebagai pedoman dalam memustuskan perkara di pengadilan dan fatwa lainnya. Sehingga siapa saja yang menjadi qadhi mesti berpodoman pada kitab ini.
Al Mu'iz Lidinillah memerintahkan bawahannya agar di buat rumah khusus disamping universitas Al Azhar untuk pelatihan dalam rangka memahami kitab tersebut. Wazirnya di perintahkan untuk mendatangkan para fuqaha' yang saat itu berjumlah 35 orang kemudian di beri fasilitas dan gaji yang mencukupi, bukan hanya itu para fuqaha' juga di sediakan tunjangan hari raya dan fasilitas di istana untuk tujuan mengajarkan kitab tersebut kepada masyarakat. Semua itu sebagai motivasi kepada para du'ah yang memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai kitab tersebut dan seluruh biaya tersebut di tanggung oleh khalifah. Sebab khalifah tau bahwa pemerintahannya akan bertahan lama jika ilmu tersebut disebarkan pada masyarakat.

E.     KEMAJUAN KHALIFAH FATHIMIYYAH DI MESIR
Sejak awal berdirinya daulat Fathimiyyah, para pemukanya telah mempunyai perencanaan untuk mencapai kejayaan. Kecemerlangan itu dicapai pada masa al- Aziz Khalifah Fathimiyyah ke-5. Bila diamati dari perjalanan sejarahnya, khalifah fathimiyyah mempunyai beberapa keistimewaan di berbagai bidang, antara lain: pengaruh para Da’i yang sengaja disebarkan di daerah-daerah yang akan ditaklukkan, maka dengan demikian masyarakat dapat menerima mereka dengan damai. Kegigihan Khalifah yang dimotivasi doktrin-doktrin Syi’i serta kelengkapan militer dan finansial, merupakan sarana untuk kemajuan.

C.1. Kemajuan di Bidang Politik
Khalifah Fathimiyyah mengadakan eksvansi ke Mesir yang dipimpim oleh ubaydillah al-Riahdi dengan mengadakan propaganda Syi'i di dukung oleh Da'I masyhur bernama Asy-Syi'i. Sebelum ke Mesir mereka telah dapat menaklukkan Dinasti Aghlabiyah di Ifriqiyah. Dinasti Idrisiyah di Fez, Dinasti Rustamiyah Khariji di  Tahart.[9] Pendudukan Sisilia kemudian melakukan operasi militer di Istambul. Fathimiyah mengumpulkan kekayaan di Ifriqiyah atau a1-Mahdiyah guna persiapan eksvansi ke Timur.[10] Oleh K. hitti dicatatkan bahwa pemerintahan Fathimiyyah ini meluaskan kekuasaannya membentang dari daerah Yaman, sampai ke Laut Atlantik, ke Asia Kecil dan ke Mosul.
Para Khalifah Fathimiyyah mendirikan kota sesuai dengan nama-nama mereka, misalnya, 'Ubaydillah al-Mahdi mendirikan kota al-Mahdiah di Tunisia. Khalifah al-Mansur mendirikan kota al-Mansuriah di tahun 948 M, dan pada masa al-Mu'iz, panglima perangnya Jauhar mendirikan al-Qahirah sebagai ibu kota pemerintahan. Khalifah al-Aziz mengadakan penataan administrasi pemerintahan Fathimiayah (mirip dengan gaya administrasi pemerintahan Baghdad), Kekhalifahan jatuh ketangan anak khalifah jika ayahnya wafat (Monarchi). Putra mahkota hanya satu orang saja.[11] Staf ahli penyusun Administrasi mereka adalah Ya'qub ibn Killis (seorang Yahudi yang memeluk agama Islam). Orang-orang Sunni diberikan jabatan dalam pemerintahan. Pelaksanaan pemerintahan dibantu oleh Wazir Tanfiz yang membawahi dewan, yang terdiri dari Dewan
a.              Dewan Insya', bertanggung jawab pada pembangunan.
b.             Dewan Iradah al-Maliah, bertanggung jawab pada bagian keuangan negara.
c.              Dewan Iradah al-Mahalliyah, urusan pemerintahan Daerah. PEMDA di masa ini dipimpin oleh seorang Gubernur.
d.             Dewan al-Jihad, pada urusan pembangunan angkatan bersenjata
e.              Dewan Rasail, pelayanan Pos.[12]
Bidang militer diatur sistem kemiliteran dengan tiga jabatan penting, yaitu :
1.             Para Amir, Pegawai Tinggi dan Para Pasukan Pengawal Khalifah, dilengkapi pedang yang terhunus.
2.             Para pegawai, pangawal ketua
3.             Gelar Hafizhiyah (penjaga) atau Yunusiayah, diberikan kepada Resimen yang lainnya.
Jabatan tertinggi dalam pemerintah pada umumnya diberikan kepada orang Syi’ah. Para pegawai tersebut diberikan gaji yang memuaskan, diberi pakaian dan berbagai hadiah di hari-hari besar tertentu.[13]

C.2. Kemajuan di Bidang Ekonomi
Kemajuan bidang ekonomi sangat nyata bagi rakyat Mesir di masa pemerintahan Fathimiyah, penghasilan utama mereka, dari bidang pertanian karena tanahnya sangat subur-subur, bidang perdagangan dan perindustrian. Mesir merupakan negara agraris yang amat subur maka perhatian pemerinta disektor ini besar sekali, irigasi dibangun untuk mengalirkan air dari sungai Nil kelahan-lahan pertanian, endapan lumpur dari sungai Nil ini menyuburkan tanaman mereka. Penghasilan meraka kurma, gandum, kapas, gula dari tebu, bawang, dan lainnya. Mereka juga mengusulkan kayu yang digunakan untuk membangun dermaga dan kapal-kapal laut atau kapal dagang.[14]
Perindustrian Mesir, menghasilkan tekstil, kain sutra, dan wol yang mereka eksport ke negara Eropah. Industri kerajinan Mesir menghasilkan karya yang bermutu seperti kiswah Ka’bah yang sulam dengan benang emas. Pembuatan Kristal dan keramik, mereka juga mendapatkan incam dari hasil tambang besi, baja, dan tembaga.
Khalifah al-Mu’iz memprakarsai berdirinya pabrik tekstil yang memproduksi pakaian para pegawai pemerintah.
Bidang perdangangan berkembang pesat dan mendapat dukungan dari pemerintah, tidak pernah ada hambatan dan kerusuhan dalam kehidupan mereka, maka para pedagang dari berbagai penjuru berdatangan ke daerah ini, jadilah Mesir sebagai sentral dagang. Pusat perdagangan itu kota Fustat, Kairo, Diniyat, dan Quas dan Iskandariah sebagai kota pelabuhan juga pusat perdagangan internasional. Ya’qub ibn Killis, membuat sistem pajak yang dijalankan Dinasti Fathimiyyah di zaman al-Mu’iz, hasil pajak diFustat satu hari mencapai 50.000 sampai 120.000 dirham.
Dari Dimyat, Asymun diperoleh hasil pajak lebih dari 220 dirham per hari. Pada masa Wazir al-Hasan ibn. ‘Ali al-Yazuri, hasil pajak yang diperolehnya ± 2.000.000 dinar per tahun. Dari Syam 1 juta dinar per tahun.[15] Dapat disimpulkan: Di bawah Fathimiyyah, Mesir dan Kairo mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli Irak dan Bahgdad.

C.3. Kemajuan di Bidang Ilmu Pengetahuan
Kecenderungan para Khalifah Fatimiah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, terlihat sejak zaman al-Muiz, usaha untuk merealisasikan tujuan mereka dijalankan dengan cara melakukan propaganda yang pa dat keseluruh propinsi para da’i secara terstruktur dikepalai oleh seorang da’I Dakwah yang disamapikan bertujuan untuk menyampaikan doktrin agama dan mengimbau rakyat agar berpendidikan tinggi.[16]
Pendidikan tersebut diutamakan pada sains-sains Yunani, keterbukaan pada pemikiran filsafat Yunani membawa kepada pencapaian ilmiah yang tertinggi di Kairo di bawah pemerintahan Bani Fathimiyyah, meraka mengembangkan Risalat Ikhwanu s- Safa, sebuah karya dihasilkan di Basrah. Risalat ini merupakan sebuah ensiklopedia mengenai saint Yunani, yang bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana cara memperoleh kebahagiaan di dunia masa datang. Karya yanng dihasilkan masa Fathimiyyah itu lebih ilmiah dan lebih filsafati. Pada masa Khalifah al-Aziz (975 M), semangat intelektual dan pengembangan kualitas pemikiran orang Mesir, dapat mengungguli lawan-lawannya. Al-Aziz berusaha merubah fungsi Mesjid al-Azhar yang dibangun oleh Jauhar, menjadi sebuah Universitas yang pertama di Mesir, yang merupakan waqaf dari al-Azizi sendiri. Universitas ini direktrut mahasiswa dari seluruh negara Islam dengan fasilitas yang lengkap, asrama mahasiswa, makanan, dan beasiswa.[17]
Di Universitas ini diajarkan berbagai cabang ilmu pengetahuan: fikih, sejarah,dan sastra. Sampai saat ini Universitas al-Azhar sangat terkanal dan lebih maju.
Pada masa Khalifah al-Hakim (996 M), didirikan dar al-Hikmah yaitu tahun1005 M, akademi ini dilengkapi dengan perpustakaan (Dar al-‘Ulum); di sini diajarkan ilmu pengetahuan agama dan sains seperti fisika, astronomi, kedokteran. Akademi ini didirikan untuk menandingi Universitas di Cordova, ia juga membangun observatorium, di Mesir di al-Muqatan dan Siria.
Di masa al-Mustansir dibangu perpustakaan negara yang memiliki 200.000 eksemplar buku; Fiqih, Sastra, fisika, kimia, dan kedokteran. Ibn Killis seorang pecinta ilmu mendirikan sebuah akademi dan menyediakan dana beribu dinar setiap bulannya untuk pengembangan ilmu.[18] Kegiatan ilmiah diadakan di Dar al-hikmah, dalam bentuk penelaahan, diskusi, mengarang dan menulis. Beberapa ilmuan yang aktif dimasa ini: Abu Hanifah al-Maghribi, ahli agama dan ulama Syi’ah Ismaili. Di bidang sejarah, Hasa Ibn ali bin Zulhag, Abu Hasan Ali al-Syabsyata, Ibn Hammad, Muhammad ibn Yusuf al-Kindidan Ibn Salamah al-Quda’i.
Di bidang filsafat al-Razi, al-Kindi, Abu Ya’qub, Jakfar ibn Mansur, tokoh ilmu kedokteran, Abu abd allah, tokoh matematika abu Ali Muhammad al-Haitami, tokoh ilmu kimia , fisika, dan optik, Ibn haisyam dan yang Mansyur di bidang ilmu bintang (astronomi), Ali bin Yunus dan Jiz bin Yunus.[19]
Ahli optik yang menulis buku tentang penyakit mata ke dalam bahasa Latin antara lain; Ibn Haitami dikenal juga dengan al-Hazan bukunya “Al-Manazir”, Amri Ali “al- Muntakhab fi ‘Ilaj al-“Aini”, Isa “Tazkirah”. Tokoh di bidang sastra, Abu al-Hamid ai-Anthaqi, Ibn Hani, Ibn Abi Jar, Abu hamid Ahmad dan Abdu al-Wahhab ibn Nashr. Arsitektur Fathimiyyah dipengaruhi gaya seni Persia tercermin dalam bangunanbangunan Mesjid al-Azhar, al- Hakim, al-Shalih lalu tergambar juga pengaruh Tulun, Afrika Utara, yaitu pada kuburan yang dibangun. Kubur Athiqah, al-ja’fari. Wazir Badr al Jamali membangun tembok kota Kairo dengan tiga buah pintu gerbang yang indah yang dinamainya dengan Bab Zuwayli, Ba, an-Nasr dan Bab al-Futuh. Dari segi seni sastra dan arsitektur Mesir belum bisa mengalahkan keindahan seni di Bahgdad.

C.4. Bidang kebudayaan dan Keagamaan
Menjadikan mesjid sebagai tempat pendidikan agama walaupun yang dimaksud untuk mengembangkan ideology mereka. Ada sebuah mesjid yang yang kemudiannya menjadi universitas Al Azhar. Khalifah juga membiayai para fuqaha dan du'ah yang menyebarkan ilmu pengetahuan. Hai ini membuktikan bahwa khalifah mencintai ilmu dan suka pada kemajuan.

C.5. Universitas Islam Al Azhar Kairo
Jami Al Azhar didirikan bersamaan dengan masuknya kekuasaan Fatimiyin di Kairo, tepatnya setelah beberapa bulan kekuatan fatimiyin memasuki Kairo, pembangunan jami Al Azhar memakan waktu kurang lebih dua tahun, yang kemudian dibuka secara resmi oleh Jauhar al Shaqali29 dengan shalat jumat pada tanggal 7 Ramadhan 361 H / 21 Juni 972 M. Sedang Al Muiz Lidinillah baru datang dari Maroko masuk Kairo setahun kemudian.
Jami Al Azhar mempunyai penghargaan tersendiri dari para khalifah fatimiyin, dibalik itu mereka ingin menjadikannya markas penyebaran faham syiah. Di sekitarnya dibangun rumah bagi mereka yang mengajar pada Al azhar, dari sinilah dimulainya pengajaran di jami Al Azhar.
Dalam blantika dunia keilmuan, Al Azhar merupakan universitas tertua, tidak hanya di dunia Islam, namun di seluruh dunia. Karena universitas-universitas di Amerika dan Eropa baru didirikan dua abad setelah berdirinya Al Azhar, seperti Universitas Paris didirikan pada abad ke-12 Masehi, Universitas Oxford di Inggris pada abad ke-13, demikian juga universitas-universitas Eropa lainnya. Universitas yang mengimbangi Al Azhar dari segi sejarahnya adalah Universitas Qarawain di Kota Fas Maroko, bahkan ada yang mengatakan bahwa Jami Al Qarawain adalah Universitas tertua di dunia, karena pengajarannya sudah bermula sejak didirikannya yaitu sejak tahun 245 H/ 859 M. dan sampai sekarang masih eksis.
Al Azhar merupakan Univesitas pertama yang para pengajarnya didanai oleh negara, serta posisi Mesir yang strategis di tengah dunia Islam, menjadikan Al Azhar tempat tujuan menimba ilmu agama dari para masyayikhnya, hanya saja besarnya kedudukan Al Azhar bukan karena tertua atau tidaknya, namun karena mutunya yang unggul.
Dalam kekuasaan daulah Fatimiah Jami Al Azhar mengalami beberapa kali renovasi, seperti pada masa al Hakim Biamrillah, al Mustanshir Billah, dan Al Hafidz Lidinillah. Terlihat hingga sekarang hasil renovasi yang dilakukan oleh Al Hafidz Lidinillah dengan peninggalannya qubah yang dihiasi dengan tulisan ayat-ayat Al Quran dengan khath kufi dan bermacam-macam hiasan yang indah.

F.     KERUNTUHAN DAULAH FATIMIAH
Pada tahun 558 H/1163 M, panglima Asasuddin Shirkuh membawa Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir. Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besarnya Shawar merasa iri melihat kekuasan Syirkuh semakin besar. Dengan sembunyi-sembunyi Shawar pergi ke Baitul Maqdis, meminta bantuan pasukan Salib untuk menghalau Syirkuh dari Mesir.
Pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Almeric dari Jerussalem menerima permintaan tersebut. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin Shirkuh dengan Raja Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin Shirkuh.
Setelah menerima syarat damai dari kaum Salib, panglima Asasuddin Shirkuh dan Shalahuddin diperbolehkan pulang ke Damsyik. Kerjasama Wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan raja Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk raja Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentara besar yang tetap dipimpin oleh panglima Asasuddin Shirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar.
Panglima Asasuddin Shirkuh dan Shalahuddin mulai maju ke ibu kota Kairo dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke makam orang shaleh di Mesir, ternyata Wazir Besar Shawar dijumpai bersembunyi di situ. Shalahuddin segera menangkap dan dibawanya ke istana untuk dihukum mati.

G.    SEBAB-SEBAB KEHANCURAN DAULAH FATIMIYAH
Banyak sekali sebab-sebab yang membawa hancurnya Daulah fatimiah di Mesir, seperti berikut:
1.      Penyerangan yang dilakukan oleh Salahuddin Al Ayubi
2.      Munculnya ulama-ulama besar seperti Abu Ishaq Asy Syairazi, Ibnu Jauzi dan lain-lain dalam memberi peringatan tentang bahaya ideologi Syiah
3.      Kembali Khilafah Abbasiah berpegang pada Al Qur'an dan Sunnah dimana sebelumnya yang berkuasa adalah Dinasti Buwaih berfaham Syiah (320 H – 447 H)
4.      Perlawanan masyarakat Mesir yang semakin meluas terhadap ajaran Syiah yang di bawa oleh Daulah Fatimiah
5.      Khilafah Abbasiah Al Qadir billah Amirul Mukminin pada tahun 480 H meminta Fuaqaha' Mukatazilah bertaubat dan melarang mereka mempelajari hal-hal yang bertentangan dengan Islam, termasuk juga melarang masyarakat berideologi seperti Syiah serta menjauhkan diri dari perbuatan bid'ah
6.      Penangkapan pengikut Syiah, Qaramithah dan di umumkan diatas mimbar tentang kesesatan pahaman tersebut
7.      Seruan dan taktik yang di buat oleh khalifah semakin membuat bani Buwaih tertekan dan lemah, sehingga membuat kekuatan Syiah berada pada taraf yang sangat lemah

b. Khalifah – Khalifah Dinasti Umayyah II
Diantara khalifah-khalifah Umayyah II yang terkemuka diantaranya,
* Abdurrahman ad Dakhil (755-788 M)
* Al Hakam bin Hisyam (796-821 M)
* Abdurrahman ibnul Hakam (821-852 M)
* Muhammad bin Abdurrahman (852-886 M)
* Abdullah bin Muhammad (889-912 M)
* Abdurrahman bin Muhammad (912-961 M)
1. c. Kemajuan Peradaban Dinasti Umayyah II
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks. Diantara kemajuan tersebut diantaranya,
1. Kemajuan Intelektual
Masyarakat Spanyol merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun, Barbar, al-Shaqalibah[1], Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan perkembangan ilmu pengetahuan di Spanyol. Perkembangan tersebut meliputi,
a. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn alSayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Pada akhir abad ke-12 M, muncullah seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayatul Mujtahid.
b. Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibnul Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunisia adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
c. Fiqh
Dalam bidang fiqh, Islam di Spanyol dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
d. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Islam di Spanyol mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi’ yang dijuluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu.
e. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibnul-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.
1. Kemajuan Pembangunan Fisik
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal hal tersebut sebelumnya.
Disamping pertanian dan perdagangan, industri merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar. Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota az-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, masjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.
d. Kemunduran dan Runtuhnya Dinasti Umayyah II
Dinasti Umayyah II runtuh pada tahun 422 H/1030 M. Pemerintahan Bani Umayyah II tercabik-cabik dan akhirnya menjadi negeri-negeri kecil yang tersempal-sempal. Beberapa penyebab kemunduran dan kehancuran Umat Islam di Spanyol di antaranya,
1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen yang ditaklukkan dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Jika di tempat-tempat lain para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan.
3. Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan militer
4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk ath-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella, diantaranya juga disebabkan permasalahan ini.
5. Keterpencilan
Islam di Spanyol bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana.
[1] penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran


1.      Sejarah Munculnya Dinasti Ayyubiyyah
Pendiri dinasti ini adalah Shalahudin Al-Ayyubi, lahir di takriet 532 H/1137 M meninggal 589 H/ 1193 M dimasyurkan oleh bangsa Eropa dengan nama saladin pahlawan perang salib dari keluarga ayyubiyah suku kurdi.
Dinasti Ayyubiyah di Mesir berkuasa tahun 1169 sampai akhir abad ke-15 M. menggantikan dinasti Fatimiyah. Pendiri dinasti ini adalah Salahuddin. Ia menghapuskan sisa-sia Fatimiyah di Mesir yang bercorak Syi’i dan mengembalikannya ke faham sunni-ahlu sunnah wal jama’ah-. Reputasi Salahudin bersinar setelah sukses melawan tentara Salib dengan mempersatukan pasukan Turki, Kurdi dan Arab. Kota Yerussalem pada tahun 1187 kembali ke pangkuan Islam dari tangan tentara Salib yang telah menguasainya selama 80 tahun.
Gangguan politik terus-menerus dari wilayah sekitarnya menjadikan wibawa Fathimiyah merosot. Pada 564 Hijriah atau 1167 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi mengambil alih kekuasaan Fathimiyah[1]. Tokoh Kurdi yang juga pahlawan Perang Salib tersebut membangun Dinasti Ayyubiyah, yang berdiri disamping Abbasiyah di Baghdad yang semakin lemah.
2.      Perkembangan Dinasti Ayyubiyyah
Beralihnya tapuk kekuasaan dari dinasti fathimiyyah ke tangan dinasti Ayyubiyyah mengakhiri berkembang luasnya paham syi’ah di mesir. Shalahuddin membawa pembaharuan bagi mesir dan merupakan angin segar bagi para penganut ahli sunnah wal jama’ah.
Perkembangan Dinasti Ayyubiyyah tidak terlepas dari peran besar Shalahudin sendiri. Shalahudin mempunyai dua tugas utama sebagai khalifah Ayyubiyyah. Pertama, sebagai seorang negarawan yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah. Kedua, sebagai panglima perang salib yang telah berhasil mengalahkan tentara salib.
Untuk tugas pertama, beliau telah banyak mengadakan pembangunan, membangun administrasi negara, ekonomi, perdagangan, memajukan ilmu pengetahuan, membangun madrasah dan sekolah, mengembangkan dalam bidang kegamaan mazhab ahli sunnah. Dan pada masanyalah banyak bermunculan cendikiawan dalam ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang misalnya seperti Maimoonides yang terkenal sebagai ahli ilmu astronomi, ilmu ke-Tuhanan, tabib, dan terutama sebagai ahli filsafat. Selain itu juga terdapat Ibn al Baytar (1246 M) sebagai dokter hewan dan medikal dan beberapa karyanya yang sampai saat ini masih terkenal di wilayah Eropa tentang buku ramuan obat Islam “ Management Of The Drug Store”. Dan masih banyak lagi cendikiawan dalam ilmu pengetahuan pada masanya.
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir perkembangan wakaf sangat menggembirakan. Pada masa ini, wakaf tidak hanya terbatas pada benda tidak bergerak, tapi juga benda bergerak semisal wakaf tunai. Tahun 1178 M/572 H, dalam rangka menyejahterakan ulama dan kepentingan misi madhab Sunni, Salahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan bahwa orang Kristen yang datang dari Iskandar untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Tidak ada penjelasan, orang Kristen yang datang dari Iskandar itu membayar bea cukai dalam bentuk barang atau uang? Namun lazimnya bea cukai dibayar dengan menggunakan uang. Uang hasil pembayaran bea cukai itu dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha’ (juris Islam) dan para keturunannya.[2]
Dan untuk tugas kedua beliau telah membangun persatuan bangsa Arab di bawah naungan Abbasiyah di Baghdad untuk menghadapi agresi tentara salib, membangun benteng pertahanan militer yang terkenal dengan benteng Solahudin.
3.      Akhir Masa Dinasti Ayyubiyyah
Dinasti Ayubiyyah mula merosot ketika mereka mulai bergantung kepada hamba yang dibawa dari Turki dan Mongol sebagai tentera. Hamba-hamba ini mula bertambah kuat dan dikenali sebagai Mamluk. Kekuasaan Ayubiyyah merosot terus selepas kehilangan Mesir kepada Mamluk pada tahun 1250. Ayubiyyah terus memerintah Damsyik dan Aleppo sehingga tahun 1260 hingga mereka diusir keluar oleh orang Mongol. Kemarahan Mongol yang dapat disekat di Ain Jalut oleh tentera Mamluk sehingga menjadikan Mamluk semakin kuat. Tahun berikutnya hampir seluruh Syria jatuh ke tangan Mamluk. Kerajaan Ayubiyyah sempat masih terus memerintah sebagian kecil kawasan Syria seperti Hamah untuk 70 tahun berikutnya sehingga mereka diduduki oleh Mamluk.
Sultan-sultan Mesir Ayubiyyah yang terkenal adalah:
1.      Salahuddin Al-Ayubbi 1171-1193
2.      Al-Aziz 1193-1198
3.      Al-Mansur 1198-1200
4.      Al-Adil I 1200-1218
5.      Al-Kamil 1218-1238
6.      Al-Adil II 1238-1240
7.      As-Salih Ayyub 1240-1249
8.      Turanshah 1249-1250
Sajarot ad-dur (merupakan salah satu dari keturunan sultan Solahudin yang manjadi titik akhir pemerintahan dinasti Ayyubiyyah yang kemudian berganti dibawah kekuasaan dinasti Mamalik)

pemudagenius.blogspot.com/2011/06/sejarah-dinasti-ayyubiyah.html
http://ihsan26theblues.wordpress.com/2010/12/04/dinasti-umayyah-ii/

ABBASYIYAH
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abu al Abbas(750-754) yang berperan sebagai pelopor. Irak mejadi panggung besar drama itu. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid kuffah, khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya as-saffih, penumpah darah,yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya.Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, disisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi. As-saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga setelah khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah yang sangat besar dan berlangsung lama. Dari 750 M hingga 1258 M penerus Abu al Abbas memegang pemerintahan, meskipun mereka tidak selalu berkuasa.
Pemerintahan Bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol. Ia demikian kuatnya, sehingga apabila seseorang menyaksikan, pasti akan bependapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapa pun. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayah, meskipun ia dipatuhi sejumlah besar manusia yang takluk pada kekuasaannya, tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Itulah sebabnya, belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasanya dan mencapakkan dengan mudah sekali.
B.    Rumusan Masalah
1.     Bagaimana proses pendirian Dinasti Abbasiyah ?
2.     Siapa saja khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah ?
3.     Apa saja Kemajuan-kemajuan yang dicapai Dinasti Abbasiyah ?
4.     Apa sebab-sebab Kemunduran Dinasti Abbasiyah ?
5.     Apa sebab-sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah ?

C.    Tujuan Pembahasan
1.     Memahami proses pendirian Dinasti Abbasiyah !
2.     Mengetahui periodesasi khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah !
3.     Mengetahui kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah !
4.     Mengetahui sebab-sebab kemunduran Dinasti Abbasiyah !
5.     Mengetahui sebab-sebab kehancuran Dinasti Abbasiyah !

PEMBAHASAN

A.    PENDIRIAN DINASTI ABBASIYAH
Babak ketiga dalam drama besar politik Islam dibuka oleh Abu al Abbas(750-754) yang berperan sebagai pelopor. Irak menjadi panggung besar drama itu. Dalam khotbah penobatannya, yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid kuffah, khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya as-saffih, penumpah darah, yang kemudian menjadi julukannya. Julukan itu merupakan pertanda buruk karena dinasti yang baru muncul ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih mengutamakan kekuatan dalam menjalankan kebijakannya.Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam,disisi singgasana khalifah tergelar karpet yang digunakan sebagai tempat eksekusi.As-saffah menjadi pendiri dinasti Arab Islam ketiga setelah khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah yang sangat besar dan berlangsung lama.Dari 750 M hingga 1258 M penerus Abu al Abbas memegang pemerintahan,meskipun mereka tidak selalu berkuasa.Orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan Negara teokrasi,yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayyah. Sebagai ciri khas keagamaan dalam istana kerajaannya,dalam berbagai kesempatan seremonial, seperti ketika dinobatkan sebagai khalifah pada  shalat Jum’at, khalifah mengenakan Jubah(burdah) yang pernah dikenakan oleh saudara sepupunya, Nabi Muhammad.Akan tetapi,Masa pemerintahannya begitu singkat.As-saffah meninggal(754-775 M) karena penyakit cacar air ketika berusia  30-an.[9]
Saudaranya yang juga penerusnya,Abu Ja’far(754-775),yang mendapat julukan al-Manshur adalah khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah.Meskipun bukan seorang muslim yang shaleh, dialah sebenarnya bukan, bukan as-saffah,yang benar-benar membangun Dinasti baru itu. Dia dengan keras memnghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah,Khawarij dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaaan. Untuk mengamankan kekuatannya tokoh-tokoh besar  yang mungkin menjadi saingan baginya satu persatu disingkirkan. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah sebelumnya membebaskan diri dari pemerintahan pusat,dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan.Diantara usaha-usaha  tersebut dalah merebut benteng-benteng di Asia.
Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah harun al-Rasyid(786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M).Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi yang didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. Disamping itu pemandian-pemandian umum juga dibangun, tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, Ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah Negara Islam menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tak tertandingi. Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemah buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baith al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpusatakaan terbesar. Pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[10]
Diktum yang dikutip oleh seorang penulis antologi, ats-Tsa’alabi(w. 1038) bahwa dari khalifah Abbasiyah, “sang pembuka” adalah al-Manshur,”sang penengah” adalah al-Ma’mun dan sang penutup adalah Al-Mu’tadhid(892-902)[11]

B.    PERIODESASI KHALIFAH-KHALIFAH DINASTI ABBASIYAH
1.     Abbul Abbas Assafah
Ibrahim Al-Imam kakak Abbul Abbas adalah seseorang yang mampu bekerja keras mempropagandakan ketidakmampuan Marwan bin Muhammad dari dinasti Umayah untuk tetap bercokol menduduki khalifah memimpin umat Islam. Abbul Abbas Assafah memegang jabatan khalifah selama empat tahun yaitu yaitu tahun 132 sampai 136 H  atau tahun 750 sampai tahun 754 M.
2.     Abu Ja’far Al-Mansur (136-158 H/754-775 M)
Abu Ja’far Al-Mansur dinobatkan sebagai khalifah bertepatan pada hari wafatnya Abbul Abbas Assafah.Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kefakiman pimpinan pemerintahan,serta untuk membendung kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi yang bisa menggoyahkan Daulat Abbasiyah yang masih muda.
3.     Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M)
Atas usaha yang tak mengenal lelah dari Abu Ja’far Al-Mansur,maka keadaan dalam negeri telah mencapai kestabilan yang mantab,kalaupun ada keributan dan huru hara itu hanyalah merupakan perbuatan criminal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan politik.Selain stabilitas nasional yang mantab,Al-Mansur juga telah berhasil mewariskan devisa Negara yang besar.Hal ini bisa diwujudkan oleh Al-Mansur adalah berkat kehematan dalam mengatur anggaran Negara.Dengan demikian ketika Al-Mansur mewariskan palu estafet kepemimpinan Negara kepada putranya,yaitu Al-Mahdi maka Negara dalam keadaan aman sejahtera serta memiliki kekayaan yang cukup. 
4.     Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)
Musa Al-Hadi anak tertua dari Al-Mahdi memegang pimpinan pemerintahan Daulat Bani Abbas hanya selama kurang lebih setahun.Al-Hadi sebelum menjabat sebagai khalifah pernah bertugas di Masyrik.Pengalaman selama bertugas di Masyrik merupakan modal utama dalam menjalankan roda pemerintahannya.
Pembangunan tidak begitu berkembang pada masa Al-Hadi.Hal ini mungkin disebabkan karena masa jabatannya yang terlalu pendek.Kaum Zindiq yang telah ditumpas pada masa khalifah Al-Mahdi menunjukkan kegiatan pengacauan lagi pada masa Al-Hadi.Terhadap kaum Zindiq,Al-Hadi mengadakan gerakan sapu bersih seperti pada masa mendiang ayahandanya.
5.     Harun Al-Rasyid (170-193 H/786-809 M)
Sesuai dengan pesan ayahnya yaitu Al-Mahdi,maka pengganti Al-Hadi ialah Harun Al-Rasyid.Ketika dilantik sebagai khalifah dia baru mencapai usia duapuluh lima tahun,jabatan khalifah dipegangnya selama duapuluh tiga tahun.Harun AL-Rasyid adalah khalifah terbesar pada masa Bani Abbasiyah.Namanya terkenal dan disebut-sebut dari masa kemasa diseluruh penjuru dunia.Jasanya terlukis dalam sejarah dengan lembaran-lembaran emas.Tidak berlebih-lebih kiranya kalau kita menyebutkan,bahwasanya Rasyid adalah pelopor pembaharuan Negara Islam.Dia terkenal sebagai khalifah yang memiliki budi luhur dan mulia.Segala gerak dan amalannya senantiasa diniatkan untuk beribadah. 
6.     Al-Amin (193-198 H / 809-813 M)
Kecintaan Harun Al-Rasyid kepada anak-anaknya yaitu Al-Amin dan Al-Ma’mun adalah kecintaan yang ikhlas dari seorang bapak.Al-Ma’mun adalah putera dari Harun Al-Rasyid yang tua hanya saja ibu Al-Ma’mun bukan dari keluarga Abbas tapi berasal dari Persia.Sedang Al-Amin lebih muda dari Al-Ma’mun,tapi ibu Al-Ma’mun berasal dari keluarga Abbas.
Harun Al-Rasyid berusaha untuk bertindak sebagai seorang ayah yang adil terhadpa anak-anaknya.Menurut jalur keturunan maka Al-Amin mempunyai kedudukan lebih kuat untuk menggantikan sebagai khalifah,sebab bapak Al-Amin(Harun Al-Rasyid) adalah Abbas dan ibunya juga Abbasy(keluarga Abbasiyah),tapi umur Al-Amin lebih muda dari Al-Ma’mun lebih dahulu lahir oleh karena itu selayaknya kalau Al-Ma’mun yang menggantikan sebagai khalifah.Tapi dari segi orang yang menurunkan kedudukan Al-Ma’mun kurang kuat sebab yang Abbasy hanya ayahnya saja sedang ibu Al-Ma’mun bukan Abbasy yaitu Persia.
7.     Al-Ma’mun
Al-Ma’mun menduduki singgasana kekhalifahan dengan cara merebut kekuasan dari Al-Amin yang telah berbuat khianat terhadap amanat ayahandanya.Kurang lebih dua puluh tahun masa jabatanya yaitu sejak tahun 198-218 H bertepatan dengan tahun 813-833 M telah digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada Negara dan bangsanya.
Usia muda yaitu 28 tahun yang ditumpang dengan pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang luas yang dimiliki Al-Ma’muntelah berhasil menyelamatkan Daulah Abbasiyah dari kehancuran sebagai akibat ulah Al-Amin.Al-Ma’mun bukan saja sekedar menyelamatkan dari kehancuran,tetapi juga telah berhasil mengantarkan kearah puncak kejayaan dan zaman keemasan Daulat Abbasiyah sebagaimana yang telah dirintis oleh Harun Al-Rasyid.
8.     Al-Mu’tashim
Abu Ishak Muhammad bin Harun Al-Rasyid yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Mu’tashim menduduki jabatan khalifah pada tahun 218-227 H / 833-842 M.Sebagai kelanjutan peninggalan kebebasan berfikir pada masa khalifah Al-Ma’mun,maka terasalah pengaruh pada masa khalifah Al-Mu’tashim.Pada masa itu muncullah golongan yang disebut Mu’tazilah,yaitu golongan yang golongan yang menganggap bahwa kebenaran terletak pada fikiran dan akal.Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan akal dianggap tidak benar.Faham dari golongan ini menimbulkan penyimpangan yang tidak sesuai  denga ketentuan agama.Karena kenyataannya akal fikiran tidak mampu membentuk keseragaman kebenaran,maka akibatnya timbullah berbagai macam pendapat serta perselisihan yang membawa akibat perpecahan dikalangan mereka serta menimbulkan gangguan keamanan. 
9.     Al-Watsik
Al-Watsik menduduki jabatan khalifah pada tahun 227-232 H / 842-847 M.Abu Ja’far Harun Al-Watsik mempunyai tabi’at yang sangat berbeda dengan ayahandanya.Kalau ayahandanya mempunyai sifat keberanian sebagai seorang pemimpin perang,maka Al-Watsik,adalah seorang yang memilik tabi’at lemah lembut dan tidak begitu suka berperang.Dia adalah khalifah yang lebih suka damai dan menjalin persahabatan dengan kaum keturuna Ali bin Abi Thalib.
Tabi’at yang lemah lembut itu dimanfaatkan oleh para pejabat-pejabat yang berasal dari orang Turki peninggalan ayahandanya untuk memperbesar pengaruh dan kekuasaannya.Selama pemerintahan Al-Watsik pemberontakan dan kekacauan muncul lagi dengan subur.[12]
C.    KEMAJUAN-KEMAJUAN  YANG DICAPAI
Masa ini adalah masa keemasan atau maa kejaayaan umat Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek peradaban,kemajuan ini hampir mencakup semua aspek kehidupan,antara lain:
a.     Administratif Pemerintahan dengan Biro-bironya.
Dalam menjalankan sistem teknis pemerintahan,Dinasti Abbasiyah memiliki kantor pengawasan(dewan az-zimani) yang pertama kali dikenalkan oleh Al-Mahdi;dewan korespondensi atau kantor arsip(dewan at-tawqi) yang menangani semua surat resmi,dokumen politik serta Instruksi dan ketetapan khalifah; dewan penyidik keluhan; department kepolisian dan pos.Dewan penyidik keluhan(dewan an-nazhar fi al-mazhalini) adalah sejenis pengadilan tingkat banding,atau pengadilan tingkat tinggi untuk menangani kasus-kasus yang diputuskan secara keliru pada department administratif dan politik.
b.     Sistem Organisasi Militer.
Sistem militer terorganisasi dengan baik,berdisiplin tinggi serta mendapat pelatihan dan pengajaran secara regular.Pasukan pengawal khalifah(hams) mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai pasukan.Selain mereka,ada juga pasukan bayaran dan relawan,serta sejumlah pasukan dari berbagai suku dan distrik.Pasukan tetap(jund) yang bertugas aktif disebut murtaziqah (pasukan yang dibayar secara berkala oleh pemerintah).Unit pasukan lainnya disebut muta-thawi’ah(sukarelawan),yang hanya menerima gaji ketika bertugas.
c.     Wilayah pemerintahan.
Pembagian wilayah kerajaan Umayyah kedalam provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur(tunggal amir atau ‘amil) sama dengan pola pemerintahan pada kekuasaan Bizantium dan Persia.
d.     Pedagangan dan Industri.
Pada masa Abbasiyah ini masyarakat mampu mengimpor barang dagangan seperti rempah-rempah,kapur barus dan sutra dari kawasan Asia yang lebih jauh,juga mengimpor daging,kayu eboni,dan budak kulit hitam dari Afrika.Gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh Rothschild dan Rockfeller pada abad tersebut mungkin juga telah diraih oleh seorang penjual permata dari Baghdad,Ibn Al-Jashshash yang tetap kaya meskipun al-Muqtadir telah menyita hartanya sebesar 16 juta dinar,dan menjadi pengusaha permata,dan menjadi keluarga pertama yang dikenal dengan pengusaha permata. 
e.     Perkembangan Bidang Pertanian.
Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahannya berada di daerah yang sangat subur,ditepian sungai yang dikenal dengan nama Sawad.Pertanian merupakan sumbr utama pemasukan Negara dengan pengolahan tanah hampir sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli,yang statusnya mengalami peningkatan pada masa rezim baru.Lahan-lahan pertanian yang terlantar,dan desa-desa yang hancur diberbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap.
f.      Islamisasi Masyarakat.
Sebanyak 5000 orang Kristen Banu Tanukh di dekat Aleppo mengikuti perintah khalifah Al-Mahdi untuk masuk Islam.
g.     Bidang Kedokteran.
Minat orang arab terhadapa ilmu kedokteran diilhami oleh hadits Nabi yang membagi ilmu pengetahuan kedalam dua kelompok: teologi dan kedokteran.Dengan demikian,seorang dokter sekaligus merupakan seorang teolog.
Nama paling terkenal dalam catatan kedokteran Arab setelah Ar-Razi adalah Ibn Sina(Aviccena,yang masuk ke bahasa latin melalui bahasa Ibrani,Aven Sina, 980-1037), yang disebut oleh orang Arab sebagai Asy-Syaikh Ar-Ra’is, “pemimpin” (orang terpelajar) dan “pangeran” (para pejabat).Ar-Razi lebih menguasai kedokteran dari Ibn Sina,sedangkan Ibn Sina lebih menguasai filsafat dari Ar-Razi.Dalam diri seorang dokter,filsafat,dan penyair inilah,ilmu pengetahuan Arab mencapai titik puncaknya dan berinkarnasi.
h.     Pendidikan,Perpustakaan dan Toko Buku.
Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait Al-Hikmah (Rumah Kebijakan) yang didirikan oleh Al-Ma’mun (830 M) di Baghdad,Ibu Kota Negara.[13]
D.    FAKTOR-FAKTOR KEMUNDURAN DINASTI ABBASIYAH
v Faktor Intern
1)    Persaingan Antar Bangsa
Khalifah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayah berkuasa.Keduanya sama-sama tertindas.Setelah khalifah Abbasiyah berdiri,dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu.
2)    Kemerosotan Ekonomi
Khalifah Abbasiyah juga mengalammi kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dibidang politik.Pada periode pertama,pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya.Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta.Setelah khalifah memasuki periode kemunduran,pendapatan Negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar.Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan,banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat,doperingannya pajak dan banyaknya  dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti.Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah,jenis pengeluaran beragam,dan pejabat melakukan korupsi.[14]
3)    Konflik keagamaan
Sejak terjadinya konflik antara Mu’awiyah dan khalifah Ali yang berkahir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Mu’awiyah,Syi’ah dan Khawarij, ketiga kelompok ini senantiasa berebut pengaruh.Yang senantiasa berpengaruh pada masa kekhalifahan Mu’awiyah maupun kekhalifahan Abbasiyah adalah kelompok Sunni dan kelompok Syi’ah. [15]
4)    Perebutan kekuasan dari Kalangan Keluarga
Perebutan kekuasaan dimulai sejak masa Al-Ma’mun dengan Al-Amin,ditambah dengan masuknya unsur Turki dan Persia
v Faktor Ekstern
1)    Banyaknya Pemberontakan
Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh khalifah,akibat kebijakna yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam,secara real,daera-daerah itu berada dibawah kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan.Akibatnya provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbas.
2)    Dominasi Bangsa Turki
Kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran.Sebagai gantinya,para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang professional di bidang kemiliteran,khususnya tentara Turki,kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima.Pengangkatan militer inilah,dalam perkembangan selanjutnya,yang mengancam kekuasaan khalifah.Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut.
3)    Dominasi Bangsa Persia.
Masa kekuasaan Bangsa Parsi berjalan lebih dari 150 tahun.Pada masa ini,kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan diberbagai daerah muncul Negara-negara baru yang berkuasa dan membuat kemajuan dan perkembangan baru.[16]
E.    FAKTOR-FAKTOR KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH
v Faktor Intern
a)    Lemahnya semangat patriotisme Negara,menyebabkan jiwa jihad yang diajarakan Islam tidak berdaya lagi menahan segala amukan yang datang,baik dari dalam maupun dari luar.
b)    Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, sehingga kerusakan moral dan kerendahan budi menghancurkan sifat-sifat baik yang mendukung Negara selama ini.
c)     Tidak percaya pada kekuatan sendiri.Dalam mengatasi berbagai pemberontakan,khalifah mengundang kekuatan asing.Akibatnya,kekuatan asing tersebut memanfaatkan kelemahan khalifah.
d)    Fanatik mazhab persaingan dan perebutan yang tiada henti antara Abbasiyah dan Alawiyah menyebabkan kekuatann umat Islam menjadi lemah,bahkan hancur berkeping-keping.
e)     Kemerosotan ekonomi terjadi karena banyaknya biaya yang digunakan untuk anggaran tentara,banyaknya pemberontakan dan kebiasaan para penguasa untuk berfoya-foya.
v Faktor Ekstern
Disintegrasi,akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada politik,provinsi-provinsi tertentu dipinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah.Mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah,tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad.Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat,yang berate juga menghancurkan Sumber Daya Manusia (SDM).Yang paling membahayakan adalah pemerintahan tandingan Fatimiah di Mesir walaupun pemerintahan lainnya pun cukup menjadi perhitungan para khalifah di Baghdad.Pada akhirnya,pemerintah-pemerintah tandingan ini dapat ditaklukkan atas bantuan Bani Saljuk atau Buyah.[17]
PENUTUP
A.    Kesimpulan
A.    Pendirian Dinasti Abbasiyah.
Dinasti Abbasiyah dalam sejarah Islam mencapai masa kejayaan politik dan Intelektual mereka segera setelah didirikan.Kekhalifahan Baghdad yang didirikan oleh as-safah dan Al-Mansur mencapai masa keemasannya antara masa khalifah ketiga (Al-Mahdi),dan khalifah kesembilan(Al-Watsiq), dan lebih khusus lagi pada masa Harun Ar-Rasyid dan anaknya Al-Ma’mun. Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah harun al-Rasyid(786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M).
B.    Periodesasi Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah.
1.     Abbul Abbas As-safah.Yang berkuasa selama empat tahun,yaitu tahun 132-136 H / 750-754 M.
2.     Abu Ja’far Al-Mansur.Yang berkuasa selama duapuluh dua tahun,yaitu tahun136-158 H / 754-775 M.
3.     Al-Mahdi.Yang berkuasa selama sebelas tahun,yaitu tahun 158-169 H / 775-785 M.
4.     Musa Al-Hadi.Yang hanya berkuasa selama setahun pada tahun 169-170 H / 785-786 M.
5.     Harun Ar-Rasyid.Yang berkuasa selama duapuluh tiga tahun,yaitu pada tahun 170-193 H / 786-809 M.Sekaligus merupakan khalifah terbesar  pada masa Bani Abbasiyah,namanya terkenal dan disebut-sebut dari masa kemasa  diseluruh penjuru dunia.
6.     Al-Amin.Yang berkuasa selam lima tahun.Yaitu pada tahun 193-198 H /  809- 813 M.
7.     Al- Ma’mun.Yang berkuasa selama kurang lebih duapuluh tahun.Yang menduduki singgasana khalifah dengan cara merebut kekuasaan dari Al-Amin yang telah berbuat khianat terhadap amanat ayahandanya.
8.     Al-Mu’tashim.Yang berkuasa selama Sembilan tahun,yaitu pada tahun 218-227 H / 833-842 M.
9.     Al-Watsiq.Yang menduduki jabatan khalifah selama lima tahun,yaitu pada tahun 227-232 H / 842-847 M.
C.    Kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah antara lain : Administrasi pemerintahan dengan biro-bironya, System organisasi militer, Administrasi pemerintahan, Perdagangan dan Industri, Perkembangan bidang pertanian, Islamisasi Masyarakat, Bidang kedokteran dan Pendidikan.
D.    Faktor-faktor  kemunduran Dinasti Abbasiyah.
1.    Faktor Intern: Persaingan antar Bangsa, Kemerosotan Ekonomi, Konflik Keagamaan, dan Perebutan kekuasaan dari kalangan keluarga.
2.    Faktor Ekstern: Banyaknya pemberontakan, Dominasi bangsa Turki, dan Dominasi bangsa Persia
E.    Faktor-faktor Kehancuran Dinasti Abbasiyah.
1.     Faktor Intern: Lemahnya semangat patrotisme Negara, Hilangnya sifat amanah dalam segala perjanjian yang dibuat, Tidak percaya pada kekuatan sendiri, Fanatik mazhab, dan Kemerosotan ekonomi.
2.    Faktor Ekstern: Disintegrasi,akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada politik,provinsi-provinsi tertentu dipinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Maududi,Abul A’la.1978.Khilafah dan Kerajaan Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam.Bandung:Mizan.
Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur Majlis PPK.1982.Tarikh Islam.Surabaya: PMW Jatim MPPK.
Supriyadi, Dedi.2008.Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Yatim, Badri,.2003. Sejarah Perdaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada.






TIGA KERAJAAN BESAR
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdat runtuh akibat serangan Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secra drastis. Wialayah kekuasaan Islam tercabik-cabik menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa pusat kebudayaan Islam hancur pada serangan mongol tersebut, buku-buku hasil karya ulama Islam dibakar dan ditenggelamkan, cendekiawan dan ulama Islampun dibunuh secara sadis hal itu menjadikan umat Islam ketinggalan ilmu pengetahuan dalam beberapa dasawarsa.
Keadaan politik Islam baru mengalami kemajuan kembali dan berkembang pada saat munculnya tiga kerajaan besar yaitu Usmani di Turki, Mughol di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani yang paling awal berdiri, paling besar dan juga paling lama bertahan dibanding dua kerajaan sebelumnya.
Walau tidak sebesar kerajaan Islam sebelumnya dizaman awal perkembangan Islam, dengan adanya ketiga kerajaan tersebut telah menorehkan sejarah akan eksisnya peradaban Islam yang hingga saat ini masih bisa kita rasakan kebesarannya.
B.   Rumusan Masalah
a.       Sejarah berdirinya tiga kerajaan besar
b.       Peradaban yang dicapai tiga kerajaan besar
c.        Perbedaan Kemajuan masa ini dengan masa klasik

BAB II
PEMBAHASAN

A.        SEJARAH BERDIRINYA TIGA KERAJAAN BESAR
Kerajaan Usmani, didirikan oleh bangsa Turki kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri cina. Mereka masuk Islam sekitar abad IX atau X, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Dibawah tekanan serangan-serangan mongol pada abad XIII, mereka melarikan diri ke barat dan meminta perlindungan pada saudara mereka orang Turki Saljuk. Mereka mengabdikan diri pada pemerintah Turki Saljuk yaitu Sultan Alauddin.
Setelah bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alaudin meninggal, kabilah Oghuz yang dibawah pimpinan Usman I memerdekakan diri dan  Usmani I mengumumkan diri sebagai Padiyah Al Usman (Raja besar keluarga Usman). Turki Usmanipun terus melebarkan kekuasaannya tidak hanya di Asia tapi juga ke Eropa. Turki Usmani mencapai puncak kejayannya pada masa pemerintahan Raja Murod II atau yang lebih dikenal Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M) karena keberhasilannya dalam menaklukan konstantinopel pada tahun 1453 M. Dan pada pemerintahan Sultan Sulaiman Al Qonuni yang meluaskan kerajaan Turki Usmani hingga meliputi Asia, Afrika dan Eropa.
Kerajaan Safawi, berasal dari sebuah gerakan tarekat yag berdiri di Ardabil sebuah kota di Azerbaijan yaitu tarekat Safawiyah yang didirikan oleh Safi Ad-Din (1252-1334). Beliau keturunan Imam Syi’ah yang ke enam, Musa Al Kazhim. Gurunya yang juga mertuanya adalah Syeikh Taj Al Din Ibrahim Al Gilani. Dari gerakan tarekat akhirnya safawiyah menjadi gerakan politik saat gerakan ini dipimpin oleh Junaid. Pada tahun 1505 setelah mengalahkan musuh-musuhnya dalam beberapa pertempuran, gerakan safawi dibawah kepemimpinan Ismail dan pasukannya yang dinamai Qizilbash (baret merah) memprokalimirkan diri berdirinya Dinasti Safawi.
Kerajaan Safawi mengalami masa kejayaan pada pemerintahan raja safawi yang ke 5 yaitu Abbas I (1588-1628 M), langkah yang dilakukan dalam mempernaiki kerajaan Safawi : pertama berusaha menghilangkan pengaruh kuat pasukan qizilbash pada pemerintahan, kedua melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Turki Usmani.
Kerajaan Mughol, berada di India dengan New Delhi sebagai ibukotanya, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M) Salah satu cucu dari Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza penguasa Ferghana. Pada tahun 1494 M dengan bantuan Raja safawi, Ismail 1 ia menguasai Samarkand, pada tahun 1504 M Ia menduduki Kabul Ibukota Adganistan. Pada tanggal 21 April 1526 terjadi pertempuran hebat di Panipat antara Babur dengan Ibrahim Lodi penguasa India, akhirnya Babur bisa memasuki New Delhi sebagai pemenang dan menegakan pemerintahan di sana. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughol di India.
Mughol mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Akbar putra Hamayun, cucu dari Babur. Dengan memerintah secara militeristik ia berhasil menstabilkan krajaan dan mengembangkan kekuasaan hingga wilayah-wilayah di India. Pemerintah daerah dipegang oleh sipah salar (kepala Komandan), sedangkan sub distrik dipegang oleh faujdar (komandan), jabatab-jabatan sipil pun diberi kepangkatan bercorak kemiliteran. Selai itu sultan Akbar juga menerapkan politik sulakhul (toleransi universal) yaitu semua rakyat di India dipandang sama.

B.      PERADABAN YANG DICAPAI TIGA KERAJAAN BESAR
Kerajaan Usmani
-          Di Bidang Militer
Militer Turki adalah militer yang tangguh dan Kuat. Selain didukung pemimpin yang kuat didukung pula para tentaranya yang memiliki keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan yang sanggup bertempur kapan dan dimana saja. Apalagi setelah Orkhan yang melakukan perombakan besar-besaran ditubuh militer Turki. Orkhan melakukan pembenahan dan membentuk pasukan baru yang disebut Jennissari atau Inkisyariah yang berasal dari orang-orang non Turki dan Islam. Selain itu dibentuk pula pasukan yang disebut Thoujiah. Pasukan laut pun tidak luput dari restrukturisasi sehingga pada abad 16 angkatan laut Turki mengalami masa kejayaannya. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh dengan cepat mampu menguasai  wilayah yang luas baik di Asia, Afrika dan Eropa.
-          Dibidang Kebudayaan dan bangunan
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan kebudayaan Bizantium, persi dan Arab. Dari kebudayaan persia mereka mengambil ajaran tatakrama dan etika dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran mereka belajar dari Bizantium. Dan dari Arab Islam mereka belajar prinsip-prinsip sosial, ekonomi, keilmuan, huruf dan kemasyarakatan.
Hasil karya masa kejayaan peradaban Turki Usmani masih dapat dilihat dalam beberapa bangunan Masjid spt : masjid Jami Sultan Muhammad Al Fatih, Masjid Agung Sulaiman, Masjid Abi Ayub Al Anshari, dan yang paling terkenal adalah Aya Sopia yang awalnya dulu adalah sebuah Greja. Pada masa Sulaiman dikota-kota besar banyak dibangun masjid,sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa dan pemandian umum. Disebuatkan bahwa 235 buah bangunan dibangun dibawah pengwasan kontraktor saat itu Sinan, seoran arsitek dari Anatolia.
-          Dibidang Keagamaan
Agama dalam tradisi turki mempunyai peranan yang besar dalam lapangan sosial dan politik. Fatwa Ulama menjadi hukum yang berlaku oleh karenanya peranan ulama mempunyai peranan besar dalam masyarakat dan negara. Mufti adalah pejabat urusan agama yang tertinggi. Dalam hal keagamaan Tarikat juga mengalami kemajuan yang pesat. Dua tarekat yang berkembang pesat adalah tarekat Bektasy yang banyak diikuti oleh para tentara dan tarekat maulawi yang banyak didukung oleh para penguasa. Pemerintahan Turki Usmani lebih cenderung menegakkan satu paham (mazhab) saja dan menekan madzhab yang lain. Akibatnya terjadi kejumudan, tiada pintu ijtihad dan terjadi fanatik pada aliran seperti aliran Asy’ariyah.
Kerajaan Safawi
-          Di Bidang Ekonomi
Perekonomian maju pesat pada masa pemerintahan Abbas, lebih lagi setelah kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Bandar ini banyak menampung kapal-kapal dari eropa seperti Prancis, Belanda dan Inggris.
-          Bidang Keilmuan
Dalam sejarah Islam bangsa persia dikenal sebagai bangsa dengan peradaban yang tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, hal ini diteruskan pula oleh kerajaan Safawi dengan para ilmuwan di istana kerajaan. Seperti Baha Al Din Al Syareza seorang teknokrat, Sadar Al Din Al Syareza seorang filosof, dan Muhammad Baqir ibn Muhammad damad seorang sejarawan, teolog, filosof.
-          Di Bidang Seni dan Bangunan
Bangunan megah dan indah bisa dilihat dikota Isfahan ibu kota krajaan safawi. Dikota itu berdiri bangunan-bangunan besar dan indah, masjid, rumah sakit sekolah, jembatan raksasa dan juga istana. Ketika raja Abbas wafat di Isfahan terdapat 162 masjid, 48 akdemik, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.
Selain bisa dilihat dari bangunan istana dan masjid-masjid nya seni peninggalan kerajaan safawi juga  bisa dilihat dari seni kerajinan tangan, karpet, permadani, pakaian, tenunan, tembikar dan juga seni lukis.
Kerajaan Mughol
-          Di Bidang Ekonomi
Kesetabilan Mughol pada masa Al Akbar  membawa kemajuan dalam bidang-bidang lain seperti pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Dalam bidang pertanian komunikasi petani dan pemerintah bisa berjalan dengan baik. Deh adalah unit lahan pertanian terkecil, beberapa deh bergabung dalam pargana (desa). Komunitas petani diketuai oleh muqoddam. Dengan ini pemerintah berkomunikasi dengan petani. Hasil pertanian seperti padi, biji-bijian, kacang dll selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga di ekspor ke eropa, afrika, arabia dan asia tenggara.
-          Dibidang Seni dan bangunan
Banyak lahir penyair-penyair terkenal seperti Malik Muhammad Jayazi seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar padmavat. Pada masa aurangzeb muncul sejarawan bernama Abu Fadl yang menulis AKHBAR NAMA dan AINI AKHBARI yang menceritakan kebesaran kerajaan mughol dengan figur kepemimpinannya.
Seni bangunan yang masih bisa dinikmati sampai saat ini seperti Istana Fatpur Sikri di Sikri yang dibangun pada zaman Akbar. Pada masa syah Jihan dibngun Istana Indah di Lahore, Masjid Raya New Delhi dan Taj Mahal di Agra.
C.      PERBEDAAN KEMAJUAN MASA INI DENGAN MASA KLASIK
Ada beberapa alasan mengapa kemajuan yang dicapai itu tidak setingkat dengan kemajuan yang dicapai umat Islam pada masa klasik.
a.       Metode berpikir dalam bidang teologi yang berkembang pada masa ini adalah metode berpikir tradisional. Dalam pemikiran Asyariyah, perbuatan manusia tidak dipandang efektif, perkembangan sejarah lebih ditentukan oleh kekuasaan Allah.
b.       Pada masa klasik Islam , kebebasan berpikir berkembang dengan masuknya pemikiran filsafa yunani. Hal ini menurun dengan pendapat Imam Ghozali mengkritik pemikiran filsafat dengan bukunya Tahafut Falasifah
c.        Lahirnya ajaran tasowuf tumbuh secara pesat ditengah umat Islam. Diantara ajaran Tasawuf yang mengekang kretifitas umat adalah Tawakal dan zuhd.
d.       Hancurnya sarana pembelajaran umat seperti perpustakaan dan buku-buku terjemahan dari berbagai bangsa seperti yunani, persia, india dan syiria saat penyerangan tentara mongol di bumi Islam.
e.        Kekusahaan Islam pada masa Turki lebih banyak berfokus pada militer atau peperangan dari pada ilmu pengetahuan.
f.        Pusat-pusat kekuasaan Islam tidak hanya di wilayah arab saja sehingga bahasa yang digunakan juga bukan bahasa arab. Akibatnya bahasa arab mengalami penurunan bukan lagi menjadi bahaa pemersatu dan bahasa ilmiah.

BAB III
Penutup

Kesimpulan :
Kemajuan dan kemunduran sebuah bangsa sudah menjadi sunatullah. Yang meninggikan dan menjatuhkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan sejarah tersebut kita bisa mengambil sebuah pelajaran bagaimana usaha kita agar sebuah bangsa itu bisa melakukan kemajuan atau mengalami kemunduran karena semuanya pasti ada sebab dan akibatnya.
Cita-cita tinggi, ilmu pengetahuan, dan disertai kedisiplinan menjadi syarat utama tercapainya sebuah kemajuan sebuah bangsa sebagaimana bangsa Turky Usmani, selanjunya politik yang adil memandang semua dan mensejahterakan rakyatnya akan menjadikan stabilitas sebuah bangsa bisa tercapai sebagaimana yang dilakukan raja Akbar dari kerajaan Mughol yang memandang rakyat adalah sama. Selain memandang rakyat dalam posisi yang sama dan adil sebagai syarat kesetabilan adalah merekatkan persaudaraan dan menjauhi permusuhan sebagaimana yang dilakukan oleh raja Abbas dari kerajaan Safawi yang membuat perjanjian perdamaian dengan kerajaan Turky. Dengan tercapainya kestabilan politik maka perekonomian, pengetahuan, dan pembangunanpun akan mengalami kemajuan sebagaimana yang diharapkan.
Dan sumber dari keruntuhan sebuah bangsa jika masyarakat dan pemerintahannya sudah tidak mengindahkan aturan agama, mengejar harta, dan jabatan semata, menghalalkan segala cara dengan melakukan korupsi, penindasan bagi yang lemah, rebutan kekuasaan yang berakibatkan kemerosotan moral rakyat dan penguasa yang membawa kehancuran sebuah negara.
Sebagai pendidik para guru punya peran utama dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan mewariskan kebaikan sehingga mencetak generasi yang bisa membawa perubahan bagi peradaban dimasa yang akan datang.



RENAISSANCE EROPA DAN KEMUBDURAN ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
Peradaban yang dalam bahasa arab di sebut tamadun, hadharah dan umran merupakan inti dari maju mundurnya suatu negara ataupun agama. Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi kuno, China kuno, disebut sebagai Negara yang maju disebabkan mereka mempunyai peradaban yang maju. Malah ketika Negara mereka hancur, perdaban mereka terus bertahan dan bisa mempengaruhi perdaban-perdaban yang lain.
Islam sebagai suatu agama yang lahir melalui kerasulan nabi Muhammad s.a.w. membawa perdaban baru bagi dunia ini, sehingga Islam dalam waktu 23 tahun dapat mempengaruhi peradaban paganisme jahiliyah bangsa Arab, dilanjutkan pengaruhnya terhadap peradaban-perdaban lain oleh perjuanagan para sahabat dengan penyebaran agama Islam keseluruh penjuru jagat raya ini. Sehingga Samuel Huntington dalam tesisnya clash of civilization, menjadikan peradaban Islam sebagai ancaman terbesar bagi peradaban barat masa kini.
Sudah menjadi hukum alam jika suatu peradaban di dunia ini terpuruk, maka ia akan mengadopsi peradaban yang lebih maju. Islam yang mengalami masa kejayaan dari mulai akhir masa kekhalifahan bani Umayyah, dilanjutkan kemajuan pada masa kekhalifahan bani Abassiah dan mengalami kemunduran dengan runtuhnya kekhalifahan bani Utsmaniyyah oleh gerakan sekularisasi Kamel Ataturk di Turki. Harus mengakui bahwa di akhir abad 19 ini Islam banyak mengadopsi perdaban Barat sebagai satu langkah memejukan kembali peradabannya yang telah terpuruk. Sehingga di akhir abad 20 masehi ini umat Islam di banjiri dengan berbagai pergerakan, terutama pergerakan yang bersifat Ishlahiyah atau Ashriyah.
Bangsa eropa yang sebelumnya belajar pada orang muslim, yang selanjutnya meningkatkan teknologi yang diperoleh dari sekolah islam yang selanjutnya dikembangkan sendiri sehingga bangsa eropa mampu mengalahkan peradaban umat muslim, dan bahkan orang muslim belajar kepada bangsa eropa.
1.2          RumusanMasalah
                Berdasarkan rumusan masalah diatas maka muncullah beberapa masalh yang akan dibahas dalam makalah ini, diantarany?
1.             Mengaapa Islam mengalami Kemunduran?
2.             Bagaimana terjadinya Renaissace Eropa?

1.3          Tujuan
1.       Mengetahui kemunduran peradaban islam yang disebabkan reisance eropa.
2.        Mengetahui terjadiya Reisance eropa.
PEMBAHASAN
2.1          Kemajuan Eropa( Barat)
                Bersamaan dengan kemnduran tiga kerajaan besar islamdi periode pertengahan sejarah islam, Eropa Barat, sedang mengalami kemajuan dengan pesat.hal ini berbandig terbalik dengan masa klasik sejarah islam. Ketika itu, peradaban islam dapat dikatakan paling maju, memancarkan sinarnya ke seluruh dunia, sementara eropa sedang dalam masa kebodohan dan keterbelakangan.
                Kemajuan eropa memang bersumber dari khasanah dan pengetahuan dan metode berfikir islam yang rasional. Di  antara saluran masuknya peradaban islam ke eropa itu adalah perang salib, silicia,dan yang terpenting adalah spanyol islam.Ketika islam mengalami kejayaan di spanyol, bnayak orang eropa yang datng kesana untuk belajar,kemudian menerjemahkan karya- karya ilmiah umat islam.  Hal ini dimulai sejak abad ke-12 M. Setelah mereka pulang ke negeri masing- masing, mereka mendirikan universitas dengan meniru pola islam dan mengajarkan ilmu- ilmu yang di pelajari di universitas- universitas Islam itu. Dalm perkembnagn selanjutnya, keadaan ini melahirkan renaissance, reformasi, dnan rasionalismedi eropa.
                Gerakan- gerakan renaisans melahirkan perubahan- perubahan besar dalamsejarah dumia. Abad ke-16 dan ke-17 M merupakn abad yang palingpenting bagi eropa, sementara pada akhir abad ke-17 itu pula, dunia islam mulai mengalami kemunduran. Dengan lahirnya renaisnace, eropa bnagkit kemblai untuk mengejarketinggalan meraka pada masa kebodohan dan kegelapan. Mereka menyelidiki rahasia ala, menaklukkan lautan, dan menjajahi benua yang sebeumnya masih diliputi kegelapan. Banyak penemuan- penemuan  dalm segala lapangan ilmu pengetahuan dan kehidupan yang mereka peroleh. Chistoper Colombus pada tahun 1492 M, menemukan benua Amerika dan Vasco da Gama tahun 1498 M, menemukan jalan ke timur melaui tnajung harapan. Dengan dua temuan ini, eropa memperoleh kemajuan dalm dunia perdagangan, karena tidak bergantung lagi pada jalur lama yang dikuasai umat islam.
                Terangkatnya perekonomian bangsa- bangsa eropa disusul pula dengan penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Perkembangn itu semakin dipercepat setelah mesin uap ditemukan, yang kemudian melahirkan revolusi industri di eropa. Teknologi perkapalan dan militer berkembang debngan pesat. Dengan demikian, eropa menjadi penguasa lautan dna bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawn- lawan yang masih menggunakan persenjataan tradisional.
Sementara itu, kemrosotan kaum muslimin tidak terbatas dari bidang  ilmu dan kebudayaan saja, melainkan di segala bidang. Mereka ketinggalan dari eropa dalam industri perang, padahal keunggulan turki usmani di bidang ini pada masa- masa sebelumnya diakui oleh seluruh dunia.
Dengan organisasi dan persenjataan yang modern passukan perang eropa mampu melancarakan pukulan telak terhadap daerah- daerah kekuasaan islam, seperti kerajaan ustmani ketiak berhadapan dengan kekuatan- ketuatan eropa dan kerajaan Mughol dan ketika berhadapan dengan Inggris. Daerah-mdaerah kekuasaan islam lainnya juga mulai berjatuahn ke tangan eropa. Seperti asia tenggara, bahakan mesir. Salah satu peradaban islam terpenting diduduki Napoleon bonaparte dari Prancis pada tahun 1798 M.
Benturan- benturan antara kerajaan islam dan kekuatan eropa itu menyadarkan umat islam bahwa merewka memang sudah jauh tertinggal dari eropa. Kesadaran itulah yang menyebabkan umat islam di masa modern terpaksa harus banyak belajar dari eropa. Perimbangan kekuatan antara umat islam vdan eropa berubah dengan cepat. Diantara kemajuan eropa dan kemunduran islam terbenang jurang yang sangat lebar dan dalam. Dalam perkembanagan berikutnya, daerah- daerah islam hampir seluruhnya berada di bawah kekuasaan bangsa eropa.
2.2          Renaisance Eropa
Pada awal kebangkitannya, Eropa menghadapoi tantangan yang sangat berat. Di hadapannya masih terdapat kekuatan- kekuatan perang islam yang sangat suliut dikalahkan, tetutama kerajaan utsmani yang berpusat di turki. Tidak ada jalan lain, mereka harus menembus lautan yang sebelumnya hanya dipandang sebaagi dindinguyang membatasi gerak mereka. Mereka melakukan berbagai penelitian untuk membedah rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan, dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan. Setelah christoper colombus menemukan benua Amerikadan Vasco de Gama menemukan jalan ke timur melalui tanjung Harapan, benua  Amerika dan Kepulauan hindia segera jatuh ke tangan kekuasaan Eropa. Dua penemuan itu, sungguh tak terkirakan nilainya, Eropa menjadi maju dalam dunia perdagangan, karena tidak tergantung lagi pada jalur lama yang dikuasai umat islam. Lautan yang sebelumya dianggap sebagai tembok dengan sekejap mata dinding laut berubah menjadi jalan raya dan eropa yang semula terpojok segera menjadi yang dipertuankan di laut dan degan demikian, yang dipertuan di dunia. Terjadilah perputaran nasib yang maha hebat dalam seluruh umat manusia.
Perekonomian bangsa- bangsa eropa pun semakin maju karena daerah- daerah baru terbuka baginya. Mereka dapat memperoleh kekayaan yang tak terhingga untuk meningkatkan kesejahteraan negerinya.  Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan barat melampaui kemajuan islam yang sejak lama mengalami kemunduran. Kemajuan barat itu dipercepat penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Penemuanmesin uap yang kemudian melahirkan revlusi industri di eropa semakin memantapkan kemajuan mereka. Teknologi perkapalan dan militer berkembang dengan pesat. Dengan demikian, eropa menjadi penguasa lautan dan bebas melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan dari dan ke seluruh dunia, tanpa mendapat hambatan berarti dari lawan – lawan mereka. Bahkan, satu demi satu negeri islam jatuh ke bawah kekuasaannya sebagai negeri jajahan.
Negeri- negeri islam yang pertama kali jatuh ke bawah kekuasaan eropa adalah negeri- negeri yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan Usmani, karena kerajaan ini meskipun terus mengalami kemunduran, ia masih disegani dan dipandang maih cukup kuat untuk berhadapan dengan kekuatan militer eropa waktu itu. Negeri negeri islam yang pertama dapat dikuasai barat itu adalah negeri negeri islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua india. Sementara, negeri- negeri islam di timur tengah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani, baru diduduki Eropa pada masa berikutnya. 
Selama ini banyak diantara muslimin yang melupakan sejarahnya sendiri, sehungga mereka hanya mengenal barat sebagai penggagas mutlak terjadinya revolusi ilmu pengetahuan di abad ke-17 M, padahal sepuluh abad sebelumnya umat Islam sudah mulai mempelajari ilmu pengetahuan.
Terbukti, pada akhir abad ke-7 M Khalid bin Yazid (cucu pertama dari khalifah Bani Umayyah) merupakan yang pertama dalam sejarah kekhalifahan umat Islam yang belajar Ilmu kesehatan kepada John (seorang ahli bahasa dari Alexandria) dan beliau juga belajar kimia kepada Marrinos dari Yunani.Setelah itu di mulailah penerjemahan besar-besaran yang dilakukan pada zaman Bani Abassiyah. Perpustakaan Bait al-Hikmah yang didirikan oleh khalifah al-Ma’mun berisi para penerjemah yang terdiri dari orang Yahudi, Kristen dan para penyembah Bintang. Di antara para penerjemah yang cukup terkenal dengan produk terjemahannya itu adalah Yahya ibn al-Bitriq (wafat 200 H/ 815 M) yang banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran pemikir Yunani, seperti Kitab al-hayawan (buku tentang makhluk hidup) dan Timaeus karya Plato. Al-Hajjaj ibn Mathar yang hidup pada masa pemerintahan al-Ma’mun dan telah menerjemahkan buku Euklids ke dalam bahasaArab serta menafsirkan buku al-Majisti karya Ptolemaeus. Abd al-Masih ibn Na’imah al-Himsi (wafat 220 H/ 835 M) yang menerjemahkan buku Sophistica karya Aristoteles. Yuhana ibn Masawaih seorang dokter pandai dari Jundisapur (Wafat 242 H/ 857 M) yang kemudian diangkat oleh khalifah al-Ma’mun sebagai kepala perpustakaan bait al-hikmah, banyak menerjemahkan buku-buku kedokteran klasik. Seorang penerjemah yang sangat terkenal karena banyak terjemahan yang dilahirkannya adalah Hunain ibn Ishaq al-Abadi yang merupakan seorang Kristen Nestorian (194-260 H/ 810-873 M).
Selain Bait al-Hikmah, pada Awal 750 M Harun Ar-Rsyid mendirikan Observatorium di Damaskus didalamnya banyak ahli astronom Islam yang mengadakan penelitian dibidang Astronomi sehingga lahirlah para Astronom Islam seperti al-Farghani (850M), Ibnu Yunis (1009 M) dari Kairo, Al-Zarkali (1029-1087 M) dari Kordoba. Kemudian diatara ilmuan Muslim yang ahli dalam bidang Matematik adalah Al-Khawarizmi (835 M) Ibnu Abi Ubaidah (1007 M) dari Valencia dan lain-lain. Dalam bidang Kimia kita mengenal Muawiyyah, Ja`far Muhammad al-Shadiq (765 M), Jabir bin Hayyan (765 M) al-Razi dan lain-lain. Dalam bidang Fisika ada, Qutb al-Run al-Shirazi, Ibn al-haitham dan al-Biruni.Dalam Ilmu Filsafat peripatetik dapat kita lihat pada gejala Aristotelianisme. Para filsuf Islam yang masuk dalam kategori filsuf peripatetik diantaranya adalah Ibnu Bajjah (wafat 533 H/ 1138 M), Ibnu Tufail (wafat 581 H/ 1185 M) dan Ibnu Rushd (520-595 H/1126-1198 M). Dalam Filsafat iluminasi yang dalam bahasa Arab disebut dengan Hikmat al-Isyraq dapat kita ikuti jejaknya mulai dari al-Maqtul Syihab al-Din al-Suhrawardi. Ia lahir di Aleppo, Suriah pada 1154 dan dihukum mati oleh Shaladin pada 1191 atas tuduhan kafir seperti yang diklaim oleh para teolog dan fuqaha.Dan terakhir tokoh Ilmu kalam Al-Ghazali dengan karya controversialnya Tahafut al-Falsafah.
Abad 13 M merupakan akhir dari pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, setelah itu kekacauan demi kekacauan terjadi dalam Islam, antara lain penjajahan bangsa Mongolia terhadap Islam pada tahun 1218-1268 dan meletusnya perang salib Konstatinopel Bizantium pada tahun 1204. Disusul Imprelialisme Perancis atas Timur tengah pada tanggal 19 Mei 1798 yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte dengan membawa 38.000 perajurit dan 400 kapal. Napoleon mendaratkan 4300 perajurit di Alexandria untuk merebut kota tersebut. Napoleon membangun kerajaan di Mesir kemudian ia membawa kaum intelektual dan bersamanya sebuah perpustakaan yang penuh dengan literature Eropa modern, Sebuah laboratrium ilmiah dan sebuah mesin cetak berhuruf Arab. Kaum muslimin harus rela kehilangan kesejahtraan dalam hidupnya dan kehilangan berbagai cabang keilmuan akibat penjajahan yang menyedihkan. Sehingga mereka tidak bisa mengenbangkan kembali Ilmu Pengtahuan yang diwariskan para leluhurnya.
Kehancuran Otoritas Gereja dan Lahirnya Renaissance Eropa
Kristen yang mulai tersebar secara resmi tahun 328 M merupakan agama terbesar di dunia dengan jumlah penganut mencapai 1.965.993.000 pada tahun 1998 dan di perkirakan pada tahun 2025 akan naik menjadi 2.25 milyar. Dibalik angka kuantitas yang menakjubkan, penganut agama yang di bawa oleh nabi Isa a.s. ini terdapat berbagai keracuan yang menjadikan para penganutnya hanya sebatas mengakui beragama Kristen akan tetapi tidak menjadikannya sebagai way of life.
Kerancuan yang ada dalam Kristen hampir terdapat disetiap batang tubuh Agama, Pertama, masalah ketuhanan Trinitas terpengaruhi oleh Filsafat Neo Platonis, Paganisme Mesir Kuno (Hores, Isis, Seroyes) dan Paganisme Rumania Kuno (Yupiter, Mars, Korneos). Kedua, Masalah syariat yang banyak dirubah dari ajaran aslinya, seperti khitan menjadi tidak ada, babi menjadi halal dan lain sebagainya, Ketiga, Kerahiban yang bertentangan dengan Fitrah manusia seperti tidak boleh nikah dan lain-lain. Keempat, Kapitalisme Pendeta yang banyak mempunyai hektaran tanah dan ratusan budak-budak. Kelima, Masalah Paulus. Dan yang paling inti dari terjadinya renaissance barat adalah Ketujuh, Pertentangan gereja dengan Ilmu Pengetahuan.
Dari kerancuan-kerancuan tersebut timbul kritikan dari para pengikutnya diataranya, Nicolaus Copernicus (1543 M)-seorang pendeta- mencetuskan teori Helio Centris. Teori tersebut menentang kebijakan gereja yang selama ini mempunyai faham filsafat Ptolemaeus yang mengatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya, Faham Copernicus lansung di bungkam oleh pihak gerja akan tetapi pihak gereja tidak memberikan hukuman terhadap Copernicus dikarenakan dia adalah seorang pendeta. Pihak gereja hanya melarang bukunya yang berjudul “De Revolutionibus“, tersebar dan memasukannya terhadap buku-buku Terlarang. Faham Helio Centris tidak padam begitu saja, pada tahun 1594 Gardano Bruno melakukan hal yang sama seperti perndahulunya Copernicus, akan teatapi dia bernasib lain, akibat teorinya dia harus mendekam di penjara selama enam tahun dan pada tahun 1600 M dihukum mati dengan dibakar hidup-hidup. Faham Helio Centris kemudian dikumandangkan kembali oleh fisikiawan Jerman Johannes Kapler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642) dengan penemuan teleskop sederhana yang menjadikan dia (Galileo) harus di penjara hingga umur 70 tahun, kemudian dia bertobat dikarenakan ketakutan nasibnya akan sama dengan Bruno.
Pada Tahun 1642 bertepatan dengan meninggalnya Galileo lahirlah ilmuan baru Ishac Newton, seorang penemu teori Gravitasi Bumi, sehingga dengan penemuanya dia berhasil mendobrak kebodohan Gereja dan mengubah worldview baru bagi eropa dalam memahami agama.New ton bukan saja menkritik gereja dalam masalah sains akan tetapi dia juga mengkritik teori Trinitas, seperti yang dikatakan dalam bukunya The Philosophical Origins of Gentile Theology, bahwa sebenarnya nabi Nuh telah membuat agama bebas tahayul dimana tidak ada kitab suci yang berisi wahyu-wahyu dan tidak ada lagi misteri , tapi Tuhan yang bisa dikenal melalui perenungan Rasional terhadap alam semesta.Pada Tahun 1670 M dia mengumumkan bahwa ajaran trinitas dibawa oleh Athanasius untuk mencari muka orang-orang pagan yang baru masuk agama Kristen sekaligus Athanius sendiri yang memberikan tambahan-tanbahan terhadap Injil Sehingga Newton berakhir pada kesimpulan bahwa Tuhan bisa di capai oleh akal melalui perenungan alam semesta -seperti tokoh pendahulunya Rene Decrates- bukan melalui al-kitab.
Keruntuhan otoritas Gereja menjadikan bangsa Eropa terbagi menjadi dua aliran dalam memahami Agama, Pertama, Aliran Deisme, dimana aliran ini masih mempercayai akan adanya Tuhan tapi tidak mempercayai akan ayat-ayat tuhan. Tokoh-tokohnya antara lain: Rene Decrates (1596-1650 M), Martin Luther(1483-1556 M), Huldrych Zwingli (1483-1556 M), John Calvin (1509-1564 M), Ishac Newton (1642-1724 M), John Lock (1632-1704), Immanuel Khan (1724-1804 M) dan para pengikut-pengikut mereka seperti Calvinis (Pengikut John Calvin), Lutheran ( Pengikut Martin Luher). Diantara ajaran-ajarannya yang paling mendasar adalah: Pertama, Beriman kepada satu Tuhan yang disebut “Deus”melalui kotemplasi akal baik melalui Mekanika (seperti Newton) atau Matematika (seperti Decrates). Kedua, Tidak mempercayai mitos wahyu, Ketiga, Tidak mempercayai mukjizat yang bersifat misterius dan bertentangan dengan akal sehat. Keempat, mempercayai Tuhan sebegai pencipta alam dari ketiadaan (Cratio ex nihilo).Kelima, membagi kehidupan kepada: Alam, Tuhan dan Akal.
Aliran Kedua, adalah Atheisme atau Materialisme, yang pertama meluncurkan gagasan ini adalah George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831 M) dengan menyatakan dalam bukunya Phenomenology of Mind (1807 M) bahwa Roh Universal hanya bisa mencapai kesempurnaan jika ia menenggelamkan dirinya kedalam kondisi-kondis batas ruang dan waktu; Roh universal paling mungkin di wujudkan dalam pikiran manusia. Jadi, manusai juga harus mencampakan konsep lama tentang Tuhan transenden, supaya ia dapat memahami bahwa dirinya memiliki sifat Tuhan juga. Selanjutnya gagasan secular Hegel dilanjutkan muridnya Ludwig Feuerbach (1804-1872 M) yang menyatakan bahwa agama dapat memisahkan manusia dari Tuhan, Tuhan itu sempurna sedangkan manusia tidak, Tuhan itu abadi sedangkan manusia fana, Tuhan itu maha kuasa sedangkan manusia lemah. Karl Marx (1818-1883 M), menulis dalam buku Economic and Philosophical Manuscript, bahwa agama merupakan gejala masyarakat yang sakit, agama adalah candu masyarakat yang bisa menerima system social yang ruksak. Agama menghilangkan keinginan untuk menemukan obat dengan mengalihkan perhatian dari dunia ini kepada akhirat. Ketidak percayaan atas Tuhan dibuktikan pula secara `Ilmiah` oleh Charles Darwin (1809-1882 M), dalam buku kontrofersinya The Origin of Species by Means Natural Selection (1859) dengan teori evolusinya, ia menolak teori yang telah lama dipercayai Gereja yaitu teori cratio ex nihilo. Dengan teorinya tersebut, Darwin mencoba memisahkan interfensi Tuhan dalam penciptaan alam dan kehidupan mahluk hidup di dunia ini. Atheisme berpuncak pada deklarasi kematian Tuhan pada tahun 1882 oleh Friedrich Nietzsche (1844-1900 M) melalui bukunya The Gay Science.
Kedua faham inilah yang merasuki masyarakat Eropa dari mulai akhir abad ke 17 masehi sampai sekarang, sebagai konsekwensi sekaligus rival atas kebobrokan otoritas gereja yang selama beratus-ratus tahun bangsa Eropa merasa di bodohi dan di kekang olehnya. Sehingga mereka menamakan jaman sebelum revolusi dan reformasi sebagai The Dark Age dan menamakan jaman setelahnya sebagai Renaissance.
Kita sebagai umat Islam mempunyai sejarah masa silam yang berbeda dengan Eropa, dimana kita mempunnyai kemajuan baik dibidang moral dan ilmu pengetahuan diamasa lalu. Islam memberikan ajaran yang bisa dipahami oleh akal manusia, dari mulai masalah ketuhanan sampai masalah kitab suci dan kenabian, tidak pernah ada pertentangan yang serius didalamnya. Lalu setelah peradaban kita terpuruk pada abad ke 18 M, haruskah kita menyalahkan dan mengkritik ajaran Agama Islam di masa lalu (Turats) yang sudah terbukti berjaya beratus-ratus tahun?, haruskah kita ikut-ikutan mengkritik -sebagaimana orang Eropa terhadap agama kristen- ajaran agama kita dari mulai masalah ketuhanan, kitab suci, kenabian, hadits nabi dan lain sebagainya, padahal masalah-masalah tersebut sudah diakui dan tidak ada perselesihan serius selama berabad-abad sebelum masa keterpurukan?, apakah keterpurukan peradaban kita sekarang disebabkan masa lalu kita atau disebabkan kesalahan kita dalam memahami Islam?, lalu haruskan kita mengadopsi seluruh peradaban barat sebagai upaya memajukan kembali peradaban kita? Ataukah kita kembalikan pemahaman kita sebagaimana yang difahami orang-orang Islam dimasa keemasan peradaban Islam?.
Kemunduran Di Bidang Pendidikan
Ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikatakan macet total. Tidak ada buku-buku baru yang dihasilkan, paling-paling hanyalah berupa komentar dari buku-buku yang telah ada, dan bahkan komentar dari komentar. Kebiasaan menulis komentar-komentar yang sistematis, pada mulanya selalu disertai dengan penulisan karya-karya asli. Pada abad ke 6 H/ 12 M misalnya Fakhrudin Al-Razi menulis sebuah komentar atas Ibnu Sina, tetapi juga mengarang beberapa karya yang independen. Tetapi atas komentar, hingga karya yang asli yang menjadi subyek komentar tersebut hampir sama sekali terlupakan. Karya-karya tertentu mengenai teologi dogmatis tertimbun dalam lebih dari setengah lusin lapisan komentar. Komentar- komentar yang kemudian bahkan merosot menjadi catatan-catatan pinggir saja, dan biasanya menyengkut perbedaan-perbedaan pendapat yang superficial dan perbedaan-perbedaan verbal saja. Ini semua bersama dengan ringkasan-ringkasan yang singkat membentuk kurikulum madrasah.
Biasanya, kurikulum dilaksanakan atas metode urutan mata pelajaran. Jadi sebagai contoh urutan tersebut misalnya : bahasa dan tata bahasa arab, kesusastraan, ilmu hitung, filsafat, hukum, yurisprudensi, Teologi, Tafsir Al-Qur’an dan Hadis. Si murid melewati kelas demi kelas dengan menyelesaikan satu mata pelajaran dan memulai lagi satu mata pelajaran lain ang elbh tinggi. Dengan sendirinya system ini tidak memberikan banyak waktu untuk setiap mata pelajaran. Tetapi ini juga bukanlah satu-satunya metode yang dipakai. Seringkali seorang murid mulai dengan suatu ringkasan dalam sebuah mata pelajaran, dan di kelas selanjutnya ia mempelajari pelajaran yang sama dengan detail-detail yang lebih terperinci dan disertai dengan komentar-komentar. Tugas guru adalah mengajarkan komentar-komentar orang lain, di samping teks aslinya, dan biasanya tanpa menyertakan komentarnya sendiri dalam mata pelajaran-mata pelajaran mana yang lebih tinggi dari yang lain.
Kebekuan intelektual dalam kehidupan kaum muslimin yang diwarnai dengan berbagai macam aliran sufi yang karena terlalu toleran terhadap ajaran mistik yang berasal dari agama lain (Hindu, Budha, maupun Neo Platonisme), telah memunculkan berbagai macam tarikat yang menyimpang jauh dari ajaran Islam. Tariqat-tariqat tersebut dalam perkembangannya dan dalam penerimaan masyarakat menjadi semacam agama popular (populer religion).

BAB III
PENUTUP
3.1          Kesimpulan
                Dapat dikatakan bahwa peradaban islam pada masa ni tidak mengalami kemajuan tapi malah mendapat kepurukan, hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di Eropa yang mengalami kemajuan oesat di berbagai ilmu pengetahuan dan tenologi. Bangsa eropa telah menemukan jalur timur sebagai jalan laut untuk perdagangan, sehingga Eropa menjadi lebih maju di berbagai bidang.
Ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikatakan macet total. Tidak ada buku-buku baru yang dihasilkan, paling-paling hanyalah berupa komentar dari buku-buku yang telah ada, dan bahkan komentar dari komentar. Kebiasaan menulis komentar-komentar yang sistematis, pada mulanya selalu disertai dengan penulisan karya-karya asli. Pada abad ke 6 H/ 12 M
Penulis mengajak kepada seluruh umat Islam diseluruh penjuru untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, Jangan silau dengan kemajuan barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi karena kita sudah lebih dulu menggapainya. Perlu diketahui, walaupun Barat maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi akan tetapi mereka terbelakang dalam masalah moral. Tinggalkan kemalasan dan kejorokan yang sudah mendarah daging selama ini. Kita mencontoh para Ilmuan kita yang gigih dalam mencari ilmu sehingga kita mencapai kesuksesan di dunia dan akhirat.

Daftar Pustaka

Yatim, Badri. 2010, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Supriyadi, Dedi. 2008.  Sejarah Peradaban Islam, Bandung; CV Pustaka Setia.
http://pwkpersis.wordpress.com/. Diunduh tanggal 01 Desember 2011



PERADABAN EROPA

  1. LATAR BELAKANG
`               Andaikata Baghdad tidak jatuh ke tangan pasukan Tartar (mongol) pada tahun 1258 m. yang di susul dengan penghancuran pusat-pusat keilmuan di kota ini, dan andaikata bangsa barat tidak menemukan jalur perdagangan laut pada abad ke-15, entah seperti apa hebatnya dunia islam sekarang,Sayangnya, sejarah tidak bisa di ajak ber andai-andai. Sejarah adalah fakta dan realitas yang telah terjadi, karena itulah ia di sebut sejarah dan jarum jam tak bisa di putar mundur.[18]
                Adalah betul secara Historis islam tidak selamanya selalu berada di puncak keemasanya. Bukti nyata sejarah islam selalu tidak terlepasakan dengan empat fase, yaitu fase pembentukan, kemajuan, kemunduran, dan kehancuran. Akan tetapi, menurut Amin Abdullah, Islam di pandang dari sudut normativitasnya merupakam agama yang mengajak pada kemajuan. Oleh karena itu, silih bergantinya fase-fase Islam, pada akhirnya, secara normatif. Meskipun hanya tataran konseptual, Islam senantiasa menyandang dan mengandung ajaran kemajuan
                Jatuh bangunya dunia Islam setelah terlihat semenanjuk di porak-porandakan Baghdad pada abad ke-17 di susul turki, syafawi, dan India abad ke-17-18. menurut catatan sejarah, sejak menjelang abad ke-18 barat sudah mulai memasuki ujung garis wilayah Ialam di Erpa Timur dan di kepulauan Hindi. Selama abad ke-18 dan memasuki abad ke-19, satu demi satu wilayah Islam mulai di masuki dan selanjutnya paruh ke dua abad ke-19, satu demi satu negeri Islam dikuasai dan diduduki. Inggris menguasai Mesir dan India, Rusia menguasai kaukasus dan Asia Tengah, Perancis dan Italia menaklukkan Afrika utara, Jerman menguasai Turki dan beberapa negara Eropa lainya tak mau ketinggalan turut pula mengambil bagian tersendiri, seperti Belanda yang menguasai Indonesia, dan Itali yang menguasai Tripoli.
                Dengan berahirnya tiga kerajaan Islam tersebut dan tampilnya kekuatan Barat yang menguasai ekonomi dan Politik dunia Islam yang berjumlah minoritas, atau adanya Imigran dari Negara-negara Islam yang kalah perang baik di Eropa Timur atau Barat.[19]


  1. RUMUSAN MASALAH

    1. Bagaimana Islam masuk di Eropa?
    2. Bagaimana Pengaruh Peradaban Islam di Eropa?
    3. Bagaimana Kemajuan dan Kemunduran Islam di Eropa?


  1. TUJUAN MASALAH

    1. Mahasiswa tahu bagaimana Islam masuk di Eropa?
    2. Mahasiswa tahu Bagaimana Pengaruh Peradaban Islam di Eropa?
    3. Mahasiswa tahu Kemajuan dan Kemunduran Islam di Eropa?







PEMBAHASAN

  1. Masuknya Islam ke Eropa.
Suku gothic masuk eropa pada abad ke-5 yakni memasuki Eropa bagian Barat,yaitu golia (perancis) dan Iberia (Sepanyol dan Portugal). Adapun suku-suku ber-ber dari daerah-daerah sungai vistula dan sungai Order (jerman) dating berbondong bondong memasuki daerah bayem (Bavaria) di sebelah tenggara Jerman. Dari sini sebagian dari mereka menyebar sampai ke Galia dan Iberia. Di Iberia orang Vandal menempati dua daerah, yang sekarang dikenal dengan nama Spanyol dan Portugal. Di semenanjung  Iberia ini orang Vandal memberi nama bagi daerah pemukimanya sesuai dengan nama suku mereka sendiri, yaitu Vandalusia, yang kemudian hari berubah sedikit menjadi Andalusia atauAndalus.[20]
                Islam merupakan Agama kedua terbesar setelah Kristen, dari total populasi, di perkirakan umat Islam di Eropa berjumlah 5,4% yang berkonsentrasi di eropa bagian timur, terutama di Balkan dan Kaukasus. Di eropa barat konsentrasi umat Islam terdapat di sekitar perancis, jerman dan Inggris.[21]
Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur Afrika Utara di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad yang memimpin angkatan perang Islam untuk membuka Andalusia
Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik.
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif ibn Malik dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh  harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya menaklukkan kota-kota penting seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu). Sebelum menaklukkan kota Toledo, Thariq meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Lalu dikirimlah 5000 personil, sehingga jumlah pasukan Thariq 12000 orang. Jumlah ini tidak sebanding dengan pasukan ghothic yang berjumlah 25.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Musa bin Nushair pun melibatkan diri untuk membantu perjuangan Thariq. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717 M, dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan  kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal.[22]


  1. Pengaruh Peradaban Islam di Eropa

Sebagai Batu loncatan/ penyeberangan peradaban atau kebudayaan Islam keEropa di kenal dengan:Andalus, Sicilia, dan perang Sali. Atau bisa kita katakan lewat selatan Perancis, selatan Italy, lembaga-lembaga penterjemahan di utara Spanyol, Perancis dan Italy. Di samping itu tidak boleh kita lupakan peranan perdangan kaum muslimin antara Negara-negara Islam sampai ke Eropa dan juga ke Asia.
Sehubungan dengan tersiarnya Islam pada waktu-waktu tertentu di Daerah-daerah Eroap Timur atau lainya, juga dari segi peninggalan-peninggalan peradaban Islam, maka tidak dapat di lupakan Futuhstul Islamiyah dan apa yang dibawa oleh tentara-tentara Islam ketika memasuki daerah baru ada yang menetap dan ada juga yang hanya meninggalkan bekas-bekas peninggalanya. Sepertihalnya perpelancongan ( Arrihlah) Orang-orang Islam ke berbagai Tempat, mereka ini memberikan peninggalan-peninggalan tersiarnya Islam atau peradabanya. Dari hasil perpelancongan ini memberikan peninggalan geografi atau penulisan-penulisan  khusus tentang rakyat di daerah yang di kunjunginya
Namun demikian, dari sekian banyak peradaban Islam ke Eropa, maka Andalus lah yang mempunyai peran utama. Baik melalui perpindahan ilmu pengetahuan yang tumbuh subur di Andalus atau melalui ilmu yang berkembang di Timur Tengah (Islam) dan berpindah ke Eropa via Andalus atau lewat perang salib, dll.[23]
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian, dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik. Yang terpenting di antaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). la melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpikir. la mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas.
Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas pertama eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman Pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[24]Di Andalus terdapat markas pusat penterjemahan sebagaimana di Eropa. Ada orang-orang yang meluangkan waktunya khusus untuk menukil manuskrip-manuskrip di Andalus lalu di bawa ke Eropa.[25]

  1. Kemajuan dan Kemunduran Islam di Eropa

  1. Kemajuan.
Abad ke-16 dan ke-17M merupakan masa terpenting dalam sejarah umat Manusia. Pada masa itu Eropa bangkit kembali. Dan dengan segala kekuatanya mengejar ketertinggalanya pada zaman kebdohan dan kegelapanya. Orang-orang Eropa bangkit menyelidiki rahasia alam semests, menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan, mereka membuat penemuan baru dalam segala lapangan  ilmu dan seni dsan dalam setiap lapangan kehidupan dan muncullah tokoh-tokoh cemerlang dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti Copernicus, Bruno, Galileo, Kepler, Newton, dan lain-lainya yang telah memberikan prinsip-prinsip lama di bidang ilmu pengetahuan.[26]
Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd Al Rahman Al-Dakhil, Abd Al-Rahman Al-Wasith dan Abd Al-Kahman Al-Nashir.
Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting di antara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad Ibn Abd Al-Rahman (852-886) dan Al-Hakam II Al-Muntashir (961-976).
Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga, mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing-masing.
Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat api yang disebut kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik pada masa Muluk Al-Thawa’if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan, merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, Kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti (raja) di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan Iain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan satu-satunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk Al-Thawa’if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang di antaranya justru lebih maju.
  1. Kemunduran
1. Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa Muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata.38 Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.[27]
2. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau di tempat-tempat lain, para mukalaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para mukalaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, di samping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.[28]
3. Kesulitan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga lalai membina perekonomia. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.
4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini.
5. Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. la selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dan Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana.[29]
               
  1. Kemajuan.
Abad ke-16 dan ke-17M merupakan masa terpenting dalam sejarah umat Manusia. Pada masa itu Eropa bangkit kembali. Dan dengan segala kekuatanya mengejar ketertinggalanya pada zaman kebdohan dan kegelapanya. Orang-orang Eropa bangkit menyelidiki rahasia alam semests, menaklukkan lautan dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi kegelapan, mereka membuat penemuan baru dalam segala lapangan  ilmu dan seni dsan dalam setiap lapangan kehidupan dan muncullah tokoh-tokoh cemerlang dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti Copernicus, Bruno, Galileo, Kepler, Newton, dan lain-lainya yang telah memberikan prinsip-prinsip lama di bidang ilmu pengetahuan

PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Islam merupakan Agama kedua terbesar setelah Kristen, dari total populasi, di perkirakan umat Islam di Eropa berjumlah 5,4% yang berkonsentrasi di eropa bagian timur, terutama di Balkan dan Kaukasus. Di eropa barat konsentrasi umat Islam terdapat di sekitar perancis, jerman dan Inggris. Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur Afrika Utara di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad yang memimpin angkatan perang Islam untuk membuka Andalusia
Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik.






PERADABAN ISLAM DI ASIA



[1] Samsul Munir Amin Amzah, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, 2009, hlm. 282
[2] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang, Toha Putra, 2002, hlm. 50
[3]Ibid. hlm. 50
[4] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta, Logos, 1997, Hlm. 27
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, PT Grafindo Persada, 1993, hlm. 25
[6] Samsul Munir Amin Amzah, Sejarah Peradaban Islam, Op-Cit, Hlm.69
[7] Nurul Aen, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2008, Hlm. 64
[8] Samsul Munir Amin Amzah, Sejarah Peradaban Islam, Op-Cit, Hlm.70
[9]Dedi Supriyadi,Sejarah Peradaban Islam,(Pustaka Setia:Bandung,2008)  h.128
[10] Badri Yatim,Sejarah Peradaban IslamDirasah Islamiyah II (PT.RemajaGrafindo Persada,2003) h.52-53
[11] Dedi Supriyadi,op.cit h 129
[12]Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur,Tarikh Islam(PMW Jatim MPPK:Surabaya,1982) h, 55-73.

[13]Ibid,h 129-137
[14] Badri yatim,op.cit h, 80-82
[15] Dedi supriyadi,Loc.cit h.137
[16]Ibid h.138-139
[17]Ibid h 140-141
[18] Dedi supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. ( Bandung: Cv pustaka setia) hlm: 305.
[19] Ibid. hlm: 306
[20]  Mhammad Tohir. 1981. Sejarah Islam dari Andalus sampai Indus. ( Jakarta: Pt Dunia pustaka Jaya)
[21]  Ade Armando. 2001. Ensiklopedi Islam untuk Pelajar.jilid 6.( Jakarta: Pt Ichtiar Baru Van Hoeve)
[22]http: // aagun74alqobas.wordpress.com/2011/05/01.Sejarah-peradaban-Islam-di-Eropa-711m-1492m.
[23]Drs Abdullah salim.1980. Sumbangsih Andalusia kepada Dunia Barat ( Kendal: Cv Abdillah putra)hlm:7
[24]http: // aagun74alqobas.wordpress.com/2011/05/01.Sejarah-peradaban-Islam-di-Eropa-711m-1492m.
[25] Ibid. hlm:7
[26] Ab,ul hasan ali al-nadwi. Islam membangun Peradaban Dunia.(Jakarta: Pustaka jaya dan djambatan)
[27]Badri yatim, op.cit. hlm:107
[28] Ibid. hlm:107
[29] http: // aagun74alqobas.wordpress.com/2011/05/01.Sejarah-peradaban-Islam-di-Eropa-711m-1492m

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar